WWF: PENGIRIMAN PERTAMA MINYAK SAWIT BERSERTIFIKAT LAYAK DIRAYAKAN, NAMUN SEKTOR INI PERLU BERBUAT LEBIH
Siaran Pers, 11 November 2008
November 11, 2008, Rotterdam, Belanda: Bersamaan dengan datangnya kiriman minyak sawit lestari bersertifikat pertama di Eropa, WWF mendesak konsumen utama minyak sawit untuk beralih membeli minyak sawit lestari dan menghentikan kerjasama dengan produsen yang tetap bersikukuh dengan praktek yang merusak.
Pengiriman dari Asia Tenggara tersebut berasal dari minyak sawit yang bersertifikat sesuai dengan Prinsip dan Kriteria Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO), sekumpulan standar untuk memastikan bahwa minyak sawit diproduksi dengan cara yang bertanggungjawab secara sosial dan lingkungan.
Sebagai anggota pendiri RSPO, WWF telah bekerja sejak 2002 dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa standar RSPO memuat kriteria sosial dan lingkungan yang kuat, termasuk larangan mengkonversi hutan bernilai tinggi.
""Hadirnya minyak sawit bersertifikat RSPO di Eropa adalah sebuah tonggak penting,"" ujar Rodney Taylor, Direktur Program Hutan WWF International. ""Dengan sistem sertifikasi RSPO yang berjalan efektif, para perusahaan kini memiliki pilihan untuk membeli secara bertanggungjawab.""
RSPO mempertemukan pengusaha kebun sawit, pengolah minyak sawit, perusahaan makanan, peritel, LSM, dan para investor untuk memastikan bahwa tidak ada hutan hujan tropis yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit baru. Organisasi ini juga berjuang untuk memastikan bahwa semua perkebunan mengurangi dampak lingkungan mereka, serta hak-hak hakiki masyarakat setempat dan pekerja perkebunan dihormati sepenuhnya.
Beberapa perusahaan Eropa, termasuk Unilever, Sainsbury's dan Albert Heijn, telah mengumumkan komitmen kuat untuk membeli minyak sawit lestari bersertifikat. Banyak perusahaan lain perlu melakukan hal yang sama. WWF menyerukan kepada para peritel dan pengolah untuk ikut RSPO dengan membuat rencana kongkrit dengan tenggat waktu yang jelas untuk mengalihkan pembelian minyak sawit mereka menuju minyak yang 100 persen bersertifikasi.
WWF juga menyerukan RSPO untuk memperkuat sistemnya sebagaimana diperlukan untuk menjaga kredibilitasnya di pasar. Keanggotaan RSPO terbuka kepada produsen yang belum memiliki sertifikasi. Meskipun aturan main (Code of Conduct) RSPO mendorong para produsen untuk mengarah menuju sertifikasi, RSPO masih kurang upayanya dalam memeriksa praktek-praktek anggota yang belum bersertifikat tersebut.
Pemangku kepentingan tidak selalu mengapresiasi perbedaan antara keanggotaan sebuah perusahaan pada RSPO dengan sertifikasi sebuah perkebunan. Hal ini mengancam kredibilitas RSPO, khususnya sehubungan dengan laporan terbaru Greenpeace yang menyebutkan beberapa anggota RSPO melakukan praktek yang dilarang oleh kriteria RSPO untuk produksi minyak sawit yang bertanggungjawab secara sosial dan lingkungan. WWF akan mendorong anggota-anggota RSPO untuk memperketat aturan mengenai ini dan hal lainnya pada pertemuan tahunannya pada 18-20 November ini.
""RSPO harus sepenuhnya menyelidiki tuduhan penyimpangan yang dilakukan anggotanya"", ujar Taylor, ""RSPO dapat mempertahankan kredibilitasnya dengan menolak segala upaya menutupi pelanggaran kriteria kelestarian RSPO yang dilakukan oknum anggotanya.""
- Selesai -
Catatan untuk Redaksi:
- Pohon Kelapa Sawit berasal dari Afrika Barat tetapi telah sukses ditanam di banyak kawasan di daerah tropis termasuk pengekspor terbesar kelapa sawit dunia: Indonesia dan Malaysia. Lebih dari 28 juta ton minyak sawit dihasilkan di seluruh dunia dan merupakan sumber makanan utama di seluruh dunia. Minyak sawit digunakan dalam berbagai jenis produk makanan termasuk margarine, minyak goreng, snack, kue, biskuit dan pastry. Turunan minyak sawit juga dapat dijumpai di kosmetik, sabun, sampo, dan deterjen. Penjualan di Eropa telah meningkat saat ini karena minyak sawit telah menjadi pengganti efektif bagi minyak lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari sehingga mengurangi asam lemak-trans dari banyak produk.
- WWF memahami bahwa minyak sawit adalah bahan pangan dasar dengan permintaan konsumen tinggi. Eropa mengkonsumsi 2,7 juta ton minyak sayur tiap tahunnnya untuk makanan dan sabun, membuatnya menjadi pasar minyak sawit terbesar ketiga di dunia, setelah India dan China. Melalui program subsidi biofuel, para pemerintah di Eropa telah meningkatkan permintaan minyak sawit di Eropa. Sementara, minyak sawit juga secara meningkat dipakai untuk mengganti bahan bakar fosil di sektor transportasi dan energi (terutama) di negara maju. Dengan ,memperhitungkan meningkatnya permintaan akan minyak sawit untuk energi bio dan juga penggunaan tradisional, FAO memperkirakan bahwa produksi minyak sawit akan meningkat dua kali lipat antara 1999/2001 dan 2030.
- Walaupun secara keseluruhan kelapa sawit bebas rekayasa genetic dan memiliki panen tertinggi per hektarnya dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya, ada tekanan lingkungan terkait perluasannya di kawasan-kawasan yang secara lingkungan sensitif, terutama karena kelapa sawit hanya dapat dibudidayakan di daerah tropis Asia, Afrika dan Amerika. Perkebunan kelapa sawit telah sering membawa biaya lingkungan dan sosial terkait pembukaan hutan tanpa henti, hilangnya habitat penting bagi satwa terancam dan langka seperti orang utan, gajah, dan harimau, kebakaran tak terkendali dan munculnya kabut asap, serta tidak dihormatinya hak dan kepentingan komunitas lokal.
- Disamping itu, konversi hutan oleh perusahaan perkebunan menyumbang kepada perubahan iklim. Hingga 20 persen emisi gas rumah kaca (GRK) yang diakibatkan manusia adalah disebabkan oleh deforestasi. Deforestasi adalah penyebab utama yang menyebabkan Indonesia, produsen terbesar minyak sawit dunia, memiliki emisi gas rumah kaca yang tertinggi nomor tiga di dunia.
- Praktek industri untuk mengeringkan dan mengkonversi hutan gambut secara khusus merusak upaya mitigasi iklim, karena 'tempat penyerapan karbon' ini menyimpan lebih banyak karbon per unit kawasan dibandingkan ekosistem lainnya di dunia. Secara rata-rata 1,8 milyar ton GRK dilepaskan oleh degradasi dan pembakaran lahan gambut Indonesia setiap tahunnya..
- RSPO berawal dari kerjasama informal terkait produksi dan pemakaian minyak sawit lestari di antara Aarhus United UK Ltd, Golden Hope Plantations Berhad, Migros, Malaysian Palm Oil Association, Sainsbury's dan Unilever bersama dengan WWF. Pada akhir 2002. organisasi-organisasi ini membentuk Panitia Pelaksana untuk menyelenggarakan pertemuan 'Roundtable' pertama di Agustus 2003 di Kuala Lumpur dan menyiapkan landasan untuk struktur organisasi dan tata laksana yang menghasilkan pembentukan RSPO. Sebanyak 40 organisasi kemudian menandatangani sebuah surat pernyataan minat (Letter of Intent) yang menyatakan kehendak mereka berpartisipasi di RSPO. Selanjutnya, diadakan pertemuan meja bundar setiap tahunnya sehjak 2003, dan RSPO telah tumbuh dengan mantap sehingga melampaui 50% industri minyak sawit global. Untuk informasi selanjutnya mengenai RSPO, kunjungi www.rspo.org
- WWF bekerja untuk mendorong produksi dan pengadaan minyak sawit yang bertanggungjawab, termasuk:
- Mengembangkan praktek-praktek produksi yang lebih baik yang mengurangi dampak lingkungan dan sosial minyak sawit.
- Mengidentifikasi daerah-daerah yang harus dibebaskan dari produksi, atau justru dilindungi terkait dengan nilai konservasi yang tinggi, dan juga mendorong pembentukan daerah produksi di lahan terlantar yang sudah ada.
- Mendukung pengembangan sistem akunting gas rumah kaca untuk minyak sawit yang digunakan untuk pembangkit tenaga atau sebagai bahan baker (untuk menentukan apakah minyak sawit untuk bioenergy menghasilkan pengurangan emisi GRK yang cukup dibandingkan bahan bakar fosil)
- Menyerukan untuk proses-proses perencanaan tata guna lahan yang transparan untuk mencapai distribusi optimal hutan alam, perkebunan, kawasan pertanian, kawasan perkotaan, dan penggunaan lahan lainnya.
- Mempromosikan kebijakan pembelian dan investasi yang bertanggungjawab di sektor perkebunan.
Untuk informasi lebih lanjut:
Soh Koon Chng
WWF International Forests Team
skchng@wwfint.org
mobile: +41 22 364 9018.
Carrie Svingen
WWF Forest Conversion Programme
csvingen@wallacea.wwf.or.id
mobile: +1 508 298 8037
.
Israr Ardiansyah
Media Outreach Coordinator WWF-Indonesia
iardiansyah@wwf.or.id
mobile: +62 8888 74 2445
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hamper 5 juta supporter dan memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs lokal di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di
http://www.supporterwwf.org/.