MENJAGA API, MERAWAT KEHIDUPAN
Siang pada awal Juli itu terasa menyengat di sekitar Kali Wesan, Kampung Nanggouw, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw. Angin selatan bertiup kencang ketika api dari sebuah lahan kebun mulai bergerak melewati batas yang semula dianggap aman. Dalam waktu singkat, nyala itu menjalar ke semak dan sebagian hutan di sekitarnya. Warga tidak memiliki mobil pemadam atau peralatan modern. Yang mereka punya adalah keberanian, kayu buah, air kali, dan pengetahuan tentang tempat yang sedang mereka selamatkan. Kelompok muda bersama masyarakat sekitar bergerak cepat. Mereka memukul bara, mengangkut air, dan berusaha memutus jalur api sebelum kebakaran meluas. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pada musim panas, satu percikan kecil dapat berubah menjadi ancaman bagi kebun, hutan, sungai, satwa, dan kehidupan kampung.
Bagi masyarakat Nanggouw, hutan bukan sekadar deretan pepohonan. Di dalamnya tersimpan sumber pangan, air, ruang hidup satwa, dan jejak ingatan antar generasi. Karena itu, ancaman kebakaran tidak dipahami hanya sebagai persoalan lingkungan. Ketika hutan terbakar, yang ikut terancam adalah kebun keluarga, mata air, hasil buruan, ikan di sungai, serta masa depan anak-anak yang kelak mewarisi tanah tersebut. Perubahan iklim membuat ancaman itu semakin nyata. Pola hujan bergeser, suhu terasa lebih ekstrem, dan kalender tanam yang dahulu menjadi pedoman mulai sulit dipastikan. Musim hujan dan kemarau tidak selalu datang seperti yang dikenal orang tua terdahulu. Akibatnya, petani tradisional menghadapi risiko kekeringan, serangan hama dan penyakit, gagal panen, serta kerusakan lahan, termasuk di wilayah pesisir Papua.

Dalam beberapa tahun terakhir, musim hujan sering datang terlambat, sedangkan kemarau berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, gagal panen, dan kebakaran lahan. Sistem agroforestri yang selama ini menjadi penopang kehidupan tetap dipertahankan, namun masyarakat mulai menyesuaikan praktik berkebun agar lebih aman terhadap risiko iklim. Salah satu bentuk adaptasi yang paling penting adalah larangan membuka kebun dengan cara membakar ketika musim kemarau. Tokoh masyarakat Yulianus Yekwam menjelaskan bahwa masyarakat diminta menunggu hingga musim pancaroba atau hujan sebelum membuka lahan baru. Aturan tersebut bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menyesuaikan tradisi dengan kondisi alam yang telah berubah.
Pengetahuan tentang musim yang diwariskan turun-temurun kini berjalan berdampingan dengan kesadaran konservasi. Melalui keterlibatan dalam pengkajian risiko iklim bersama WWF-Indonesia, masyarakat semakin memahami bahwa perubahan yang mereka rasakan bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Musim yang bergeser, panas yang lebih panjang, dan sungai yang menyusut saling berkaitan dan memerlukan respons bersama. Upaya mencegah kebakaran tidak berhenti pada larangan membakar. Masyarakat juga menghidupkan aturan adat untuk menjaga kawasan di sekitar sungai. Pohon-pohon di bantaran tidak boleh ditebang karena akar mereka membantu mengikat tanah, mempertahankan air, dan menjaga kelembapan lingkungan ketika musim kering tiba. Di sepanjang aliran sungai, warga mendorong penanaman bambu dan tanaman jangka panjang seperti rambutan, durian, serta matoa. Tanaman-tanaman itu tidak hanya memberi hasil bagi keluarga. Akar dan tajuknya menjadi penahan angin, penyimpan air, serta pelindung tanah dari erosi. Dengan menanamnya, masyarakat sesungguhnya sedang membangun pertahanan alami terhadap kekeringan dan api.
Pengetahuan lokal kini berjalan berdampingan dengan pemahaman mengenai perubahan iklim. Melalui berbagai proses pembelajaran dan pengkajian risiko iklim bersama WWF-Indonesia, masyarakat semakin memahami hubungan antara musim yang bergeser, meningkatnya suhu, berkurangnya debit air, serta risiko kebakaran. Pengetahuan ilmiah memperkuat pengalaman yang selama ini diwariskan oleh para tetua kampung. Upaya menjaga hutan tidak berhenti pada larangan membakar. Masyarakat juga melindungi kawasan di sepanjang sungai dengan tidak menebang pohon-pohon di bantaran. Mereka menanam bambu, durian, rambutan, matoa, dan berbagai tanaman tahunan lainnya yang mampu menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, serta mempertahankan ketersediaan air pada musim kemarau. Aturan adat juga melindungi satwa dan sumber daya perairan. Penangkapan penyu dilarang dan penggunaan alat tangkap tertentu di sungai dibatasi agar populasi ikan tetap terjaga. Bagi masyarakat Nanggouw, menjaga hutan, sungai, satwa, dan kebun merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pengalaman kemarau panjang pada tahun 1982 masih menjadi ingatan kolektif masyarakat. Saat itu hujan tidak turun selama berbulan-bulan. Kebun gagal menghasilkan pangan, sungai menyusut, dan satwa kesulitan memperoleh sumber air. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kerusakan lingkungan akan langsung dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam. Kini, setiap keputusan untuk tidak membakar lahan pada musim kemarau, menjaga pohon di tepi sungai, serta bergotong royong ketika muncul titik api merupakan bagian dari strategi adaptasi menghadapi perubahan iklim. Langkah-langkah sederhana tersebut terbukti jauh lebih efektif dibandingkan harus memulihkan hutan yang telah terbakar.
Peristiwa di Kali Wesan menyisakan bekas pada sebagian kawasan hutan, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa keselamatan kampung bergantung pada kepedulian setiap orang. Api mungkin dapat dipadamkan dalam sehari, tetapi memulihkan hutan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Oleh sebab itu, pencegahan selalu menjadi pilihan terbaik. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, kearifan lokal masyarakat Nanggouw menunjukkan bahwa solusi tidak selalu berasal dari teknologi yang rumit. Membaca musim, menghormati aturan adat, menjaga sungai, dan merawat hutan merupakan bentuk pengetahuan yang telah terbukti menjaga keseimbangan alam selama bergenerasi. Kearifan tersebut kini menjadi modal penting untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim sekaligus memastikan bahwa hutan, air, pangan, dan kehidupan tetap terjaga bagi generasi yang akan datang.