DENYUTNYA HEART OF BORNEO PADA PERTEMUAN TRILATERAL KETIGA
Oleh: Nancy Ariaini
Kinabalu (09/10)-Pertemuan tingkat negara yang ketiga untuk program Heart of Borneo (3rd Heart of Borneo Trilateral Meeting) berlangsung di Kota Kinabalu, negara bagian Sabah, Malaysia dari tanggal 5-6 Oktober 2009. Masing-masing negara memberikan update perkembangan program Heart of Borneo dan membicarakan beberapa isu penting. Diantaranya adalah Institutional Arrangement and Modalities, mekanisme pendanaan berkelanjutan untuk program Heart of Borneo (termasuk opsi program REDD1 sebagai salah satu alternatif pendanaan), sistem informasi geografis program Heart of Borneo serta logo Heart of Borneo.
Pertemuan yang dihadiri oleh para delegasi negara dari Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia ini dibuka secara resmi oleh Yang Berhormat Tan Sri Datuk Seri Panglima Joseph Kurup, Deputi Menteri Sumberdaya dan Lingkungan Malaysia. ”Upaya konservasi lintas batas yang telah ada ini merupakan komponen penting yang perlu terus dipertahankan dalam rangka memastikan perlindungan dan konservasi hutan dataran tinggi Borneo,” demikian dinyatakan oleh Josep Kuruph.
Para negara menyampaikan perkembangan program Heart of Borneo di negara masing-masing pada hari pertama pertemuan tersebut. Brunei telah membentuk Dewan Nasional Heart of Borneo (Brunei Darussalam Heart of Borneo National Council) dan Heart of Borneo Center. Indonesia telah memiliki draft final Rencana Aksi Strategis Nasional sebagai landasan implementasi program Heart of Borneo di Indonesia dan bahwa kawasan Heart of Borneo oleh pemerintah telah diadopsi sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Sementara dari sisi Malaysia, perkembangan yang telah terjadi adalah bahwa program Heart of Borneo di kawasan Sabah dan Sarawak, merupakan salah satu program penting yang termasuk dalam Ninth Malaysia Plan.
Bagian esensial dari pertemuan ini adalah pembahasan mengenai Institutional Arrangements dan Modalities yang merupakan pilar penting dalam implementasi program Heart of Borneo setelah ketiga negara menyepakati lima program utama pada pertemuan trilateral sebelumnya di Pontianak tahun 2008. Draft dokumen yang menjadi bahan diskusi bersama ketiga negara khusus untuk isu ini dipersiapkan oleh Malaysia. Dalam pertemuan kemudian disepakati perlunya pendalaman lebih lanjut terhadap Institutional Arrangements dan Modalities, sehingga setelah pertemuan trilateral di Kota Kinabalu ini, akan segera dibentuk Kelompok Kecil yang dimandatkan untuk membahas dan menyelesaikan isu-isu tersebut. Brunei Darussalam bersedia memfasilitasi pertemuan Kelompok Kecil ini dan sekaligus menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan pertemuan ketiga negara keempat yang secara tentatif akan diadakan pada bulan April 2010.
Indonesia mengusulkan pembahasan isu pendanaan berkelanjutan untuk program Heart of Borneo, di dalamnya termasuk pula pertimbangan pentingnya mempromosikan Heart of Borneo sebagai kawasan prioritas REDD (Reduction Emission from Deforestation and Forest Degradation – Mengurangi Emisi Karbon akibat Deforestasi dan Degradasi Hutan). Ketiga negara menyepakati hal ini dibicarakan lebih lanjut dalam pertemuan trilateral mendatang dengan mempertimbangkan kepentingan masing-masing negara dan dinamika yang berlangsung terkait dengan isu kehutanan dan iklim ini.
Dalam agenda yang berbeda, delegasi Indonesia berkesempatan bertemu dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu pada tanggal 6 Oktober 2009 dan menginformasikan mengenai Heart of Borneo dan kegiatan pertemuan Heart of Borneo yang berlangsung. Lima program utama Heart of Borneo termasuk penguatan masyarakat di daerah perbatasan melalui program ekowisata lintas batas serta ditetapkannya Heart of Borneo sebagai kawasan strategis nasional merupakan beberapa dari informasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sabah menyatakan kegembiraannya karena telah mendapat informasi mendalam mengenai program kolaborasi tiga negara yang pasti akan sangat bermanfaat dalam membangun kerjasama kedua negara di level implementasi, khususnya di negara bagian Sabah yang berbatasan langsung dengan Indonesia.