EKSPEDISI KEPULAUAN ROMANG DAN DAMER: HARAPAN DARI LAUT TIMUR INDONESIA
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia menggelar talk show santai untuk berbagi cerita yang membahas hasil ekspedisi di kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya. Diskusi ini membuka wawasan tentang kondisi ekosistem laut setempat, sekaligus menunjukkan bahwa perairan di wilayah tersebut menyimpan potensi besar sebagai benteng penting bagi keanekaragaman hayati laut Indonesia. “Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi, serta menegaskan pentingnya Romang-Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara
Berdasarkan hasil ekspedisi yang dipaparkan, Kepulauan Romang dan Damer disebutkan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ekosistemnya relatif alami. Wilayah ini menjadi habitat utama bagi berbagai biota laut, termasuk beberapa spesies kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Salah satunya adalah spesies dugong yang mencapai 32 total individu dan bahkan dinyatakan sebagai habitat dugong terbesar di Indonesia. Keberadaan dugong menjadi indikator hidup yang menunjukkan bahwa kualitas air laut baik, ekosistem padang lamun sehat, dan rendahnya tekanan lingkungan. Tim ekspedisi juga menemukan terumbu karang yang kurang lebih berusia ratusan tahun dengan rata-rata 39-51% tutupan karang.
Diskusi turut menggarisbawahi berbagai tantangan dalam upaya menjaga ekosistem laut Kepulauan Romang dan Damer. Letak geografis yang terpencil, jarak yang jauh, dan keterbatasan infrastruktur kerap kali menyebabkan kendala dalam pengelolaan kawasan pesisir yang masih mempercayai praktik perburuan dugong sebagai bentuk makna kultural dalam kehidupan mereka. “Laut di Maluku Barat Daya jauh lebih luas dibandingkan dengan daratannya, sehingga laut telah menjadi sumber pangan, ekonomi, dan bagian budaya yang dimiliki oleh masyarakat pesisir,” ujar Kepala Dinas Perikanan Maluku Barat Daya, Herdy D. Urbo
Alih-alih meniadakan nilai tradisional, perlu adanya pemahaman melalui pendekatan dialog, edukasi, dan pelibatan masyarakat agar praktik yang berpotensi mengancam keberlanjutan spesies dapat ditinggalkan secara bertahap. Selain itu, kolaborasi dari berbagai pihak juga harus diupayakan guna memperkuat pemahaman bahwa perlindungan ekosistem laut tidak dapat dipisahkan dari menjaga kesejahteraan manusia. “Harapannya ekspedisi ini menjadi sumbangsih Yayasan WWF Indonesia kepada pemerintah kabupaten, pemerintah Maluku, dan pemerintah pusat, serta kami sebagai LSM akan terus berkomitmen untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dijalankan secara efektif," ujar Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF, Candhika Yusuf.
Yayasan WWF Indonesia beserta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak masyarakat untuk menjaga wilayah perairan Romang-Damer secara bersama-sama. Upaya perlindungan bukan sekadar untuk menjaga keanekaragaman hayati saja, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem laut sebagai sumber kehidupan bagi generasi mendatang.