DIBUTUHKAN INFORMASI CUACA JANGKA PENDEK
JAKARTA (KOMPAS, 3 April 2009) - Tren iklim yang cenderung sulit diprediksi, dengan perkiraan intensitas hujan naik dalam waktu lebih pendek dibandingkan dengan pola sebelumnya, perlu diantisipasi. Salah satunya dengan ketersediaan informasi cuaca dalam jangka pendek yang akurat.
Selain itu. informasi yang ada harus dapat segera diteruskan kepada pengguna seperti petani, nelayan, hingga petambang. ""Kami sedang mengembangkan proyek masa tanam dengan resolusi tinggi,"" kata Ketua Program Studi Meteorologi. Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi dihubungi di Bandung, Kamis (2/4). Proyek itu dikembangkan bersama Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Resolusi tinggi yang dimaksud Aimi adalah kemampuan teknologi memperkirakan cuaca pada suatu lokasi dalam skala kecil, dalam area kurang dari satu kilometer.
Prediksi cuaca kurang dari sehari di antaranya dibutuhkan bagi nelayan dan aktivitas tambang terbuka ""Kapal penampung timah di laut bisa tenggelam karena hujan lebat tiba-tiba. Kalau dapat diprediksi, mereka bisa mencari lokasi aman,"" kata Armi yang memperoleh informasi ketika berada di Pangkalpinang. Selain itu dibutuhkan prediksi musim untuk sektor pertanian dan antisipasi ketersediaan air. Soal keterbatasan air nasional bagi pertanian pernah diungkap Departemen Pertanian.
Menurut Armi, tahun pertama (2009) proyek akan diaplikasikan di Jawa Barat Menyusul lima kawasan kantong pertanian, yaitu Sumatera Barat Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Hasil analisis iklim 30 tahun terakhir Badan Meteorologi, Kli-matologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, curah hujan tahunan di beberapa daerah ber-kurang. Adapun curah hujan beberapa daerah, seperti Sulsel dan Nusa Tenggara, naik.
Kepala Bidang Analisa Iklim dan Kualitas Udara BMKG Soe-tamto menyatakan, beberapa informasi hasil penelitiannya patut diyakini secara ilmiah.
Proyek NTB
Terkait antisipasi perubahan iklim, WWF-Indonesia mengembangkan proyek di Lombok, Nusa Tenggara Barat sejak Mei 2007. Di sana mereka mendampingi pemerintah daerah membentuk gugus tugas perubahan iklim lintas sektor.
""Hasil kajian kerentanan diperoleh prioritas adaptasi di bidang pertanian dan pesisir,"" kata Koordinator Adaptasi Perubahan Iklim WWF-Indonesia Ari Muhammad
Mereka berharap rencana yang muncul dari kajian lintas sektor itu didukung DPRD. Tim berharap hasil diskusi dan peta kerentanan wilayah terkait pola iklim yang berubah bisa diadopsi dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah.
Armi mengatakan, bagi daerah dengan tren hujan meningkat dapat dibuat lahan pertanian baru, selain memperketat pembangunan di kawasan lereng. ""Hujan bertambah atau berkurang sama-sama butuh pengelolaan agar tidak berisiko,"" ujarnya. (GSA)