MENGAPLIKASIKAN TEKNIK GEOTAGGING DALAM MEMANTAU PROSES RESTORASI HUTAN DAN LAHAN
Oleh: Natali J.Tangkepayung
Jayapura – WWF-Indonesia Program Papua hari ini (18/2) mengadakan pelatihan program NEWtrees, yaitu pemantauan pertumbuhan tanaman melalui teknik GeoTagging. Pelatihan yang berlangsung selama satu hari ini, memperkenalkan sekaligus mendorong penggunaan aplikasi GeoTagging untuk memantau pertumbuhan tanaman yang ditanam untuk restorasi area di kawasan bernilai konservasi tinggi – seperti taman nasional dan hutan lindung – yang rusak akibat deforestasi.
Berdasarkan hasil citra landsat tahun 1999-2000 mengindikasikan terdapat lahan kritis di Indonesia yang perlu direhabilitasi seluas 101,73 juta ha. Dari luas tersebut 42,11 juta ha berada di luar kawasan hutan, dan seluas 59,62 juta ha berada di dalam kawasan hutan. Untuk menanggulangi kerusakan hutan yang semakin parah, di tahun 2003 lalu, pemerintah menetapkan berbagai program untuk mengurangi terjadinya kerusakan hutan diantaranya adalah Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN). Kerusakan hutan akan menyebabkan ketidakseimbangan alam seperti pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati dan kekeringan akibat kurangnya pasokan sumber air tanah.
Pelatihan ini membekali peserta pelatihan dengan sekilas perkembangan GERHAN di Provinsi Papua, serta latar belakang dan fungsi teknik GeoTagging dalam memantau rehabilitasi hutan dan lahan di Papua. Para peserta juga berkesempatan untuk mengaplikasikan teknik ini secara langsung.
“Teknik GeoTagging yang diterapkan pada program NEWtrees merupakan penggabungan cara menanam pohon secara tradisional dan memantau pertumbuhannya dengan teknologi masa kini yang dapat diperoleh secara gratis”, jelas Dudi Rufendi, Koordinator Program NEWtrees WWF-Indonesia yang hadir juga sebagai narasumber pelatihan. “Teknologi ini sesungguhnya digunakan untuk meningkatkan akuntabilitas dari reforestasi atau penghijauan kembali di lapangan dengan memberikan data tertulis dan visual, karena dalam metode ini kami coba kembangkan data-data selain koordinat pohon, tinggi dan diameter pohon, juga foto pohon tersebut, yang secara geografis sangat akurat karena diberikan atribut koordinat yang tepat, dimana foto pohon adalah benar-benar diambil di lokasi penanaman”, lanjutnya.
Program NEWtrees merupakan bentuk dukungan WWF-indonesia terhadap program pemerintah dalam rangka restorasi hutan dan pengurangan emisi karbon. Program ini bertujuan untuk melakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan secara terpadu dan terencana dengan melibatkan semua instansi pemerintah terkait, swasta dan masyarakat, agar kondisi lingkungan dapat kembali berfungsi sebagai daerah resapan air.
Tanaman yang ditanam diberi nama orang atau pihak yang mengadopsi, kemudian difoto dan dilengkapi dengan perangkat GPS lalu diunggah ke situs resmi NEWtrees. Pertumbuhan “NEWtrees” yang telah ditanam dapat dipantau secara online melalui Google Earth, karena setiap pohon akan memiliki koordinat GeoTag – yaitu koordinat yang menunjukkan letak “NEWtrees”.
Pelatihan NEWtrees kali ini berlangsung di kantor WWF-Indonesia Program Papua di Jayapura, dan diikuti oleh 20 orang peserta dari berbagai instansi seperti Dinas Kehutanan dan Konservasi Propinsi Papua, Dinas Kehutanan dan Konservasi Kabupaten Jayapura, Kerom dan Kota Jayapura, BPDAS Mamberamo, BKSDA, Universitas Cenderawasih dan Klub Pencinta Alam Hiroshi.
“Para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini dan berharap dapat mengaplikasikan teknologi ini di institusi mereka masing-masing. Sebagai contoh, penerapan teknik ini dapat diaplikasikan dalam RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) yang dilaksanakan tiap tahun oleh Dinas Kehutanan, sehingga bupati dan kepala dinas dapat memantau dengan akurat pelaksanaan program di lapangan, meningkatkan kepercayaan publik terhadap program yang sedang dijalankan”, demikian ujar Dudi Rufendi pada penutupan pelatihan.