PHOTOVOICES: MENGABADIKAN BORNEO DARI MATA MASYARAKAT SETEMPAT
Potret Labian-Leboyan Dalam Sudut Pandang Masyarakat
Selama 7 bulan dari bulan Juni-Desember 2008 sebanyak 30.000 saksi alam Borneo berupa foto-foto yang dihasilkan oleh 70 fotografer lokal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Labian-Leboyan yang merupakan koridor dua taman nasional Heart of Borneo yaitu Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum. Para fotografer ini terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak sekolah berasal dari 6 desa di sepanjang koridor dua taman nasional tersebut yaitu Desa Mensiau, Desa Labian, Desa Sungai Ajung, dan Desa Melembah, semuanya berada di Kecamatan Batang Lupar dan dua desa lainnya di Kecamatan Selimbau yaitu Desa Semalah dan Desa Leboyan.
Di balik ribuan foto tersebut terselip banyak cerita masyarakat di seputar alam, budaya tradisional dan ekonomi. “Sebelumnya kami tidak pernah menyadari bahwa foto itu begitu penting, namun lewat kegiatan ini selain menghasilkan karya seni yang indah, juga sebuah karya yang mengandung informasi yang penting yang dapat mempengaruhi masa depan kami,” kata Sodik Asmoro, pemuda Desa Meliau yang menghasilkan banyak karya foto tentang alam dan lingkungan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.
Foto yang mempengaruhi masa depan masyarakat? Karena lewat foto masyarakat lokal bisa mengekspresikan pemikiran, perhatian, harapan dan kehidupan mereka sehari-hari mengenai keadaan lingkungan, kondisi sosial, kualitas pendidikan dan kesehatan serta apa yang mereka hargai mengenai budaya mereka yang terpelihara secara turun temurun. Suara dari masyarakat ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi pemerintah daerah, organisasi nonpemerintah dan pihak pengambil keputusan lainnya dalam merencanakan pembangunan daerah agar strategis dan betul-betul bermanfaat bagi masyarakat.
Program mendokumentasikan aspirasi dan harapan masyarakat melalui media visual fotografi ini dinamakan Program Photovoices, merupakan program bersama antara WWF-Indonesia, Photovoices International, National Geographic dan Ford Foundation. Dengan kamera yang sangat sederhana serta selama beberapa hari menerima pelatihan dasar fotografi dan selanjutnya didampingi oleh tujuh fasilitator yang setiap bulan akan saling bertemu dan mendiskusikan mengenai foto-foto yang telah mereka ambil, hampir semua foto yang dihasilkan oleh masyarakat adalah foto-foto yang dapat ‘berbicara’.
National Geographic Indonesia menilai bahwa masyarakat setempat mampu menuangkan dua elemen penting dalam fotografi yakni menghasilkan karya seni foto yang bagus dengan tampilan visual yang sangat natural karena didukung oleh teknik foto yang baik serta dapat menyampaikan pesan informasi yang penting di dalamnya.
Pada bulan Desember 2008, dari tanggal 16-20 Desember, untuk pertama kalinya sekitar 200 foto terseleksi dipamerkan di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu. Momen ini juga dimanfaatkan untuk melaksanakan diskusi-diskusi antara seluruh fotografer lokal, kaum akademis, aparat pemerintah dan aktivis lingkungan hidup mengenai masalah-masalah penting berdasarkan foto-foto dan cerita di balik foto-foto tersebut. Para fotografer juga berkesempatan mempertunjukkan keahlian mereka dalam menenun tradisional, tarian tradisional dan musik khas daerah mereka.
Pada bulan Februari 2009, dari tanggal 26 Februari – 1 Maret 2009, sekitar 30 karya terbaik program Photovoices Kalimantan Barat ini dipamerkan kembali di Pameran Fotografi FOCUS 2009 yang diselenggarakan oleh National Geographic Indonesia. Pada tanggal 1 Maret tiga perwakilan dari masyarakat Kapuas Hulu yang merupakan fotografer program Photovoices, yang merupakan perwakilan dari tiga suku penduduk DAS Labian-Leboyan, Leo Pameang dari suku Dayak Tamanbaloh, Suryadi dari suku Melayu dan Sodik Asmoro dari suku Dayak Iban membagi pengalaman dan cerita mengenai Borneo di daerahnya dari sisi lingkungan/alam, budaya tradisional dan ekonomi kepada para pengunjung Jakarta Convention Center di Panggung Utama Photovoices 2009.
Menurut Sodik, dengan kegiatan Photovoices itu keenam desa kemudian bersepakat untuk memperkuat hubungan satu sama lain dengan membentuk Forum Komunikasi Masyarakat DAS Labian-Leboyan. Diharapkan forum ini menjadi saluran yang efektif bagi masyarakat untuk mengadvokasi aspirasi mereka dalam konteks pembangunan dan pemanfaatan serta pelestarian sumberdaya alam khususnya di sepanjang DAS Labian-Leboyan.
Sebagai tindak lanjut, program Photovoices bersama masyarakat sepakat untuk meninggalkan masing-masing satu kamera untuk 6 desa sebagai aset desa yang memungkinkan masyarakat mengumpulkan data informasi yang belum dapat mereka kerjakan semasa program Photovoices dilangsungkan selama 7 bulan sebelumnya. Bagi WWF sendiri, informasi maupun aset tersebut dapat membantu mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjalankan program restorasi koridor Labian-Leboyan yang tengah berlangsung saat ini.
“Memahami tradisi dan kepercayaan sebuah komunitas merupakan hal penting yang dapat membantu kita dalam membuat strategi pembangunan berkesinambungan dan untuk melindungi sumber daya alam yang ada. Hal terpenting dari hasil karya masyarakat yang luar biasa ini adalah dapat menjadi informasi penting bagi pemerintah dan organisasi lainnya, serta dapat memberikan edukasi bagi masyarakat luar tentang keragaman hayati dan budaya masyarakat di sepanjang koridor kedua taman nasional ini, ” ujar Ann McBride Norton, Direktur Photovoices.
Sementara itu Koordinator Nasional Program Heart of Borneo WWF-Indonesia Wisnu Rusmantoro menyatakan bahwa aspirasi masyarakat setempat adalah aset penting dalam merumuskan strategi dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang lestari. “WWF sangat percaya bahwa program konservasi dan upaya pembangunan berkelanjutan yang menjadi salah satu semangat penting Program Heart of Borneo yang dideklarasikan oleh 3 negara: Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dapat berjalan dengan baik jika semua pelaku pembangunan mau belajar dari pengetahuan dan kearifan sosial budaya masyarakat setempat.“
Program dengan slogan “Memberdayakan Masyarakat Melalui Fotografi” merupakan program pertama Photovoices di Borneo. Program yang sama sebelumnya dilaksanakan di Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Program Photovoices di Borneo selanjutnya adalah di Kalimantan Tengah, tepatnya di kawasan pegunungan Muller yang termasuk dalam kawasan Heart of Borneo. [NA]
Foto-foto dapat dilihat di :
http://www.photovoicesinternational.org/indonesia/en/slideshows/borneo_gallery/pages/borneo_slide_show01.htm