SINERGI MULTIPIHAK DALAM MENDORONG SISTEM PANGAN SEHAT DAN BERKELANJUTAN
Pola konsumsi makanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai makhluk hidup yang bergantung pada alam, setiap makanan yang kita konsumsi merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan sumber daya alam. Aktivitas makan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan rasa lapar, tetapi juga mencerminkan bagaimana alam bekerja untuk menyediakan energi bagi tubuh manusia. Hasil dari berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi penopang utama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Akan tetapi, proses penyediaan pangan saat ini tidak terlepas dari berbagai tantangan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. seperti kontribusinya terhadap sekitar 30% emisi gas rumah kaca global, tingginya penggunaan sumber daya air tawar, serta dampaknya terhadap deforestasi dan degradasi lahan.
Pemenuhan energi tubuh saat ini tidak lagi berjalan seimbang dengan kemampuan alam dalam menyediakannya. Proses penyediaan pangan justru menjadi salah satu pendorong utama krisis iklim di dunia. Seluruh rangkaian penyediaan pangan mulai dari produksi hingga konsumsi menghasilkan emisi dan memberikan tekanan besar terhadap ekosistem. Ironisnya, dorongan terbesar dari rangkaian tersebut berasal dari pola konsumsi manusia itu sendiri, termasuk dalam memilih dan mengonsumsi makanan. Hal ini tercermin pada kondisi konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang menunjukkan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95,1, dengan pemenuhan energi mencapai 98,7% dan protein bahkan melebihi kebutuhan hingga 110%. Namun, pola konsumsi tersebut masih didominasi oleh padi-padian sebesar 53,2%, yang menunjukkan belum seimbangnya keberagaman pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Ketidakseimbangan ini juga terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat saat ini. Pola konsumsi makanan kita hari ini sudah bergeser ke arah yang lebih cepat dan praktis. Tak jarang makanan ultra proses dengan tinggi gula, garam dan lemak lebih sering diminati, terutama dikalangan anak muda. Sistem saat ini sangat mempermudah kita untuk membeli apa yang kita mau, bukan apa yang tubuh kita butuhkan.
WWF menyadari hal tersebut, bahwa tanggung jawab soal pangan tidak hanya bertumpu pada satu pihak saja. Perlu pendekatan yang lebih luas agar proses penyediaan pangan dan pola konsumsi masyarakat bisa bergeser kembali ke arah lebih berkelanjutan. Maka dari itu, kegiatan diskusi multipihak ini dilakukan. Diskusi yang dilakukan di hari Kamis, 09 April 2026 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini mendatangkan setiap aktor yang memiliki peran untuk mengubah pola makan. Mulai dari aktor masyarakat, swasta, hingga pemerintah.

Kegiatan awal untuk membuka diskusi ini adalah mendengarkan gagasan dari perwakilan setiap aktor. Kegiatan yang dibuka untuk melihat bagaimana cara pandang setiap aktor. Dari sisi pemerintah, WWF, pihak ritel dan juga gizi.
Samuel Pablo sebagai perwakilan WWF menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada sistem pangan yang belum berkelanjutan, mulai dari produksi hingga limbah, serta dampaknya terhadap lingkungan. Ia juga menjelaskan konsep pola makan sehat dan berkelanjutan menurut FAO sebagai salah satu solusi untuk mengurangi dampak tersebut.
Dari sudut pandang pemerintah, Dr. Prayudi Syamsuri , SP., M.Si. Melihat pola makan sehat dari tiga pilar ketahanan pangan: (1) ketersediaan (2) keterjangkauan (3) pemanfaatan. Namun, tiga pilar tersebut adanya kendala, salah satunya ketimpangan akses pangan antara desa dan kota. Dengan intervensi yang dilakukan pemerintah melalui MBG, akses terhadap makanan bergizi dapat diperluas hingga ke desa, sekaligus mendorong perkembangan bisnis pangan lokal.
Selanjutnya Dr. Yuvlinda Susanta mempertegas peran ritel modern sebagai aktor penting dalam membentuk pola konsumsi masyarakat, bukan hanya sebagai penjual tetapi sebagai pengarah pilihan konsumen. Dengan akses langsung ke konsumen dalam jumlah besar, ritel dapat memengaruhi keputusan pembelian melalui berbagai strategi seperti penandaan produk sehat, penempatan produk di lokasi strategis, serta kampanye edukasi baik di dalam toko maupun melalui kanal digital. Contoh praktik seperti yang dilakukan Super Indo menunjukkan bagaimana intervensi sederhana seperti label dan penataan rak dapat mendorong konsumen untuk memilih produk yang lebih sehat.
Situasi ini menunjukkan bahwa peran tersebut semakin dibutuhkan karena persoalan gizi yang dihadapi makin kompleks. Agnez Mallipu sebagai narasumber keempat mengatakan bahwa masih banyaknya masyarakat yang belum mampu untuk mengakses makanan sehat dan bergizi, baik dari faktor harga maupun dari faktor ketersediaan. Masyarakat seringkali memilih makanan dengan spontan dan tanpa pertimbangan panjang (low involvement), sehingga faktor seperti tampilan produk, label, dan kemudahan akses juga sangat menentukan. Ketersediaan pilihan pangan sehat di pasar masih terbatas, sehingga diperlukan upaya yang lebih sistematis agar masyarakat bisa menjangkau pilihan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Selain pemaparan dari para narasumber, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali lebih dalam permasalahan dan peluang dalam mendorong pola makan sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Kelompok FGD terbagi menjadi tiga kelompok yang membahas akses pangan, kebijakan berkelanjutan serta pemasaran yang mendukung pola makan sehat.
Hasil dari diskusi kelompok menunjukkan bahwa isu pangan merupakan sistem yang kompleks dan melibatkan banyak sektor dari hulu dan hilir. Tantangan yang terjadi tidak hanya terletak pada ketersediaan, namun juga keterjangkauan dan pemerataan, terutama kepada kelompok rentan.
Dari sisi pemasaran dan konsumsi, hambatan terletak pada harga pangan sehat yang relatif lebih tinggi sehingga produk pangan sehat masih sulit diakses secara luas. Komunikasi terkait pola makan sehat masih cenderung eksklusif sehingga perlu dilakukan pendekatan yang lebih relevan dan mudah diterima oleh masyarakat.
Meskipun saat ini berbagai regulasi telah ada, namun implementasinya masih belumm sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan melalui skema insentif dan disinsentif untuk mendukung produki dan konsumsi pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pilihan yang kita ambil di atas piring mencerminkan arah masa depan yang kita tuju. Perubahan menuju pola makan yang sehat dan berkelanjutan bukanlah tanggung jawab dari satu pihak saja, melainkan memerlukan kolaborasi dari berbagai aktor dalam sistem pangan. Dengan adanya kolaborasi multipihak ini, tak hanya berdampak bagi kesehatan manusia, namun juga pada keberlanjutan lingkungan di masa depan.