TITUS YEKWAM: DARI PEMBURU CENDERAWASIH MENJADI PENJAGA HUTAN
Pagi belum benar-benar pecah ketika Titus Yekwam melangkah masuk ke hutan di sekitar Kampung Nanggouw. Tanah basah meredam bunyi pijakannya. Di antara rimbun dedaunan, suara burung bersahutan, sementara cahaya pertama perlahan menyusup dari sela-sela kanopi. Titus mengenal jalur itu seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Ia tahu pohon tempat cenderawasih biasa hinggap, waktu burung-burung itu muncul, bahkan tanda-tanda kecil yang kerap luput dari mata orang lain. Dahulu, pengetahuan itu membawanya masuk ke hutan dengan senapan angin. Kini, ia datang membawa teropong, kamera, dan buku catatan lapangan.
Perubahan benda di tangannya menandai perubahan yang jauh lebih besar dalam hidup pemuda 25 tahun itu. Titus, yang pernah memburu cenderawasih, kini menjadi pemandu ekowisata lokal di Kampung Nanggouw, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat Daya. Hutan yang dahulu ia masuki untuk mengambil kehidupan kini ia jaga agar tetap menjadi rumah bagi burung-burung surga Papua. Di depan rumahnya yang menghadap Gunung Toweu, Titus mengenang masa ketika cenderawasih masih dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Di balik gunung itu terbentang hutan lebat, tempat burung-burung tersebut hidup dan menari di antara pepohonan.
“Zaman dulu, kami tidak mengerti apa-apa. Burung cenderawasih dianggap biasa saja. Bahkan, kami menganggapnya sebagai hama di kebun,” tuturnya. Tatapannya menerawang, seolah mengikuti kembali bayangan dirinya yang berjalan ke rimba dengan senapan angin. Saat itu, perburuan menjadi bagian dari kehidupan sebagian warga sekaligus jalan singkat untuk memperoleh penghasilan. Bulu cenderawasih dijual dengan harga murah kepada pedagang keliling. Dagingnya dimakan atau dibagikan dalam pesta adat. Pengetahuan mengenai perlindungan satwa masih terbatas, larangan belum dipahami kuat, dan setiap tembakan dilepaskan tanpa kesadaran bahwa satu demi satu suara hutan sedang menghilang.
Ada satu pengalaman yang hingga kini melekat dalam ingatan Titus. Dalam sehari, ia pernah menembak 20 ekor cenderawasih—10 betina dan 10 jantan. Keindahan bulu burung-burung itu sempat menimbulkan kebanggaan seorang pemburu. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. “Bulunya indah sekali. Tetapi ketika saya memegang burung-burung yang sudah mati itu, saya merasa ada yang hilang dari hutan ini. Suara mereka tidak lagi terdengar pada pagi hari,” katanya pelan. Di hadapannya terbaring tubuh-tubuh yang beberapa saat sebelumnya masih hidup dan bergerak bebas di antara dahan. Saat itulah Titus mulai memahami bahwa peluru kecil dari senapan anginnya bukan sekadar merobohkan seekor burung. Setiap tembakan turut merenggut tarian, suara, dan keindahan yang tidak mudah digantikan. Kesadaran itu tidak datang sebagai nasihat panjang, melainkan sebagai rasa kehilangan yang tumbuh perlahan dan terus mengusik batinnya.

Jalan baru terbuka ketika program ekowisata berbasis masyarakat diperkenalkan di Kampung Nanggouw dengan dukungan WWF-Indonesia Program Papua dan pemerintah daerah. Pada mulanya, Titus ragu. Sulit baginya membayangkan bahwa burung yang selama ini diburu dapat memberi manfaat ekonomi hanya dengan dibiarkan hidup di habitatnya. Keraguan itu berubah ketika ia menyaksikan wisatawan datang dari jauh untuk melihat dan memotret cenderawasih yang menari di alam bebas. Burung yang sebelumnya dinilai dari bulunya ternyata jauh lebih berharga ketika tetap hidup. Kehadirannya dapat mendatangkan wisatawan berulang kali, sekaligus membuka penghasilan bagi pemandu, keluarga, dan masyarakat kampung. “Satu kali wisatawan datang, pendapatannya bisa setara dengan menjual puluhan bulu cenderawasih. Yang terpenting, burung itu masih ada besok, masih ada lusa, dan anak cucu kita masih bisa melihatnya,” ujar Titus.
Sejak bergabung dengan Kelompok Ekowisata Nanggouw, Titus meninggalkan senapan anginnya. Ia belajar menjadi pengamat, bukan lagi pemburu. Pengalamannya membaca hutan tidak dibuang, melainkan diarahkan untuk tujuan yang berbeda. Ia mempelajari pola tarian setiap jenis cenderawasih, waktu terbaik untuk mengamatinya, serta perilaku burung-burung itu agar wisatawan dapat melihat dari jarak aman tanpa mengganggu habitatnya. Pengetahuan yang dahulu digunakan untuk melacak mangsa kini menuntunnya menemukan lokasi pengamatan terbaik. Titus mengenali pohon-pohon tempat burung bertengger, jalur pergerakan hariannya, sumber pakan alami, dan sudut-sudut tersembunyi di dalam hutan. Di tangan Titus, pengetahuan lokal menjadi jembatan antara wisata dan konservasi.
Namun, kekuatan terbesar Titus bukan hanya kemampuannya membaca rimba. Ia berbicara dari pengalaman seorang pemburu yang pernah merasakan penyesalan. Karena itu, ketika ia mengajak wisatawan maupun pemuda kampung untuk menghentikan perburuan, pesannya tidak terdengar seperti teori yang datang dari luar. Pesan itu lahir dari luka yang pernah ia buat sendiri dan tekad untuk memperbaikinya. “Saya sudah merasakan keduanya: kepuasan sesaat ketika membunuh dan kebahagiaan sejati ketika melihat mereka hidup bebas. Saya memilih yang kedua,” tegasnya. Pilihan Titus perlahan menggerakkan orang lain. Sejumlah mantan pemburu di Nanggouw mulai mengikuti jejaknya. Bersama warga, mereka melakukan patroli mandiri pada pagi dan malam hari untuk mencegah perburuan liar di kawasan hutan kampung. Mereka yang dahulu mengetahui jalan masuk menuju burung-burung itu kini berdiri sebagai penjaga gerbang rimba. Senapan angin yang pernah menjadi kebanggaan kini tergantung sebagai pengingat akan masa lalu. Di luar rumah, cenderawasih masih menari di atas dahan. Bagi Titus, pemandangan itu menghadirkan kebahagiaan yang tidak pernah ia temukan ketika pulang membawa burung mati di tangannya.

Kisah Titus menunjukkan bahwa perubahan dalam konservasi tidak selalu bermula dari aturan besar atau ruang-ruang pengambilan keputusan. Perubahan dapat tumbuh dari sebuah kampung, dari seseorang yang berani menatap kesalahannya, lalu memilih jalan lain. Di Nanggouw, ekowisata bukan sekadar cara baru memperoleh penghasilan. Ia memberi kesempatan kepada manusia untuk berdamai dengan hutan dan mengubah pengetahuan berburu menjadi pengetahuan menjaga. Kini, setiap kali Titus membawa wisatawan menyusuri hutan, ia tidak hanya menunjukkan tempat cenderawasih menari. Ia sedang memperlihatkan bahwa kehidupan yang dibiarkan tetap hidup dapat memberi manfaat lebih panjang daripada keindahan yang direnggut sesaat. Selama suara cenderawasih masih terdengar pada pagi hari dan sayapnya masih membelah rimbun hutan Tambrauw, harapan itu tetap ada—bukan hanya bagi burung surga Papua, tetapi juga bagi generasi yang kelak mewarisi hutannya.