KETIKA FOLKLORE BERTEMU GOOGLE EARTH: MERAWAT RUANG HIDUP AP IWOL, MENJAGA MASA DEPAN PEGUNUNGAN BINTANG
Di balik bentang megah Pegunungan Bintang yang menjulang tinggi, tersimpan sebuah "perpustakaan kehidupan" yang tak tertulis di atas kertas. Pengetahuan itu hidup berdenyut dalam ingatan para tetua adat, terangkai manis dalam cerita rakyat (folklore), terekam kuat dalam jejak perjalanan leluhur, dan mengakar pada ruang hidup yang diwariskan secara turun-temurun.
Selama tiga hari, dari tanggal 8 hingga 10 Juli 2026, kearifan lokal itu menemukan medium barunya di Oksibil. Sekitar 250 peserta yang mewakili elemen penting wilayah ini—mulai dari tokoh adat yang berasal dari 17 komunitas Ap Iwol, tokoh perempuan, tokoh pemuda, jajaran pemerintah daerah, Yayasan Okmin, sivitas akademika Universitas Okmin, hingga organisasi masyarakat sipil dan WWF- Indonesia—duduk bersama. Tujuannya satu: melaksanakan sebuah inisiatif pemetaan partisipatif yang merajut kedalaman folklore dengan kecanggihan teknologi Google Earth.
Proses pemetaan ini jauh dari sekadar menarik garis batas wilayah di atas layar digital. Melalui tuturan lisan para tetua adat tentang sejarah asal-usul kampung, jalur migrasi leluhur, kawasan perburuan dan perkebunan, hingga letak lokasi sakral serta sumber air, pengetahuan lokal tersebut perlahan diterjemahkan ke dalam wujud peta geospasial. Di titik inilah teknologi hadir sebagai jembatan yang memperkuat dan mengamplifikasi kearifan masyarakat adat, bukan untuk menggantikannya.

Bagi masyarakat Ap Iwol, konsep batas dalam dan batas luar tidak pernah dimaknai sebagai garis pemisah yang kaku. Batas tersebut sesungguhnya adalah rambu yang terus mengingatkan mereka akan besarnya tanggung jawab kolektif dalam mengelola ruang hidup. Filosofi luhur ini menjadi bukti nyata bahwa keberlanjutan alam hanya bisa lahir dari rahim kerja sama, sikap saling menghormati, serta praktik pengelolaan sumber daya alam yang komunal.
Perjumpaan antara narasi folklore dan visualisasi Google Earth ini mencerminkan sebuah inovasi cemerlang yang mampu menghubungkan kebijaksanaan lokal dengan teknologi modern. Pendekatan holistik ini berjalan sangat selaras dengan pengakuan global tentang betapa esensialnya peran pengetahuan masyarakat adat dalam agenda konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam inisiatif ini, WWF-Indonesia mengambil peran penting sebagai pendamping teknis pemetaan, memperkaya metodologi partisipatif, memperkuat pendekatan yang inklusif, serta memastikan terbangunnya kemitraan yang setara antara masyarakat adat, pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil.
Menegaskan pentingnya sinergi kolaboratif tersebut, Ketua Pemetaan, Hendrikus Hada, S.S., M.Sos., menyampaikan, "Pemetaan masyarakat adat wilayah kebudayaan Okmemin adalah sebuah proses untuk memastikan ruang hidup untuk masyarakat adat yang secara historis, genealogis, kultur diwariskan secara turun temurun, dijaga, dan dikembangkan sampai dengan saat ini."
Lebih lanjut, ia menambahkan, "Dengan demikian, proses yang terjadi secara kolaboratif, yang melibatkan masyarakat adat sebagai subjek atau pelaku utama, pemerintah sebagai fasilitator, dan WWF-Indonesia yang terlibat langsung dalam pendamping teknis adalah sebuah bentuk kolaborasi untuk mewujudkan apa yang menjadi komitmen pemerintah dalam pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat. Hal ini memberikan kepastian hukum pada masyarakat adat dalam proses pembuktian objektif adanya ruang hidup masyarakat adat yang tergambar dalam peta dan etnografi."
Langkah progresif ini tentunya tak lepas dari komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang di bawah kepemimpinan Bupati Spei Bidana, ST., M.Sc. Melalui dukungan pendanaan dan kolaborasi strategis bersama Yayasan Okmin melalui Bapperida, pemerintah daerah berhasil meletakkan fondasi yang kokoh bagi agenda perlindungan masyarakat hukum adat. Kebijakan ini sekaligus menjadi katalis bagi penguatan ketahanan pangan lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan sektor ekonomi mikro, hingga pelestarian ruang hidup itu sendiri. Ibarat membangun sebuah pagar hidup, kebijakan kolaboratif ini bertugas menjaga keberlanjutan masyarakat Okmekmin agar tetap teguh berdiri menghadapi laju perubahan zaman.

Pada akhirnya, agenda pemetaan partisipatif di Oksibil ini membuktikan satu hal: ia bukan sekadar aktivitas yang menghasilkan selembar peta. Lebih jauh dari itu, inisiatif ini merawat ingatan kolektif, mengukuhkan identitas budaya, dan memberikan penegasan bahwa masa depan Pegunungan Bintang akan jauh lebih tangguh ketika pengetahuan lokal dihormati dan berjalan beriringan dengan inovasi ilmiah.