MEDIA DAN COMMUNITY GATHERING: KOLABORASI PENYADARTAHUAN ISU SUSUT DAN SISA PANGAN
Permasalahan pengelolaan sampah saat ini menjadi isu penting di berbagai wilayah Indonesia karena meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, terus berupaya mengatasi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh penumpukan dan pembuangan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan besar, tetapi juga dirasakan di daerah timur Indonesia, termasuk Kabupaten Jayapura dan Merauke yang secara geografis terletak di Tanah Papua. Kedua wilayah ini turut mengalami dampak lingkungan sehingga diperlukan perhatian serta strategi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi lokal. Berbicara terkait hal ini, pandangan masyarakat fokus tertuju pada sampah anorganik seperti plastik, karton dan lain sebagainya. Keberadaan sampah organik sedikit dihiraukan, padahal jenis ini dapat menghasilkan gas metana jika tidak dikelola dengan baik. Gas metana adalah salah satu unsur gas rumah kaca yang mampu memanaskan bumi 28 kali lebih besar dibandingkan gas karbondioksida (IPCC,2014).
Untuk menjawab permasalahan tersebut, WWF-Indonesia Program Papua menjalankan program yang bernama Our Circular Food Future. Upaya ini dilakukan untuk menurunkan kadar emisi gas metana melalui pengurangan susut dan sisa pangan. Susut Pangan merupakan penurunan kuantitas pangan yang terjadi pada proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentuk pangan. Sisa Pangan merupakan sebagai pangan layak layak dan aman untuk dikonsumsi manusia yang berpotensi terbuang menjadi sampah makanan pada tahap distribusi dan konsumsi.
Menanggulangi isu susut dan sisa pangan tentunya bukanlah hal yang mudah, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan secara berlebihan tanpa menghabiskan. Belum lagi mindset tentang sampah makanan yang mudah terurai di alam menjadikannya sering dibuang tanpa dikelola. Oleh sebab itu, peningkatan pemahaman menjadi hal yang patut diberikan bagi masyarakat luas. Dalam mewujudkannya tidak bisa dilakukan sendirian melainkan perlu kolaborasi antar pihak. Komunitas dan media merupakan mitra WWF-Indonesia Program Papua yang mampu berkontribusi dalam meningkatkan penyadartahuan publik melalui platform yang mereka miliki.
Pada 12 Februari 2025, pertama kali dilakukan pertemuan Community Gathering bersama komunitas lokal yang ada di Kota dan Kabupaten Jayapura. Dimana peserta yang terlibat mencapai 23 peserta berasal dari 13 komunitas muda. Pengantar terkait Yayasan WWF Indonesia Program Papua diberikan sebagai bentuk pengenalan awal tentang wilayah kerja hingga program yang sedang berjalan. Jika pengetahuan sampah anorganik sudah menyebar ke telinga setiap individu. Lain halnya dengan sampah makanan sehingga pada kesempatan ini diberikan pemahaman terkait susut dan sisa pangan. Penting juga untuk mengetahui bagaimana menyusun strategi advokasi dalam pengurangan limbah makanan untuk mendukung perubahan melalu kebijakan dari pemangku kepentingan. Komitmen untuk mengkampanyekan isu susut dan sisa pangan disepakati oleh komunitas, pada akhir kegiatan dengan menggunakan tagar dan slogan bersama. Tagar yang disepakati berupa berupa #Japraxpedulisampahorganik, #Habistradasisa, #Kopilahkokeren, #Tradasisamakanan dan #Foodwastemovement. Kemudian terdapat sebuah slogan yang berbunyi “Mari torang kelola sampah makanan dengan bijak memilah. Ko bijak pangan, ko selamatkan bumi”.

Seperti halnya komunitas, informasi yang sama juga diberikan kepada 6 media yang berdomisili di Kota dan Kabupaten Jayapura melalui media gathering pada 13 Februari 2025. Pengetahuan ini dapat dikatakan sebagai hal baru bagi mereka, dikarenakan selama ini lebih banyak meliput pemberitaan terkait sosial, ekonomi dan politik. Pasca pertemuan tiap media mulai meluncurkan pemberitaan melalui platform yang mereka miliki. Ada yang mengedukasi tentang sampah makanan dengan bercerita menggunakan video menarik yang diupload di media sosial. Penulisan berita tentang pelaksanaan kegiatan, inisiatif yang sedang dilakukan hingga himbauan bagi masyarakat luas. Tidak berhenti disitu, penyebaran informasi juga dilakukan melalui kanal youtube dengan memberikan infromasi tentang pengelolaan sampah makanan.
Bukan hanya di Jayapura, di Kabupaten Merauke juga turut dilaksanakan community dan media gathering yang mana kali ini pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan tepatnya pada 22 April 2025 di Gedung Fakultas Pertanian, Universitas Musamus. Sebanyak 37 orang terlibat yang berasal dari 11 media dan 14 komunitas. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan pelaksanaanya di Jayapura, hasilnya didapatkan feedback dari pengisian kuisioner yang menjadi landasan dalam membuat strategi pelibatan. Selain itu, terdapat beberapa pemberitaan awal tentang susut dan sisa pangan di Kabupaten Merauke jika sekilas melihat kebelakang bahwasannya lebih banyak berita tentang sampah anorganik yang bertebaran di sosial media maupun kanal informasi lainnya. Berkaca dari ketiga kegiatan diatas, menunjukan bahwa kolaborasi merupakan salah satu bagian yang penting untuk dilakukan dalam mencapai tujuan-tujuan besar. Melalui kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan penyadartahuan bagi masyarakat di Kabupaten Jayapura dan Merauke tentang isu pengelolaan sampah khususnya dalam hal ini susut dan sisa pangan.