BELAJAR KONSUMSI BERKELANJUTAN LEWAT DISKUSI DAN BUKA PUASA BERSAMA
Pada pukul tiga sore, talkshow yang diselenggarakan di Hummingbird mulai dipersiapkan. Para peserta mulai berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, jurnalis, hingga perwakilan komunitas.
Sambil menunggu acara dimulai, mereka dipersilakan membuat keychain dengan sketsa yang diwarnai menggunakan spidol, sampai berbentuk gambar yang diinginkan. Selain sketsa gambar, ada juga gambar yang merepresentasikan berbagai ilustrasi komoditas seperti kakao, rotan, karet dan sawit. Aktivitas ini tidak hanya menjadi pengisi waktu, tetapi juga menjadi pengantar tema acara yang berkaitan dengan komoditas keberlanjutan.
Tak lama berselang lama, peserta diarahkan ke ruangan utama untuk mengikuti paparan materi dari tiga pembicara. Topik yang dibahas berkaitan dengan komoditas, pangan lokal, serta kebiasaan kecil yang dapat membentuk kesadaran konsumsi. Sebelum materi dimulai, peserta mengisi kuis interaktif untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka tentang isu tersebut.
Paparan acara pertama dibawakan oleh Samuel Pablo Pareira yang mewakili WWF-Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana pasar dapat menentukan arah industri dan ritel. Berdasarkan data yang disampaikan, banyak masyarakat sebenarnya ingin mengonsumsi produk yang lebih berkelanjutan, tetapi masih terkendala akses. Jika permintaan pasar muncul, industri akan terdorong untuk menyesuaikan produk mereka ke arah yang lebih ramah lingkungan.
Meskipun produk ramah lingkungan relatif lebih tinggi. Namun, hal ini berdampak pada pelaku komoditas yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut. Ketika mereka memperoleh upah yang lebih layak, kesejahteraan hidup mereka pun dapat meningkat. Dengan kesadaran individu, peserta tidak hanya berkontribusi pada perlindungan lingkungan, tetapi juga pada keberlangsungan hidup masyarakat di sektor komoditas. Tindakan kecil tetap dapat memengaruhi sistem pasar.
Selain itu, peserta juga dikenalkan cara mengenali produk berkelanjutan, baik dengan menelusuri asal produk maupun melalui label sertifikasi seperti RSPO, PEFC, dan ASC/MSC.
Topik selanjutnya membahas tentang sustainable diets yang disampaikan oleh Aidia Awwaaba yang juga dari WWF-Indonesia. Materi ini mengangkat kembali pola makan berbasis planet-based yang pernah menjadi dasar konsumsi masyarakat sebelum beras menjadi makanan pokok. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa apa yang dikonsumsi tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada lingkungan.
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep “Isi Piringku”, yang tidak hanya menekankan gizi seimbang tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Aidia Awwaaba menjelaskan bahwa konsumsi pangan hewani melalui proses yang lebih panjang karena membutuhkan lebih banyak sumber daya, seperti lahan, air, dan pakan ternak. Berbeda dengan pangan nabati yang dapat lebih langsung diolah atau dikonsumsi. Proses yang lebih kompleks ini membuat jejak lingkungan dari pangan hewani cenderung lebih besar. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan dalam mengonsumsi pangan hewani dan nabati sebagai bagian dari pola makan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, WWF bekerja sama dengan ritel supermarket untuk melihat pola konsumsi masyarakat sekaligus mempermudah akses terhadap pilihan pangan yang lebih berkelanjutan. Upaya ini diarahkan pada penguatan pangan lokal, peningkatan literasi gizi, serta mendorong kebiasaan makan yang lebih seimbang.
Widiyani sebagai perwakilan dari Earth Hour Bandung menutup dialog hari itu Ia mengajak peserta membayangkan apa yang dapat dilakukan jika lampu dimatikan selama satu jam. Gerakan ini berawal dari Sydney dan kini telah menyebar ke lebih dari 180 negara. Jika dilakukan secara masif, gerakan ini tidak hanya menghemat listrik, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi terhadap lingkungan. Meskipun terlihat sebagai tindakan kecil, upaya ini tetap memiliki arti dalam pengurangan penggunaan energi.
Widiyani juga menekankan bahwa untuk memengaruhi orang lain, seseorang tidak harus memiliki banyak pengikut. Ajakan dapat dimulai dari lingkar terdekat, seperti obrolan di tongkrongan atau melalui unggahan di media sosial. Anak muda memiliki peran penting dalam membentuk tren. Ketika anak muda mulai sadar terhadap gerakan yang baik, tren akan mengikuti. Dalam konteks ini, fenomena FOMO dapat dimanfaatkan untuk mendorong partisipasi terhadap kebiasaan yang lebih positif.
Menariknya, terdapat peserta yang membuat berbagai barang dari material bekas, seperti gantungan kunci dan cetakan kue. Ia terinspirasi dari temannya di Belgia yang terbiasa mengumpulkan barang bekas lalu mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang berguna. Contoh ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil dapat memberi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan ditutup dengan buka bersama.
Dari ketiga pembicara, dapat dipahami bahwa materi yang disampaikan saling berkesinambungan, mulai dari pentingnya bijak memilih produk, menjaga keseimbangan gizi dalam isi piring, hingga kebiasaan kecil yang dapat memengaruhi lingkungan. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi ini. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi dan bertukar pandangan, sehingga memperoleh wawasan baru yang dapat mereka kembangkan dalam perkuliahan.
Setelah sesi pemaparan selesai, peserta mulai mengambil makanan yang telah disediakan untuk buka puasa bersama. Suasana menjadi lebih santai. Sebagian masih mengobrol, sebagian kembali ke area workshop untuk menggambar, dan sebagian lain memilih segera menikmati hidangan yang telah disiapkan.
