SNAP MOR: KETIKA TRADISI MENJADI BENTENG KONSERVASI LAUT BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT BYAK
Di ufuk timur Nusantara, ketika matahari mulai condong dan air laut perlahan menyusut, sebuah pemandangan yang memikat tersaji di pesisir Biak Numfor. Hamparan pasir putih berubah menjadi ruang kebersamaan ketika masyarakat adat Byak berjalan beriringan menuju laut. Anak-anak, perempuan, orang tua, dan para pemuda hadir tanpa sekat usia maupun status sosial, sebagian menggenggam tombak tradisional. Mereka datang bukan sekadar untuk mencari hasil laut, melainkan untuk merawat hubungan harmonis dengan alam yang telah diwariskan oleh para leluhur selama ratusan tahun. Tradisi turun-temurun yang sarat makna ini dikenal sebagai Snap Mor.
Secara harfiah, snap berarti tombak tradisional, sedangkan mor bermakna berburu atau menangkap ikan secara bersama-sama. Namun, Snap Mor bukanlah kegiatan eksploitasi laut secara besar-besaran. Tradisi ini merupakan sistem penangkapan ikan kolektif yang selektif dan dilakukan ketika air laut surut. Seluruh prosesnya dikendalikan oleh aturan adat, mulai dari penentuan waktu berdasarkan pasang surut, pemilihan lokasi, penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, hingga pembagian hasil secara adil kepada kelompok masyarakat.
Di balik riak air laut yang surut, Snap Mor menyimpan nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam masyarakat Byak: gotong royong, kekeluargaan, penghormatan terhadap alam, pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, serta keadilan sosial. Tradisi ini memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan laut tidak hanya dibangun atas dasar kebutuhan ekonomi, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Kearifan lokal tersebut memperoleh ruang yang lebih luas melalui Festival Munara Wampasi 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Festival ini menjadi panggung promosi budaya sekaligus media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut. Dengan menempatkan Snap Mor sebagai salah satu identitas utama masyarakat Byak, festival ini menyampaikan pesan yang kuat: merayakan tradisi berarti sekaligus meneguhkan komitmen untuk merawat alam.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Biak Numfor, Imelda W. Mansnembra menegaskan bahwa Snap Mor perlu dipandang bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran lingkungan bagi keluarga dan generasi muda. Ia menyampaikan:menegaskan bahwa Snap Mor perlu dipandang bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran lingkungan bagi keluarga dan generasi muda. Ia menyampaikan:
“Snap Mor mengajarkan kepada anak-anak dan masyarakat bahwa laut adalah bagian dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Nilai-nilai ini perlu terus diwariskan secara turun-temurun, tidak hanya sebagai pengetahuan budaya, tetapi juga sebagai pembelajaran lingkungan dalam keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita membangun kesadaran bersama bahwa menjaga alam Biak Numfor bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat demi kehidupan generasi hari ini dan masa depan.”
Pandangan tersebut menegaskan pentingnya keluarga sebagai ruang pertama untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Ketika anak-anak dilibatkan dalam tradisi, mereka tidak hanya menyaksikan sebuah upacara budaya, tetapi juga belajar secara langsung tentang batas pemanfaatan alam, tanggung jawab kolektif, dan pentingnya menjaga sumber daya agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya. Dalam konteks ini, Snap Mor menjadi bentuk penyadartahuan yang dekat dengan kehidupan masyarakat karena nilai konservasi disampaikan melalui pengalaman, keteladanan, dan kebersamaan.
Di tengah berkembangnya konsep Nature-based Solutions (NbS), atau Solusi Berbasis Alam, masyarakat adat Byak sesungguhnya telah mempraktikkan prinsip-prinsip serupa jauh sebelum istilah tersebut dikenal secara luas. Snap Mor memanfaatkan dinamika alami pasang surut, membatasi alat tangkap, memperkuat kohesi sosial, dan menjaga keberlanjutan populasi ikan melalui aturan adat. Tradisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat memberikan jawaban yang relevan terhadap tantangan lingkungan masa kini.
Masyarakat adat memahami kapan laut dapat dimanfaatkan dan kapan alam harus diberi kesempatan untuk beristirahat serta memulihkan diri. Pola pemanfaatan yang berkala membantu menjaga padang lamun, terumbu karang, ikan karang, dan berbagai biota pesisir lainnya dari tekanan berlebihan. Rasa memiliki terhadap laut kemudian mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam konservasi berbasis adat, bukan sekadar penerima program dari luar.
Snap Mor juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata kepulauan yang bertanggung jawab. Wisatawan tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi dapat mengenal tradisi masyarakat, menikmati keindahan pantai dan pulau-pulau Biak Numfor, mempelajari keanekaragaman hayati laut, mencicipi kuliner lokal, serta mengapresiasi kerajinan masyarakat. Apabila dikelola dengan hati-hati, pariwisata berbasis budaya dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat upaya pelestarian alam dan kebudayaan.
Namun, pengembangan wisata tetap perlu menempatkan masyarakat adat sebagai pemilik pengetahuan, pengambil keputusan, dan penerima manfaat utama. Kesakralan tradisi, daya dukung lingkungan, serta aturan adat tidak boleh dikorbankan demi jumlah kunjungan. Dengan demikian, promosi Snap Mor tidak berhenti pada pertunjukan budaya, tetapi menjadi jalan untuk memperkuat identitas, pendidikan lingkungan, dan penghidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, Snap Mor mengajarkan bahwa laut bukan sekadar ruang untuk mengambil hasil, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan diwariskan. Melalui Festival Munara Wampasi, kearifan lokal masyarakat Byak dapat semakin dikenal sebagai praktik baik yang mendukung konservasi laut, solusi berbasis alam, pendidikan lingkungan, dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di Tanah Papua.
Ketika kearifan lokal berpadu dengan ilmu pengetahuan, partisipasi keluarga, dan semangat konservasi, lahirlah solusi yang tumbuh dari alam, dipelihara oleh budaya, dan diteruskan dari generasi ke generasi. Dari pesisir Biak Numfor, Snap Mor menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam: menjaga alam berarti menjaga kehidupan bersama.