DARI RUANG KELAS KE ALAM BEBAS: LANGKAH NYATA SRMA 29 BERSAMA WWF-INDONESIA MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA
Membangun budaya peduli lingkungan di sekolah tidak cukup dilakukan melalui pengetahuan di dalam kelas. Anak-anak perlu memiliki kesempatan untuk mengenal alam, berinteraksi dengan lingkungannya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk ikut menjaganya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari kerja sama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 29 dengan WWF-Indonesia Program Papua melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) (7/9/2026). Kerja sama ini menjadi langkah bersama untuk mendukung program Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS), sekaligus memperkuat penerapan nilai-nilai lingkungan sebagai calon menuju Sekolah Adiwiyata melalui pengalaman belajar yang lebih dekat dengan alam dan kehidupan sehari-hari. Salah satu bagian penting dalam membangun budaya lingkungan di sekolah adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal alam secara langsung. Ketika siswa memiliki ruang untuk berinteraksi dan memahami lingkungan di sekitarnya, kepedulian terhadap alam dapat tumbuh dari pengalaman, bukan hanya dari informasi yang mereka terima.
Melalui kerja sama ini, SRMA 29 dapat mengembangkan kegiatan yang mendorong siswa untuk lebih dekat dengan alam sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan. Proses mengenal alam tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik yang dapat diterapkan dalam keseharian di sekolah maupun di luar sekolah. "Agar anak bisa paham soal lingkungan sekitarnya, peduli dengan iklim, juga satwa, ya mereka harus diperkenalkan dengan yang paling dekat dulu. Mulai dari memahami kebersihan diri sendiri, dan juga diperkenalkan dengan yang paling dekat, yaitu alam," sahut Noreka Elisabeth Febriyanti, salah satu guru di SRMA 29.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat yang dimiliki oleh SRMA 29 yang tidak hanya berorientasi pada kondisi lingkungan sekolah, tetapi juga pada pembentukan warga sekolah yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan menjaga kebersihan, menggunakan sumber daya secara bijak, memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, memilah dan memilih jenis sampah, hingga terlibat dalam kegiatan lingkungan merupakan bagian dari proses tersebut. Dengan demikian, lingkungan tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi siswa. Dari proses mengenal alam, siswa diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan lingkungan dan secara perlahan menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Kolaborasi SRMA 29 dan WWF-Indonesia Program Papua diarahkan untuk turut membangun sikap kritis dan kreatif siswa dalam melihat persoalan lingkungan. Sikap tersebut dapat tumbuh dari kebiasaan hidup berdampingan dengan alam. Namun, siswa dituntut untuk tidak hanya mengenal dan menikmati lingkungan di sekitarnya, tetapi juga belajar mengamati perubahan dan persoalan yang mereka temui dalam keseharian.
Kedekatan dengan alam memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya dan melihat persoalan secara lebih kritis. Siswa-siswi yang menemukan sampah, misalnya, diharapkan tidak berhenti pada kesadaran bahwa sampah merupakan sesuatu yang perlu dibersihkan. Mereka dapat diajak untuk mengamati dari mana sampah tersebut berasal, mengapa sampah itu muncul, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, serta solusi apa yang dapat dilakukan untuk menguranginya.
Dari proses tersebut, sikap kritis kemudian dapat berkembang menjadi kreativitas dalam menemukan solusi. Sampah plastik misalnya, yang sebelumnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang dapat dikaji kembali dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki manfaat. Proses sederhana seperti ini mengajarkan siswa untuk tidak hanya melihat persoalan, tetapi juga mencari kemungkinan dan menciptakan solusi berdasarkan kondisi yang mereka temui. “Kita sebagai guru di sekolah ingin mengajak anak-anak murid agar tidak hanya mengamati, tetapi juga memunculkan sikap empati dan simpati terhadap lingkungan. Misal ya, anak murid melihat persoalan sampah plastik di lingkungan sekolah, kita ingin mengajak mereka agar menemukan bersama-sama cara bagaimana agar sampah plastik bisa dianggap sebagai sesuatu yang indah dan layak dipandang,” tutur Noreka kembali.
Diharapkan melalui kolaborasi ini, SRMA 29 dapat terus membangun lingkungan sekolah yang mendorong siswa untuk belajar sekaligus mengambil peran. Pada akhirnya, membangun budaya peduli lingkungan merupakan proses yang tumbuh dari keseharian. Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengenal alam, memahami persoalan di sekitarnya, serta mencari solusi dengan cara mereka sendiri, sekolah dapat menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang tidak hanya peduli, tetapi juga berani.