
Tim Sustainable Commodities (SusCom) WWF-Indonesia bekerja melampaui batas administratif untuk mengawal transisi sistem pangan dan pertanian lanskap prioritas WWF di Indonesia, dengan visi besar yang ingin kami capai pada tahun 2030, untuk memastikan 30% komoditas dikelola secara lestari dalam rantai pasok, ramah iklim, dan berkeadilan bagi masyarakat. Strategi ini diwujudkan melalui integrasi 3 (tiga) pilar. Pertama, pilar Hulu (Upstream) atau Sustainable Landcape Production yang berfokus 50.000 hektar lahan menerapkan sustainability dan deforestation-free melalui Strategi Jangka Benah, pertanian regeneratif serta penguatan ketertelusuran digital lewat platform HAMURNI dan pendampingan petani kecil. Kedua, pilar Hilir (Downstream) atau Sustainable Demand Landscape mendorong komitmen 50 perusahaan domestik serta keterlibatan pasar konsumen global di negara-negara kunci untuk beralih ke komoditas Indonesia yang berkelanjutan. Ketiga, pilar Advokasi dan Kebijakan yang memperkuat tata kelola serta mempengaruhi jaringan kemitraan internasional untuk menyongsong Deforestation and Conversion Free (DCF).
SusCom melalui upaya sinkronisasi data baselin komprehensif dan menekankan pada kolaborasi inklusif yang menyambungkan para petani kecil, sektor swasta, hingga pemerintah, berupaya menciptakan ekosistem komoditas yang tangguh-berkelanjutan dan bebas deforestasi, serta menjadi dasar bagi kesejahteraan ekonomi yang selaras dengan berlangsungnya kelestarian alam.
Sustainable Commodities (SusCom) bekerja di sembilan lanskap prioritas WWF di Indonesia. Tiga di Sumatra, empat di Kalimantan, dan dua di Papua baik di dalam area inti lanskap maupun di kabupaten-kabupaten sekitarnya. Pendekatan ini mencerminkan kenyataan bahwa area produksi komoditas dan fasilitas pengolahan yang memasok pasar nasional dan global sering kali berada di luar batas lanskap, namun tetap memiliki keterkaitan erat dengan dinamika ekologis dan sosial dari lanskap tersebut. Area produksi ini bersinggungan dengan nilai konservasi penting, habitat satwa kunci, serta mata pencaharian masyarakat, sekaligus menghadapi tekanan seperti deforestasi, degradasi hutan, konflik manusia satwa liar, dan praktik produksi yang tidak berkelanjutan yang memerlukan mitigasi terintegrasi melalui program Sustainable Commodity.

Melalui pendekatan lanskap, SusCom mendukung perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan lanskap prioritas dengan memperkuat praktik produksi yang bertanggung jawab baik di tingkat tapak maupun rantai pasok. Program ini mendorong solusi berbasis alam, membangun kapasitas petani kecil dan pelaku usaha untuk memenuhi persyaratan pasar global, meningkatkan ketertelusuran dan akuntabilitas rantai pasok. Dengan menghubungkan pelaku pasar, pemerintah daerah, masyarakat, dan inisiatif lanskap, SusCom membantu mendorong bahwa produksi komoditas berkontribusi pada perlindungan ekosistem, sumber ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan jangka panjang di lanskap prioritas Indonesia.