IRAU, AGENDA EKOWISATA UNGGULAN DI HEART OF BORNEO
Siaran Pers, Untuk disiarkan setelah 9 November 2008, 14:00 WIB
Malinau (09/11) - Selama sembilan hari dari tanggal 4 hingga 13 November 2008 beragam suku Dayak yang mendiami Bumi Tenguyun, Malinau di kawasan Heart of Borneo berkumpul dalam Festival Irau yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Malinau. Pesta rakyat yang dipusatkan di alun-alun kantor Bupati Malinau ini diselenggarakan bersamaan dengan pameran pembangunan kabupaten yang merayakan hari jadi yang ke-9 tersebut.
“Festival kebudayaan semacam Irau ini merupakan atraksi ekowisata yang layak menjadi agenda unggulan dan reguler di kalender kepariwisataan Indonesia,” papar Achyarudin, Direktur Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang turut mengunjungi pesta rakyat dua tahun sekali tersebut. “Dalam lima tahun ke depan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata akan memfokuskan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di kawasan Heart of Borneo,” lanjutnya.
Bupati Malinau Martin Billa menyatakan, “Kami melihat ekowisata menjadi sebuah peluang yang baik untuk dipertimbangkan dalam rencana pembangunan yang ramah lingkungan di daerah kami. Fokus yang jelas oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengembangkan ekowisata di Heart of Borneo adalah indikasi sinergi yang positif untuk ekowisata di Malinau yang termasuk dalam kawasan Heart of Borneo.” Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Mubariq Ahmad menyatakan bahwa Festival Irau merupakan bukti bahwa Indonesia siap mengembangkan ekowisata di Heart of Borneo sebagai implementasi action plan HoB yang dirumuskan tiga Negara Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia pada pertemuan trilateral di Pontianak tahun ini.
“Pengembangan ekowisata di Malinau dapat terintegrasi dengan program Heart of Borneo. Menempatkan Irau dalam agenda ekowisata Heart of Borneo berarti memperkaya pilihan-pilihan kunjungan berbasis ketertarikan khusus pada budaya, selain tentu pada keindahan alam dan keunikan keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Kabupaten Malinau,” ujar Mubariq.
Sementara, sebagai aksi nyata langsung setelah penandatanganan MoU mengenai pengembangan ekowisata di kawasan Heart of Borneo antara WWF-Indonesia dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sejumlah Supporter Kehormatan WWF-Indonesia yakni Nadine Chandrawinata, Katon Bagaskara dan Nugie ikut memeriahkan Festival Irau ini.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Agus Priyono,
Ditjen Pemasaran Destinasi Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,
email: ag_priyono@ymail.com,
HP: +62- 8788062136
Nancy Ariaini,
Heart of Borneo Communications Officer,
email: nariaini@wwf.or.id,
HP: +62-811529538
Catatan untuk Redaksi:
- Pada tanggal 1 November 2008, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata penandatangani Kesepakatan Bersama dengan WWF-Indonesia dalam rangka Pengembangkan Ekowisata berbasis Masyarakat di Heart of Borneo dan kawasan ekowisata lainnya. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Firmansyah Rahim dan Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Mubariq Ahmad dalam rangkaian BIMP-EAGA Community Based Ecotourism Conference di Manado (29 Oktober-1 November 2008).
- Heart of Borneo adalah sebuah inisiatif yang dirancang sebagai program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi yang bertujuan mempertahankan keberlanjutan manfaat salah satu hutan terbaik yang masih tersisa di Borneo bagi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang. Cakupan wilayah kerja Heart of Borneo membentang pada rangkaian dataran tinggi Borneo yang terhubung secara langsung dengan dataran rendah di bawahnya. Wilayah kerja ini melintasi wilayah Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, kawasan Heart of Borneo mencakup 3 provinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Kabupaten Malinau termasuk di dalam kawasan Heart of Borneo.
- Tentang WWF-Indonesia WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta supporter dan memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakkan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs lokal di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWFIndonesia di http://www.supporterwwf.org/
- WWF-Indonesia di Kalimantan Timur: Saat ini WWF-Indonesia membantu Departemen Kehutanan membantu pengembangan kapasitas pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang dalam rangka kerjasama pemerintah Republik Indonesia dan Republik Federal Jerman-GTZ. WWF-Indonesia juga mendukung program bersama tiga negara: Jantung Kalimantan atau the Heart of Borneo di mana peran Provinsi Kalimantan Timur sebagai salah satu pemilik hutan paru-paru dunia diakui keberadaannya secara luas. Pada bulan Mei 2008 lalu, WWF-Indonesia meresmikan kerjasama dengan Pemerintah Kota Tarakan untuk rehabilitasi hutan mangrove, serta dengan Pemerintah Kabupaten Malinau untuk pengelolaan sumber daya alam lestari. WWFIndonesia juga berkerjasama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat dan swasta untuk menerapkan prinsip-prinsip kelestarian dalam pengelolaan kebun Kelapa Sawit.
-- Selesai --