DKI JAKARTA, KOTA PERTAMA INDONESIA PERKUAT AKSI GLOBAL EARTH HOUR
- EARTH HOUR targetkan jangkau 1 milyar orang di 1.000 kota di dunia
- 1.539 kota di 80 negara telah menyatakan komitmen partisipasi EARTH HOUR 2009
- EARTH HOUR adalah langkah bersama menuju pembangunan berkelanjutan
Jakarta: Tahun ini adalah momentum bagi Indonesia untuk turut menyuarakan dukungan dalam kampanye global EARTH HOUR. Dan, DKI Jakarta menjadi kota pertama yang berpartisipasi. Pencanangan DKI Jakarta ini dinyatakan secara resmi oleh DR. Ing. H. Fauzi Bowo, yang pada hari yang sama dikukuhkan oleh WWF-Indonesia sebagai Duta EARTH HOUR 2009, bergabung dengan nama-nama besar duta kampanye ini, seperti Archbishop Desmond Tutu, Raja Swedia, Presiden Finlandia, Walikota London, Perdana Menteri Malaysia, dan masih banyak lagi.
“Sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta, saya bersedia menjadi Duta EARTH HOUR 2009 dan sekaligus tuan rumah bagi kegiatan ini. Diharapkan EARTH HOUR 2009 dapat berkontribusi menjadikan Jakarta lebih baik dari sisi efisiensi dan penghematan energi, sekaligus dalam upaya penanggulangan Perubahan Iklim.”
Pernyataan dukungan ini merupakan salah satu tindakan nyata komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap kampanye hemat energi dan perubahan iklim global, setelah sebelumnya Jakarta menjadi bagian dari Climate Leadership Group bersama 40 negara lain dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta diundang menjadi salah satu pemimpin kota dari 6 negara yang menandatangani Agreement to Partner on Climate Action di California atas undangan Gubernur Arnold Schwartzenegger.
Bentuk partisipasi yang ditunjukkan Jakarta adalah komitmen memadamkan lampu di 5 (lima) ikon Jakarta pada hari Sabtu, 28 Maret 2009, pk 20.30 – 21.30, yaitu:
- Bundaran Hotel Indonesia dan air mancurnya
- Monas dan air mancurnya
- Gedung Balai Kota
- Patung Pemuda
- Air mancur Arjuna Wiwaha
Untuk mendukung inisitif Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejumlah mitra korporasi WWF-Indonesia, terdiri atas instansi pemerintah dan pihak swasta, telah menyatakan komitmennya terhadap EARTH HOUR dan akan mematikan gedung kantor mereka yang sebagian diantaranya berada di sepanjang kawasan Sudirman, Thamrin, dan Kuningan. Selain itu, mereka secara sukarela menginformasikan kepada rekanan dan masyarakat dalam jejaring kelompok mitra korporasi tersebut untuk juga partisipasi di EARTH HOUR 2009.
Rizal Malik, Badan Pengurus WWF-Indonesia: “EARTH HOUR adalah saatnya mengingatkan masyarakat global pada emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan kontribusinya kepada perubahan iklim. EARTH HOUR juga mengingatkan masyarakat Indonesia pada konsumsi listrik kita yang masih terkonsentrasi di Jawa dan sekitar 20% pengguna listrik di Indonesia berada di Jakarta.”
Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi, WWF-Indonesia, menegaskan, “Kegiatan 1 hari EARTH HOUR ini adalah aksi simbolis. Faktor terpenting yang menentukan keberhasilan EARTH HOUR dalam penanggulangan Perubahan Iklim adalah perubahan gaya hidup menjadi hemat energi dalam jangka panjang.” Tambahnya lagi, “Jakarta memiliki potensi besar melakukan penghematan energi dan menjadi pelopor gerakan serupa di kota-kota lain di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pilih Bumi selamat.”
Inisiatif EARTH HOUR yang berawal pada tahun 2007di Sydney, Australia, dengan 2,2 juta pendukung kemudian berkembang menjadi 50 juta pendukung dari 370 kota di 35 negara di tahun 2008. Berita terbaru per 17 Maret 2009, sudah ada 1.539 kota dari 80 negara mendaftarkan diri dan memberikan komitmen mereka untuk partisipasi Earth Hour. Jauh melampaui target tahun ini yaitu menjangkau lebih dari 1 milyar orang di 1.000 kota.
Pada pukul 20.30 waktu setempat tanggal 28 Maret 2009, dunia akan menyaksikan beberapa bangunan ciri khas kota-kota dunia mematikan lampu yang merupakan simbol kampanye ini, antara lain hotel tertinggi di dunia di Dubai– Burj Dubai, menara tertinggi di sejumlah benua– Canadian National (CN) Tower di Toronto, Moscow’s Federation Tower dan Quirinale di Roma, kediaman resmi Presiden Italia, Giorgio Napolitano. Di Australia, lampu di Auckland’s Sky Tower – menara tertinggi di belahan bumi selatan – akan dipadamkan lalu diikuti oleh Gedung Opera Sydney. Sementara, di Afrika Selatan, pegunungan Table Mountain di Cape Town akan menandai EARTH HOUR dengan memadamkan sementara gemerlap lampunya.
Kontak Media: Israr Ardiansyah, Media Coordinator, WWF-Indonesia, email: iardiansyah@wwf.or.id, Hp: +62-811 266 973, Fazedah Nasution, Staf Komunikasi Progam Iklim dan Energi, email: fnasution@wwf.or.id, Hp: +62-813 15800396, fnasution@wwf.or.id
Narasumber: Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia, email: fardiansyah@wwf.or.id, Hp: +62-812 935 5105, Muhamad Suhud, Koordinator Energi, email:msuhud@wwf.or.id, Hp: +62-812 181 7973, Indra Sari Wardhani, Staf Peneliti Energi, email: iwardhani@wwf.or.id, Hp: +62-815 166 2198, Verena Puspawardani, Koordinator Kampanye, email: vpuspawardani@wwf.or.id, Hp: +62-818 897383.
Catatan untuk Editor:
TENTANG EARTH HOUR
EARTH HOUR merupakan kampanye perubahan iklim global WWF. Individu, pelaku bisnis, pemerintah dari berbagai negara di semua belahan dunia akan mematikan lampu selama satu jam sebagai pernyataan dukungan upaya penanggulangan perubahan iklim pada Sabtu, 28 Maret 2009 pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat).
Maksud kampanye ini adalah untuk menunjukkan bahwa aksi individu yang dilakukan secara global dapat mengubah bumi kita lebih baik.
Kenapa Jakarta?
Konsumsi listrik di Indonesia masih terkonsentrasi di Jawa. Pada 2007 mencapai sekitar 77% dari konsumsi nasional, dan sekitar 20% pengguna listrik di Indonesia berada di Jakarta, sedangkan untuk pasokan listrik di daerah lain di Indonesia masih berbagi dalam jumlah yang lebih kecil.
Dari data PLN tahun 2007, penjualan listrik untuk wilayah DKI Jakarta dan Tangerang sebesar 27.939 GWh atau 23% dari total konsumsi listrik di seluruh Indonesia, terbagi menjadi beberapa bagian, dengan komposisi terbesar sebagai berikut:
- 34% berasal dari sektor rumah tangga (sebagian besar di DKI Jakarta)
- 30% berasal dari sektor industri (sebagian besar di Tangerang)
- 29% dari sektor bisnis (sebagian besar di DKI Jakarta).
Jumlah total penjualan ini setara dengan 24,89 juta Ton CO2 (dihitung berdasarkan data DJLPE tahun 2004 – 2006 tentang emisi CO2 yang dihasilkan dari produksi listrik: 0,891 ton CO2/MWh).
Di DKI Jakarta sendiri, proporsi terbanyak adalah pengguna listrik bisnis dan rumah tangga, sementara sektor industri lebih banyak terfokus di Tangerang.
1 jam EARTH HOUR untuk Jakarta?
Mematikan lampu di DKI Jakarta dan sekitarnya selama 1 jam, dengan asumsi penghematan 10% dari konsumsi listrik rata-rata per jamnya =
= 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan mampu menyalakan 900 desa)
= mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
= mengurangi emisi CO2 sekitar 284 Ton CO2
= menyelamatkan lebih dari 284 pohon
= menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang.
Segera klik www.earthhour.org/indonesia untuk menyatakan dukungan Anda.
TENTANG WWF-INDONESIA
WWF adalah organisasi konservasi global mandiri dan didirikan pada tahun 1961
WWF mulai bekerja di Indonesia pada awal 1960-an melakukan penelitian pada badak dan harimau di Jawa dan. Pada April 1998, berubah menjadi organisasi nasional Indonesia dengan bentuk yayasan. WWF-Indonesia merupakan bagian independen dari jaringan global WWF dan afiliasinya yang bekerja di 110 negara di dunia. Kantor sekretariat WWF-Indonesia memimpin dan mengoordinasi 23 kantor lapangan dengan lebih dari 300 staf. Upaya konservasi WWF-Indonesia saat ini dilakukan di kawasan-kawasan lindung di 16 propinsi di Indonesia.
Visi WWF-Indonesia adalah konservasi keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan. Misi WWF-Indonesia adalah memelihara keanekaragaman hayati Indonesia dan mengurangi dampak aktivitas manusia.
Selebihnya tentang WWF-Indonesia, klik www.wwf.id