KENALI SI RAKSASA LEMBUT, PELAJARI CARA BERINTERAKSI
Oleh Casandra Tania & Aulia Rahman
Indonesia akhirnya memiliki sebuah panduan penting dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dari sektor pariwisata, yaitu panduan untuk berinteraksi dengan Hiu Paus (Rhincodontypus).Panduan yang dibentuk oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dan WWF-Indonesia diluncurkan pada tanggal 30 Maret 2014 di sesi seminar dalam pameran Deep and Extreme Indonesia, Jakarta International Expo, Kemayoran-Jakarta, bertujuan untuk memberikan informasi kepada pelaku wisata, baik wisatawan maupun operator wisata dalam berinteraksi dengan Hiu Paus.
Kegiatan diawali dengan pemutaran Film Gurano Bintang (bahasa lokal untuk ikan hiu paus) yang memberikan gambaran tentang program konservasi yang dilakukan WWF-Indonesia di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Presentasi berjudul “ Bio-Ekologi dan Hasil Studi Hiu Paus di TNTC” kemudian dibawakan oleh Casandra Tania (Marine Species Officer).
Petunjuk berinteraksi dalam versi saku juga dibagi-bagikan kepada peserta yang datang. Hadir pula Beny A. Noor (Project Leader WWF Program Teluk Cenderawasih) dan Dwi Ariyoga Gautama (Bycatch Coordinator) sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Dewi Satriani (Campaign & Mobilization Manager).Peserta terlihat antusias untuk bertanya lebih jauh tentang hiu paus yang berada di TNTC, pengaruh sampah plastik pada hiu paus hingga isu perburuan hiu paus di Lamalera.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 27 Maret 2014, BBTNTC, Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKJI-KKP), dan WWF-Indonesia mengadakan peluncuran awal kepada sekitar 40 peserta yang merupakan pemangku kepentingan terkait seperti operator penyelaman, penyelenggara wisata, pemilik penginapan, pemandu wisata, Dive Master, serta instansi terkait lainnya.
Brent Stewart, seorang ilmuwan dari Hubbs Sea World Research Institute, Amerika Serikat, yang memimpin penelitian mengenai HiuPaus di Teluk Cenderawasih sejak 2011 menyampaikan kekhawatiran yang sama. Menurutnya tekanan dari wisatawan begitu besar sehingga dikhawatirkan mengganggu siklus hidup mereka. Ia juga menambahkan dasar kekhawatiran tersebut adalah minimnya informasi dan besarnya misteri yang meliputi spesies terancam punah tersebut.
“Saat ini WWF-Indonesia meluncurkan kepada publik penggemar wisata laut untuk memahami protocol dasar ketika berhadapan dengan spesies penuh misteri di laut. Meskipun dikenal sangat ramah, dan sering kali disebut Hiu Bodoh, kita sebaiknya tetap waspada, karena sangat sedikit yang kita ketahui tentang mereka. Kewaspadaan ini berarti win-win solution bagi kedua belah pihak. Turis nyaaman, spesies dan habitatnya juga terjaga. Selain lingkungan sosial di Teluk Cenderawasih juga akan merasakan dampak positif di kemudian hari.”Tambah Cassandra Tania.
Beberapa protokol dasar yang harus dipatuhi seperti menjaga jarak minimal 2 meter di sisi sirip samping, minimal 3 meter dari sekitar ekor, dilarang memegang, jangan menggunakan lampu kilat dalam memotret, adalah beberapa aturan dasar yang sebaiknya dipatuhi oleh wisatawan. Lebih lanjut anda dapat mengunduh panduan (dalam PDF) disini, atau klik tautan di sebelah
