PRODUK OLAHAN LAUT BERKELANJUTAN MENJADI FAVORIT LOMBA INOVASI PRODUK PERIKANAN
Oleh: Faridz R. Fachri (Fisheries Business Officer, WWF-Indonesia)
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Cahaya merupakan kelompok perempuan yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan peran perempuan terhadap konservasi di Taman Pulau Kecil (TPK) Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Salah satu komitmen yang dipegang oleh KUB Cahaya dalam menjalankan kegiatan bisnisnya adalah dengan memanfaatkan bahan baku yang diperoleh dengan cara praktik-praktik perikanan yang ramah lingkungan. Selain itu, bisnis yang dijalankan oleh KUB Cahaya juga fokus pada unsur edukasi konservasi laut yang disebarluaskan kepada anggota keluarga dan warga sekitar, dengan target utama para generasi muda sebagai penerus di masa depan.
Perjalan KUB Cahaya dilalui dengan proses yang tidak selalu mulus. Hilangnya motivasi, sulitnya berkumpul dan bekerja dalam kelompok, serta belum berkembangnya naluri usaha yang kuat, merupakan isu-isu yang harus segera diatasi demi mencapai tujuan bersama. Mencapai tingkat produksi yang konstan dan berkelanjutan merupakan suatu capaian awal yang bagus. Semangat menuju capaian yang lebih baik itu mulai muncul dan berkembang ketika KUB Cahaya diundang untuk menghadiri babak final “Lomba Inovasi Produk Perikanan” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP KKP) pada tanggal 30 Oktober - 1 November 2015 lalu di Bandung. Setelah menyeleksi 180 formula produk olahan perikanan dari seluruh Indonesia, hanya 21 formula yang berhak tampil di babak final, termasuk produk hasil kreasi KUB Cahaya.
Produk hasil kreasi KUB Cahaya, yaitu “KRISTELA”, merupakan kue kering hasil perpaduan antara bahan baku lokal – yaitu enbal – dengan bahan baku perikanan yang telah diketahui asal usulnya (traceability), seperti rumput laut kotoni, hasil budidaya masyarakat lokal; serta ikan puri (teri) yang ditangkap di bagan. Inovasi ini dianugerahi apresiasi oleh Ditjen PDSPKP sebagai ‘Juara Favorit’, setelah dilakukan penjurian oleh pakar gizi, koki, peneliti pangan, dan pengusaha. Kabar ini sangat membanggakan, mengingat KUB Cahaya merupakan satu-satunya perwakilan dari Provinsi Maluku dan salah satu dari dua peserta dari Indonesia Timur, yang bersaing dengan perwakilan dari wilayah Indonesia lainnya. Hal yang terpenting dari capaian ini adalah meningkatnya motivasi, serta proses pembelajaran secara langsung dengan kelompok lain yang lebih maju agar dapat diterapkan dalam kelompok.
Apresiasi memang dibutuhkan dalam meningkatkan semangat, kinerja dan produktivitas dalam bekerja. Suatu harapan dan cita-cita besar bagi KUB Cahaya agar kontribusi mereka terhadap keberadaan kawasan konservasi TPK Kei Kecil dapat nyata dirasakan, khususnya dalam sisi edukasi konservasi; pengembangan bisnis perikanan berkelanjutan melalui #beliyangbaik; serta penurunan tekanan yang terjadi di garis pantai akibat aktivitas ‘bameti’.
Sebagai info tambahan, ‘bameti’ merupakan aktivitas di garis pantai ketika air laut surut dengan cara mencungkil dan mengambil (hand picking) untuk komoditas kerang dan siput yang sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Bameti adalah salah satu kearifan lokal yang harus dijaga. Namun, dalam praktiknya, ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan terkait dengan pemanfaatan yang tidak merusak alam, serta batasan maksimal sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bentuk antisipasi penurunan stok di alam.
Dengan adanya kelompok masyarakat seperti KUB Cahaya, diharapkan tidak hanya dapat mendukung penurunkan tekanan tersebut, tetapi juga sebagai menjadi perubahan awal dalam pengelolaan ‘bameti’ yang lebih berkelanjutan.