PESELANCAR, PEMUSIK, DAN PENYU
Kuta , 26 Oktober 2008 - Sebanyak 30 ekor anak penyu (tukik) dilepasliarkan di Pantai Kuta dalam acara Rip Curl Surf and Music Festival 2008. Acara tersebut merupakan kerjasama Rip Curl dan WWF-Indonesia. Selama acara berlangsung, WWF-Indonesia berkesempatan untuk memberikan edukasi bagi publik tentang pentingnya konservasi dan penyelamatan penyu.
“Kami sangat berterima kasih kepada WWF-Indonesia atas kerjasama yang saling mencerahkan ini, saya berharap pelepasliaran tukik-tukik tersebut bisa menjadi salah satu tonggak konservasi spesies tersebut, memperhatikan persoalan lingkungan adalah salah satu agenda besar kami.” Ujar Clemens Berger, Marketing Manager Rip Curl Asia.
“Peselancar adalah salah satu elemen masyarakat yang bisa memainkan peran penting bagi konservasi penyu, mereka bermain dekat pantai dan dapat menjadi saksi mata bagi aktivitas kehidupan penyu. Perdagangan ilegal daging, telur, dan cangkang penyu dapat dilaporkan oleh para peselancar tersebut.” Dewi Satriani, Koordinator Komunikasi Program Kelautan WWF-Indonesia, menambahkan.
Selama kegiatan berlangsung, WWF-Indonesia menggelar penggalangan dana melalui penjualan suvenir, adopsi tukik, seni instalasi, dan capoeira. Acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada pemenang kompetisi selancar dan dilanjutkan dengan pentas musik. Kelompok musik asal Jakarta, Netral, bermain sebagai bintang tamu dalam penutup pentas tersebut. (aul)
Berita Foto:
Adopsi Tukik © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL
Instalasi ""Turtle Bowl"" oleh Advantage yang menggambarkan ancaman bagi tukik yang berakhir di mangkuk sup © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL
Mewarnai penyu bagi anak-anak © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL
Kreativitas, mewadahi generasi muda untuk sadar lingkungan dari dini © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL
Aksi Capoeira Senzala © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL
Pelepasliaran tukik oleh pemenang kompetisi selancar, dan adopter tukik lainnya. © WWF-Indonesia / Des SYAFRIZAL