WABAH PENYAKIT ICE-ICE MENGANCAM BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PULAU LUANG, WWF INDONESIA UJI METODE PENANGANAN DARI WAKATOBI
Selama bertahun-tahun, budidaya rumput laut menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di Desa Luang Barat dan Luang Timur, Pulau Luang, Kabupaten Maluku Barat Daya. Sejak budidaya ini diperkenalkan secara luas pada 2009, banyak nelayan memilih membudidayakan rumput laut karena pendapatannya relatif stabil. Rutinitas masyarakat pun mengikuti siklus budidaya, mulai dari menyiapkan bibit, mengikatnya pada tali, merawat tanaman di laut, memanen, hingga menjemur hasil panen.
Namun memasuki 2024, pembudidaya mulai menghadapi persoalan baru. Rumput laut yang sebelumnya tumbuh normal menunjukkan gejala penyakit ice-ice. Ciri dari penyakit ini ditandai dengan bagian tubuh rumput laut yang disebut thallus berubah menjadi putih dan mudah patah. Akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat, sehingga menurunkan hasil panen. Dampaknya langsung dirasakan oleh pembudidaya bibit yang telah dirawat selama berminggu-minggu dapat rusak sebelum memasuki masa panen. Waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan selama proses budidaya ikut terdampak kondisi tersebut membuat pembudidaya menghadapi risiko kerugian sejak masa pemeliharaan.
Penyakit ice-ice sebenarnya telah lama dikenal dalam budidaya rumput laut di berbagai wilayah Indonesia. Adanya penyakit ini sering dikaitkan dengan perubahan kondisi lingkungan, seperti suhu, salinitas, dan kualitas air, yang membuat rumput laut mengalami stres sehingga lebih rentan terhadap infeksi bakteri. Hubungan antara faktor lingkungan dan penyakit membuat upaya penanganan perlu mempertimbangkan kondisi ekosistem tempat rumput laut dibudidayakan.

Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia
Situasi tersebut mendorong WWF-Indonesia bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Gugus Pulau (CDKP GP) XI dan XII, Penyuluh Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan wilayah Maluku Barat Daya, serta Dinas Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya memperkenalkan metode penanganan ice-ice berbasis bahan alami kepada pembudidaya di Pulau Luang yang tidak mengancam ekosistem perairan dan keberlangsungan budidaya dalam jangka panjang.
Kegiatan dilaksanakan pada 20 April 2026 di Balai Desa Luang Barat dan berlanjut pada 22 April 2026 di Kantor Desa Luang Timur. Metode yang diperkenalkan merupakan hasil praktik yang telah diterapkan oleh kelompok pembudidaya di Wakatobi. Di Pulau Luang, metode tersebut mulai diuji untuk melihat kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan dan praktik budidaya setempat.
Pendekatan yang diperkenalkan menggunakan bahan alami: bubuk daun tembelekan dan alang-alang. Materi disampaikan oleh narasumber (Ibu Makritan), pendamping pembudidaya di Wakatobi. Di sana, kombinasi kedua bahan ini mampu menekan serangan ice-ice dan menjaga kesehatan rumput laut. Kedua bahan ini dipilih karena ramah lingkungan, mudah dijumpai di sekitar desa, dan belum banyak dimanfaatkan. Daun tembelekan mengandung senyawa aktif seperti saponin, tanin, alkaloid, dan steroid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyakit ice-ice (Tolanamy et al., 2017), sedangkan alang-alang mengandung auxin, gibberlin, cytokinin, arundoin, yang dapat mempercepat pertumbuhan rumput laut (Hidayat, 2015). Sama seperti di Wakatobi, kedua bahan ini juga mudah dijumpai di sekitar pemukiman warga di MBD, sehingga temuan ini menjadi dasar penggunaan kedua bahan dalam metode yang telah dicoba di Wakatobi.

Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia
Proses diskusi dan uji coba di Pulau Luang dipenuhi rasa ingin tahu dan harapan masyarakat. Sebanyak 17 peserta dari Desa Luang Barat dan 30 peserta dari Desa Luang Timur hadir. Paul J. Wolontery selaku kepala Desa Luang Barat menyampaikan “Berdasarkan materi yang sudah disampaikan, kami sudah sangat paham dan kami siap untuk menindaklanjuti hasil dari sosialisasi ini. Kami sebagai pemerintah Desa memiliki harapan yang baik dengan adanya sosialisasi yang disampaikan. Mudah-mudahan apa yang disampaikan dan dicoba pada hari ini berhasil dan apabila berhasil akan kami sebarkan ke masyarakat supaya dapat diaplikasikan.“
.

Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia

Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia
Setelah sesi diskusi, peserta mengikuti praktik pembuatan larutan rendaman menggunakan bubuk daun tembelekan dan alang-alang. Bibit rumput laut yang menunjukkan gejala ice-ice direndam sesuai prosedur, kemudian diikat kembali pada tali budidaya sebelum ditanam di laut.
Tahap berikutnya adalah pemantauan. Bibit yang telah diberi perlakuan diamati setiap lima hari untuk mencatat perubahan kondisi tanaman, tingkat serangan penyakit, dan pertumbuhannya. Hasil pengamatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas metode yang sedang diuji.
Perwakilan pembudidaya, Kevin Miru, juga menyampaikan harapannya terhadap keberlanjutan kegiatan tersebut.
“Kami bersyukur kegiatan ini dilakukan pada hari ini. Kami memberikan apresiasi kepada narasumber dan WWF-Indonesia karena telah berbagi pengalaman penanganan ice-ice ini kepada kami (pembudidaya di Pulau Luang). Kami akan tetap berkolaborasi/mendukung kegiatan kedepan yang terlaksana di Pulau Luang untuk mendukung kesejahteraan dan kemajuan pembudidaya di Pulau Luang. Terkait dengan apa yang sudah disampaikan penting, namun saya merasa kami sebagai pembudidaya juga perlu menjaga laut agar laut berdampak baik juga kepada kami”, ujar Bapak Kevin Miru, perwakilan pembudidaya di Desa Luang Barat.
Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia
Photo: ©WWF-Indonesia/ Sudarmiyanto Zainudin
Photo: ©WWF-Indonesia/ Annisa S. Aulia
Pemantauan masih berlangsung sehingga hasil uji coba belum dapat disimpulkan. Data dari beberapa siklus budidaya akan digunakan untuk melihat bagaimana bibit merespons perlakuan tersebut dan apakah metode yang telah diterapkan di Wakatobi dapat digunakan pada kondisi budidaya di Pulau Luang. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan dan penanggulangan permasalahan penyakit Ice-ice dalam praktik budidaya rumput laut.
Referensi:
Hidayat, A. 2015. Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Bibit Awalnya Direndam dengan Kombinasi Larutan Ekstrak Tembelekan (Lantana camara) dengan Ekstrak Akar Alang-Alang (Imperata cylindrica) yang Dipelihara dengan Metode Long Line [SKRIPSI]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Uleo, Kendari.
Tolanamy, E. S., R. S. Patadjai, dan I. Nur. 2017. Potensi Ekstrak Daun Tembelekan Lantana camara sebagaiPenghambat Tumbuh Bakteri pada Rumput Laut Kappaphycus alvarezii. Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan. 1(1): 9-16. https://doi.org/10.33772/jsipi.v1i1.6590