MERAWAT BENTANG ALAM PAPUA: MENGHIDUPKAN SOLUSI BERBASIS ALAM DI TINGKAT TAPAK
Pagi itu, ruang pertemuan di Hotel Horison Sentani, Jayapura, tampak hidup. Sekitar 60 pasang mata dari berbagai latar belakang—mulai dari pejabat pemerintah, aktivis organisasi masyarakat sipil (CSO), penggerak komunitas lokal (CBO), akademisi, hingga tim WWF-Indonesia—berkumpul dengan satu keresahan sekaligus harapan yang sama. Selama empat hari penuh, dari tanggal 1 hingga 4 Juni 2026, mereka menyelami ruang-ruang diskusi intensif dalam pelatihan bertajuk Nature-based Solutions (NbS) for Climate Adaptation and Ecosystem-based Adaptation (EbA). Di balik dinding ruangan, sebuah langkah strategis sedang dirajut demi memperkuat kesiapan Tanah Papua dalam menghadapi riak perubahan iklim yang kian nyata dan menantang.
Tanah Papua bukan sekadar hamparan hijau di ujung timur Indonesia; ia adalah rumah bagi megabiodiversitas dunia yang luar biasa kaya, namun sekaligus menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim global. Menyadari posisi rentan tersebut, pelatihan ini hadir bukan hanya untuk membedah teori cuaca, mitigasi, atau adaptasi semata. Lebih dari itu, ruang belajar bersama ini berupaya membumikan pendekatan Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions) dan Adaptasi Berbasis Ekosistem (Ecosystem-based Adaptation) sebagai tameng hidup untuk menjaga ketahanan masyarakat serta keberlanjutan ekosistem di masa depan.
Wika Rumbiak, Head of Forest & Wildlife WWF Indonesia Program Papua, menekankan bahwa di tengah krisis iklim saat ini, penguatan kapasitas di tingkat tapak harus digerakkan lewat kolaborasi yang erat. Menurutnya, pemahaman mengenai adaptasi berbasis ekosistem dan penguasaan terhadap peluang pendanaan iklim harus berjalan beriringan di semua tingkatan. Model-model EbA yang kontekstual, efektif, dan berkelanjutan pun hanya akan tercipta jika kita konsisten mempromosikan perpaduan antara ilmu pengetahuan modern, pengalaman nyata masyarakat di lapangan, dan kearifan lokal yang telah mengakar lama.

Nuansa global pun terasa kental dalam ruang pelatihan ini dengan hadirnya para ahli langsung dari jaringan internasional WWF. Shaun Martin dan Ryan Bartlett, yang menempuh perjalanan jauh dari WWF-US di Washington D.C., membawa misi penting tentang bagaimana manusia bisa bekerja sama dengan alam untuk beradaptasi terhadap badai, kenaikan air laut, kekeringan, hingga tanah longsor. Melihat antusiasme yang membuncah dari para peserta, Shaun mengaku optimis bahwa gagasan-gagasan segar dari pelatihan ini akan menjadi bekal berharga yang siap dibawa pulang ke komunitas dampingan masing-masing di Papua. Semangat yang sama diutarakan oleh Henna Tanskanen dari WWF Finland. Baginya, dampak iklim seperti banjir pesisir sudah mulai mengancam mata pencaharian warga Papua. Melalui inisiatif lokal yang sudah bergerak, Henna berharap kolaborasi lintas sektor ini tidak berhenti di sini, melainkan berlanjut pada penyusunan proyek nyata serta penggalangan sumber daya pendanaan yang lebih luas demi melindungi manusianya sekaligus alam tempat mereka bernaung.
Menjemput peluang pendanaan iklim (climate finance) global memang menjadi salah satu menu utama yang dirancang khusus dalam pelatihan ini. Para peserta tidak sekadar disuguhi kebijakan iklim dari tingkat daerah hingga global, tetapi juga didampingi secara langsung untuk merancang proposal EbA yang kompetitif dan memenuhi standar donor antarbangsa. Pengalaman berharga ini dirasakan langsung oleh Fikri Al Mubarok, seorang Pengendali Ekosistem Hutan dari BBKSDA Papua. Baginya, mendapatkan informasi langsung dari narasumber global telah membuka wawasan baru dan mengubah perspektifnya dalam melihat isu lingkungan serta teknis pengajuan proposal donor. Meski demikian, Fikri mengingatkan bahwa ini barulah langkah awal; para peserta masih membutuhkan proses pendampingan lanjutan dan peninjauan berkala agar rancangan proyek yang mereka susun pascapelatihan benar-benar bisa diimplementasikan secara maksimal di lapangan.
Harapan akan keberlanjutan aksi ini juga menggema dari suara masyarakat akar rumput. Yohanes Yesnath dari Pokdarwis Kampung Nanggouw merasakan betul manfaat dari pemahaman baru ini untuk mengelola lingkungan kampung halaman mereka menjadi lebih baik. Ia berharap program edukasi semacam ini bisa terus diperluas dengan dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah, sehingga kelompok wisata dan masyarakat kampung secara umum mampu mengambil langkah adaptif dalam menghadapi perubahan alam di masa depan. Dari sudut pandang perencanaan wilayah, Sena Aji selaku Direktur Perkumpulan MNUKWAR Papua melihat bahwa pendekatan EbA menawarkan keseimbangan yang sangat relevan melalui tiga pilar utamanya: iklim, manusia, dan alam. Bagi Sena, jika konsep seimbang ini diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan di berbagai daerah di Tanah Papua, maka akan lahir generasi baru yang sadar lingkungan, yang mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mengoptimalkan potensi daerah demi kesejahteraan masyarakat.
Melalui investasi waktu dan pikiran selama empat hari yang intensif, pelatihan ini pada akhirnya memicu harapan besar. Hasil yang ingin dituai bukan sekadar pemahaman komprehensif tentang mitigasi iklim atau kemahiran teknis menyusun proposal pendanaan saja, melainkan terbangunnya sebuah jejaring kolaborasi multipihak yang solid antarinstansi di Tanah Papua. WWF-Indonesia bersama seluruh mitra percaya bahwa ketahanan iklim yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan hanya bisa tegak berdiri jika ditopang oleh kerja sama lintas sektor yang konsisten. Sebagaimana apresiasi yang disampaikan oleh Wika Rumbiak kepada WWF-US dan WWF Finland atas dukungannya, semangat belajar bersama yang menyala di Jayapura hari ini adalah modal paling berharga untuk menjaga dan merawat masa depan hijau di Tanah Papua.