PELATIHAN PENDIDIKAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI JANTUNG BORNEO
Bagaimana jadinya bila para guru berdebat terkait keuntungan yang diperoleh oleh Pulau Kalimantan dengan semakin meningkatnya permintaan minyak kelapa sawit?
Beberapa kelompok guru pun mulai terbentuk dan terbagi kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok yang setuju dan kelompok yang tidak setuju dengan pendapat di atas. Kedua kelompok besar ini masing-masing menyampaikan pendapat untuk mempertahankan pendapat mereka. Berbagai alasan mereka sampaikan, bahkan juga beberapa pengalaman yang mereka rasakan langsung dengan keberadaan kebun sawit. Namun kedua kelompok guru itu tetap bertahan pada pendapat mereka, yang satu setuju sementara kelompok yang lain tetap menyatakan tidak setuju.
Diskusi ini merupakan bagian dari materi metode belajar dalam Pelatihan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development – ESD) yang dilaksanakan oleh WWF Indonesia pada 11 – 13 Februari 2014 di Kabupaten Nunukan dan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan dan Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD). Peserta pelatihan berjumlah 24 guru, yang merupakan perwakilan sekolah yang terdiri atas SD, SMP dan SMA di Kabupaten Nunukan. Metode pelatihan lebih menekankan pada praktek/simulasi metode belajar yang dapat diterapkan oleh guru-guru kepada peserta didik dalam proses belajar di sekolah. Beberapa metode lain yang juga digunakan dalam pelatihan ini adalah: 1. Membuat cerita dengan merangkai hubungan antara kondisi sosial/masyarakat, ekonomi, dan lingkungan; 2. Bekerja dengan metaphora – sistem berfikir; 3. Berfikir multidisiplin; dan 4. Belajar di luar kelas.
Disamping dengan metode praktek/simulasi juga disampaikan materi tentang program-program pelestarian lingkungan hidup, upaya pelestarian Jantung Kalimantan (Heart of Borneo), ecological footprints, dan materi tentang konsep-konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Pada hari terakhir guru-guru diminta untuk menyusun isu-isu terkait sosial – ekonomi – lingkungan yang terdapat di Kabupaten Nunukan, dimana isu-isu tersebut kemudian dibedah dengan menggunakan metode peta berfikir. Hasil diskusi terkait isu-isu tersebut kemudian coba dintegrasikan ke dalam silabus kurikulum 2013 baik untuk tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun menengah (SMA).
Dalam sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan yang disampaikan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar, Nurdin Sade, mengatakan bahwa aspek lingkungan sangat penting sekali dalam proses untuk membentuk suatu karekter peserta didik sehingga peka dan peduli terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. “Yang terpenting adanya pembentukan karakter, karena kedepannya salah satu persoalan yang kita akan hadapi adalah persoalan kerusakan lingkungan. Dan ini juga salah satu dari latar belakang Pemerintah untuk kedepannya,” demikian ditambahkannya.
Di hari terakhir (Rabu,13 Februari 2014) para peserta menyampaikan komitmennya untuk menerapkan metode belajar yang digunakan selama pelatihan dan mengimplementasikan konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di sekolah masing-masing. Namun mereka juga berharap agar proses pelatihan tidak dilaksanakan sekali saja namun dilanjutkan dengan pelatihan lanjutan dengan fokus mengintegrasikan isu-isu lokal ke dalam silabus kurikulum 2013 serta pendampingan bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Nunukan.
Selain di Kabupaten Nunukan, ESD juga melaksanakan kegiatan di beberapa Kabupaten lainnya yang terletak di kawasan HoB. Diantaranya di Kabupaten Kutai Barat – Kalimantan Timur dengan mengadakan sebuah Workshop Rumah Belajar “Pustaka Borneo” yang meliputi kegiatan a). management perpustakaan, b). pengenalan dan pengoperasian website, c). pelatihan penulisan dan fotografi. Pembentukan dari konsep Rumah Belajar dimaksudkan agar sekolah tidak hanya dijadikan sebagai tempat belajar bagi siswa, tetapi harus dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar sekolah. Hal ini juga bertujuan untuk membangun peran serta aktif masyarakat secara maksimal di dalam dunia pendidikan dan pelestarian lingkungan. Selain itu juga dilakukan evaluasi program ESD di sekolah-sekolah dampingan WWF-Indonesia, yakni di SDN 006 Long Iram, SDN 01 Barong Tongkok dan SDN 010 Jambuk Makmur.
Selanjutnya di Kabupaten Melawi pada 18 – 21 Februari 2014, Tim ESD menggelar sebuah Workshop “Green Enterpreneurship” dimana bertujuan untuk memperkenalkan langkah–langkah kewirausahaan yang ramah lingkungan kepada pengajar sehingga dapat disampaikan kepada anak didik.