ANA: DARI JAWA TIMUR MENUJU AUSTRALIA BARAT
Perjalanan Penyu Hijau Dalam Pengamatan Satelit
Jakarta, 19 Desember 2008 - Perjalanan yang mengesankan dari seekor penyu Hijau dari Indonesia menuju perairan Autralia membantu pecinta lingkungan melacak jalur migrasi spesies ini dari Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Jember, menuju daerah pesisir pantai Kimberley-Pilbara, Australia, yang diyakini sebagai salah satu daerah pesisir yang masih bebas polusi di muka bumi.
Ana, penyu Hijau betina dewasa, yang diberi penjejak satelit pada 26 November 2008 kemudian memulai perjalanan menyusuri perairan dangkal Samudra Indonesia dari pantai petelurannya di Sukamade menuju ke Bali, Lombok, dan Sumbawa yang akhirnya berbelok ke arah selatan menuju pantai Kimberley di Australia bagian barat.
Perjalanan Ana yang diawasi melalui satelit oleh WWF memberikan gambaran tentang keterikatan lingkungan yang kuat antara perairan Indonesia dan perairan Australia Barat.
Gambar: Trek yang dibuat oleh Ana melalui citra satelit. Data © WWF, Gambar © Seaturtle.org
”Perjalanan Ana sangat unik sekali. Ana membuka tabir ’jalan bebas hambatan’ di perairan Samudra Indonesia yang sangat membantu ilmuwan memahami bagaimana penyu melakukan navigasi di lautan serta bagaimana mereka mampu menjelaskan keterikatan ekologi dan evolusi bagi Indonesia dan Australia bagian barat,” ujar Gilly Llewellyn, Pimpinan Program Kelautan WWF-Australia.
”Penemuan baru ini kembali mempertegas ekosistem pesisir Kimberley sebagai bagian dari ekosistem Segitiga Karang yang ada di sisi utara, sebuah lokasi pusat biodiversitas lautan dunia yang menjadi perlintasan dan menjadi tempat perkembangbiakan berbagai macam jenis paus, penyu, lumba-lumba, dan spesies lautan lainnya,” tambah Gilly.
Segitiga Karang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste yang menjadi rumah bagi 6 dari 7 jenis penyu yang ada di dunia. Penyu-penyu tersebut adalah penyu Hijau, penyu Lekang, penyu Sisik, penyu Tempayan, penyu Pipih, dan penyu Belimbing.
Semua spesies tersebut terancam menuju kepunahan sebagai akibat dari polusi, sebagai tangkapan sampingan dalam perikanan rawai dan pukat, dan pencurian penyu termasuk karapas, kulit, daging dan telur.
”Laut tropis di daerah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) memainkan peranan penting bagi bumi. Penentu kebijakan perlu memahami peranan tersebut dalam rangka perlindungan ekosistem Segitiga Karang, serta juga memikirkan jutaan masyarakat yang bergantung dan hidup dari ekosistem tersebut,” lanjut Gilly.
Program Coral Triangle Network Initiative oleh WWF sekarang sedang berlangsung untuk memastikan keberlanjutan ekosistem Coral Triangle dalam menghadapi ancaman oleh manusia di Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik, termasuk ancaman dari perikanan tuna rawai dan pukat serta polusi.
Kegiatan konservasi kelautan WWF mengikutsertakan pembangunan jejaring Kawasan Perlindungan Laut untuk memastikan perlindungan dan konservasi ekosistem laut dan memastikan kegiatan perikanan dilakukan secara berkelanjutan. Aktivitas tersebut meliputi pengurangan tangkapan sampingan terhadap spesies-spesies laut bukan target, misalnya penyu, yang dilakukan oleh perusahan perikanan di lautan Indo-Pasifik.
Creusa Hitipeuw, Pimpinan Program Penyu WWF-Indonesia menambahkan “Kunjungan penyu Hijau Indonesia ke Australia ini merupakan kali kedua yang kami pantau sejak sekitar setahun lalu. Penyu Hijau pertama berhasil diamati dengan penjejak satelit dari pantai yang sama, Sukamade, menuju pesisir barat Australia. Kunjungan kali kedua ini mempertegas titik terang ’hubungan’ baik dari dua habitat tersebut oleh populasi penyu Hijau. Selayaknya kerjasama dua negara tersebut dapat digalakkan lebih baik dalam rangka proteksi habitat dan spesies penyu tersebut.”
Secara global, sebanyak ratusan ribu penyu tertangkap setiap tahunnya di mata kail dan jaring dari kegiatan penangkapan ikan, sedangkan pantai peteluran juga mengalami tekanan sebagai dampak pembangungan industri yang tidak memperhatikan aspek lingkungan, aktivitas manusia di pantai, serta pemanasan global.
”Perjalanan Ana menunjukkan daerah-daerah di mana kita harus fokus untuk bekerja. Kita perlu melihat kehidupan penyu yang masih penuh dengan teka-teki sains, sehingga kita bisa memutuskan desain Kawasan Perlindungan Laut yang mengayomi beragam jenis tumbuhan dan hewan, serta memastikan keberlangsungan mereka untuk waktu yang lama,” lanjut Gilly.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
- Dewi Satriani, Communications and Outreach Manager WWF-ID Marine Program, dsatriani@wwf.or.id
- Creusa Hitipeuw, Turtle Program Leader WWF-Indonesia, chitipeuw@wwf.or.id
Catatan untuk Redaksi:
Tentang WWF-Indonesia:
WWF, sebuah organisasi konservasi, dengan misi menghentikan perusakan lingkungan alami di planet bumi dan untuk membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alamnya, melalui perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan mempromosikan pengurangan polusi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hamper 5 juta pendukung di dunia. WWF mulai bekerja di Indonesia tahun 1962. Untuk informasi lebih jauh tentang WWF, kunjungi www.wwf.or.id atau www.panda.org
Tentang Coral Triangle Program:
Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang) adalah tempat dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, sama pentingnya dengan Hutan Amazon dan Hutan Kongo bagi kehidupan muka bumi. Menjadi rumah bagi lebih dari 500 jenis koral, melingkupi 5.4 juta kilometer persegi area kelautan negara-negara Indo-Pasifik – Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
Coral Triangle adalah tempat yang menyokong langsung kehidupan bagi 130 juta manusia yang tinggal di dalamnya, dan juga menjadi tempat penting bagi pemijahan dan pembiakan bagi ikan tuna serta bagi koral dan karang yang indah untuk sektor ekoturisme.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Coral Triangle www.worldwildlife.org/what/wherewework/coraltriangle/index.html