GLOBAL TIGER DAY 2026: MENGHUBUNGKAN RUANG, MENYELAMATKAN KEHIDUPAN MELALUI KOLABORASI UNTUK HARIMAU SUMATERA
Padang, 26 Juli 2026 - Harimau Sumatera merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia. Sebagai predator puncak, harimau memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Populasinya terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kehilangan habitat akibat alih fungsi hutan, konflik manusia dan satwa liar, hingga perburuan serta perdagangan ilegal. Sebagai predator puncak, harimau berfungsi mengendalikan populasi satwa mangsa sehingga keseimbangan rantai makanan tetap terjaga. Apabila populasi harimau menurun, keseimbangan ekosistem dapat terganggu dan berdampak pada kesehatan hutan secara keseluruhan. Lebih dari itu, keberadaan harimau juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Hutan yang menjadi habitat harimau menyediakan berbagai jasa lingkungan seperti sumber air bersih, pengendali banjir, penyerap karbon, serta sumber penghidupan bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Dengan kata lain, melindungi harimau berarti turut menjaga kualitas hidup manusia.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam peringatan Global Tiger Day 2026 yang diselenggarakan melalui aksi kampanye publik di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Padang pada Minggu (26/7). Mengusung tema "Menghubungkan Ruang, Menyelamatkan Kehidupan", kegiatan ini berhasil mempertemukan berbagai lembaga konservasi, akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian Harimau Sumatera.
Kegiatan ini dipelopori oleh SINTAS Indonesia bersama para kolaborator, yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, WWF Indonesia, Centre for Orangutan Protection (COP), Forum Harimau Kita, Tiger Heart, serta Keanekaragaman Hayati Sumatra (KHS) Departemen Biologi Universitas Negeri Padang (UNP). Kolaborasi lintas lembaga ini menunjukkan bahwa upaya konservasi satwa liar tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, organisasi konservasi, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
Kawasan Car Free Day (CFD) dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai kalangan yang antusias mengunjungi booth edukasi konservasi. Berdasarkan hasil pendataan, mayoritas pengunjung merupakan perempuan, yaitu sebesar 76%, sedangkan pengunjung laki-laki mencapai 24%. Kelompok usia yang paling banyak berpartisipasi berada pada rentang usia >41–50 tahun, dengan sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Kegiatan diawali dengan sesi talkshow dan orasi publik yang mengangkat pentingnya menjaga habitat satwa liar serta membangun kesadaran bahwa keberhasilan konservasi bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Setelahnya disusul dengan berbagai kegiatan seperti lomba mewarnai, face printing, permainan ular tangga, hingga kuis interaktif yang ditaja oleh WWF dengan berbagai hadiah-hadiah menarik. Sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, BKSDA Sumatera Barat juga membagikan bibit tanaman kepada masyarakat.
Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, mengatakan antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan tingginya kepedulian terhadap upaya konservasi di Sumatera Barat.
"tentunya ini menunjukkan bahwa dukungan daripada masyarakat di dalam melakukan kegiatan konservasi, baik itu konservasi alam maupun konservasi harimau itu sangat-sangat luar biasa. Sehingga kami mengharapkan dengan adanya kegiatan ini tentunya bisa lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat disekitar kawasan di dalam melakukan kegiatan konservasi," ujarnya.
Selain mengampanyekan pentingnya menjaga habitat harimau, BKSDA juga mengajak masyarakat aktif melaporkan setiap potensi interaksi negatif antara manusia dan Harimau Sumatera agar dapat segera ditangani.
Hartono menegaskan upaya mitigasi konflik tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dengan organisasi konservasi dan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
"Apabila di masyarakat menemukan atau menjumpai terkait dengan interaksi negatif mari kita berkolaborasi, silahkan melaporkan terkait dengan kegiatan kegiatan yang ada di lapangan kepada kami balai konservasi sumber daya alam Sumatera Barat," katanya.
Menurut Beno Fariza Syahri, Rimbang Baling Batanghari Project Leader & Wildlife Biologist, Global Tiger Day diharapkan tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk berkontribusi sesuai perannya dalam menjaga kelestarian Harimau Sumatera. Ia juga berharap Sumatera Barat tetap menjadi rumah yang aman bagi Harimau Sumatera sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Minangkabau yang hidup selaras dengan alam. Selain itu, perlindungan habitat yang tetap terjaga dan saling terhubung menjadi kunci untuk mendukung pergerakan alami harimau serta mengurangi risiko interaksi negatif antara harimau dan manusia di masa depan.
Selaras dengan Beno SINTAS mengungapkan, “Tema ‘Menghubungkan Ruang, Menyelamatkan Kehidupan’ mengingatkan kita bahwa masa depan harimau sumatra sangat bergantung pada kemampuan kita menjaga keterhubungan habitatnya. Konservasi bukan hanya tentang melindungi satu spesies, tetapi juga memastikan ekosistem tetap berfungsi sehingga manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan berharap api semangat kolaborasi ini terus tumbuh menjadi aksi nyata di masa mendatang,” ujar Niken, Communication and Awareness Officer, SINTAS Indonesia.
Harapan tersebut juga tercermin dari tingginya kesadaran masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 61,2% responden menyatakan sangat setuju dan 32,7% menyatakan setuju bahwa menjaga Harimau Sumatera berarti turut menjaga adat istiadat Minangkabau. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memandang harimau hanya sebagai satwa liar, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat Minangkabau selama bertahun-tahun. Dalam falsafah Minangkabau, hubungan manusia dan alam diwujudkan melalui prinsip alam takambang jadi guru, yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai sumber kehidupan dan pembelajaran. Harimau Sumatera dipandang sebagai simbol keberanian, kewibawaan, sekaligus penjaga hutan. Oleh karena itu, menjaga kelestarian Harimau Sumatera tidak hanya berarti melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam yang menjadi bagian penting dari warisan masyarakat Minangkabau.
