LEPAS DARI KETERGANTUNGAN BAHAN BAKAR FOSIL
Rasio elektrifikasi di Indonesia ditargetkan mencapai 60 persen pada tahun 2008 dengan pertumbuhan permintaan listrik sebesar 6-7 persen setiap tahunnya. Pertumbuhan tersebut dipenuhi oleh Pemerintah melalui penambahan pembangkit-pembangkit baru bertenaga bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas) maupun dari sumber-sumber energi terbarukan, ini berarti sekitar 1500-2000 MW listrik harus ditambahkan ke dalam jaringan per tahunnya.
Sayangnya, Pemerintah memutuskan untuk membangun PLTU Batubara 10.000 MW untuk mempercepat pasokan listrik. Penambahan pembangkit listrik tenaga batubara dapat dipastikan akan menambah parahnya permasalahan pemanasan global. Sebagai catatan, 40 persen dari sumber emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global datangnya dari sektor ketenagalistrikan.
Permasalahan krisis listrik di Indonesia menjadi tanggung jawab banyak sektor. PLN mengakui bahwa kekurangan pasokan batu bara yang terjadi beberapa waktu terakhir karena gejala alam seperti ombak tinggi dan angin kencang yang mengakibatkan sirkulasi kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara tidak berani berlayar. Dari pihak produsen batu bara mereka mengakui bahwa tunggakan pembayaran batu bara yang menjadi alasan kenapa pasokan tersebut terhambat. Menurut pengakuan PT Adaro dan PT Sumber Segara Prima, PLN telah menunggak pembayaran selama 5 bulan dengan nilai tunggakan sebesar Rp 68 Miliar. PLN juga masih menunggak tagihan ke Pertamina dari pembelian BBM untuk mengoperasikan pembangkit listriknya.
Situasi yang tidak menentu tersebut mendorong masing-masing daerah mengkaji potensi energinya masing-masing dalam menyediakan energi listrik bagi masyarakatnya, apalagi untuk daerah di luar jaringan Jawa-Madura-Bali (Jamali). Indonesia sendiri memiliki 40 persen potensi geothermal dunia, dan 25 persen dari angka tersebut terdapat di Jawa Barat. Indonesia juga memiliki potensi tenaga matahari sebagai negara tropis, serta tenaga ombak sebagai negara pemilik garis pantai terpanjang ke-3 di dunia, potensi-potensi tersebut harus terus dikaji dan dikembangkan.
Sebagai contoh, di daerah kepulauan seperti Wakatobi, tengah dikaji berbagai potensi energi terbarukan untuk menyokong kebutuhan akan listrik. Kelapa yang berlimpah dapat menghasilkan kopra sebagai bahan bio-diesel untuk menyalakan genset, lalu di beberapa tempat dapat memanfaatkan angin untuk menggerakkan turbin, serta sinar matahari untuk sel-sel surya.
© WWF-Indonesia / Aulia RAHMAN
Potensi-potensi tersebut dapat berbeda di setiap daerah, seperti di Nusa Penida, Bali, yang mencanangkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (angin) untuk menghasilkan listrik sebesar 160 KW. Kerjasama banyak pihak mutlak diperlukan agar pertumbuhan ekonomi dapat terus didorong oleh penyediaan energi listrik, serta melepaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil yang semakin mahal dan tidak ramah lingkungan.(aul)