WWF INDONESIA, CINTA LAURA, DAN LUNA MAYA SATUKAN AKSI UNTUK PEMULIHAN PASCABENCANA DI ACEH MELALUI #PEUSANGANBANGKIT
Jakarta, 20 Februari 2026 - Banjir dan longsor pada November 2025 di kawasan DAS Krueng Peusangan, Aceh Tengah dan Bener Meriah, meninggalkan dampak yang panjang bagi warga. Luapan sungai memicu erosi masif, merusak rumah, jembatan, jalan, serta fasilitas air bersih, bahkan di beberapa titik mengubah alur sungai sehingga area yang sebelumnya permukiman kini dilintasi aliran air. Banyak keluarga masih harus tinggal berdampingan di tenda darurat, sementara anak-anak terpaksa belajar di tenda tanpa meja dan listrik. Meski fase tanggap darurat telah dilalui, pemulihan menjadi tantangan terbesar karena menyangkut pemulihan akses dasar, penghidupan, dan keamanan ruang hidup warga, sekaligus memulihkan kembali kondisi lingkungan yang memperparah dampak bencana. Fase tanggap darurat memang telah dilewati, tetapi perjuangan sesungguhnya baru dimulai: pemulihan.
Untuk memastikan pemulihan dilakukan secara tepat sasaran, tim lapangan WWF-Indonesia melakukan penilaian awal di 12 desa di wilayah DAS Peusangan. Hasilnya menunjukkan empat kebutuhan paling mendesak: perbaikan infrastruktur, penyediaan air bersih, pemulihan mata pencaharian, serta rehabilitasi lereng vegetatif untuk mencegah bencana serupa terulang. Namun, pemulihan bukan hanya soal membangun kembali fisik yang rusak. Ini tentang mengembalikan rasa aman, harapan, dan masa depan.
Karena itu, WWF-Indonesia berkolaborasi bersama Cinta Laura dan Luna Maya dalam gerakan #PeusanganBangkit – sebuah ajakan untuk menggalang dukungan yang lebih luas dan memastikan Aceh tidak berjalan sendiri. Kehadiran Cinta dan Luna di lapangan bukan sekadar simbolis, tetapi untuk memberi semangat, mendengar langsung kondisi warga, serta menyuarakan kebutuhan pemulihan yang masih berjalan. Melalui kolaborasi ini, publik diajak ikut bergerak agar proses pemulihan tidak berhenti di tengah jalan, terutama untuk memastikan lingkungan pulih, akses dasar kembali aman, serta masa depan anak-anak dan kelompok rentan tetap terjaga.
Kunjungan Cinta Laura pada 13–16 Februari 2026 menjadi bagian awal dari rangkaian #PeusanganBangkit, sebuah upaya pemulihan pascabencana yang berpihak pada kebutuhan warga. Ia berjalan di tanah yang masih menyisakan bekas longsor, berbincang dengan warga, dan duduk bersama anak-anak di sekolah yang terdampak.
Cinta mengunjungi SMP Negeri 22 Takengon di Desa Toweren, serta sekolah dasar di Desa Salah Sirong Jaya dan Desa Uning Mas – wilayah yang terdampak cukup parah. Ia juga ikut menanam pohon sebagai simbol bahwa harapan selalu bisa ditumbuhkan kembali. Kunjungan ini menegaskan bahwa pemulihan tidak berhenti ketika fase darurat selesai, tetapi perlu terus dikawal agar akses dasar warga pulih secara bertahap—mulai dari lingkungan yang lebih aman, fasilitas pendidikan yang layak, hingga ruang hidup yang kembali dapat digunakan.
“Kunjungan ini menyadarkan aku betapa besar dampak krisis ekosistem di Peusangan. Kerusakan infrastruktur, terutama sekolah, ditambah degradasi lingkungan di sini sangat memprihatinkan dan butuh rehabilitasi segera, khususnya di area rawan. Proses untuk benar-benar pulih masih panjang dan perjuangan kita belum selesai. Donasi yang sudah terkumpul sejauh ini sangat membantu, tapi kita butuh keterlibatan lebih banyak pihak untuk benar-benar memperbaiki keadaan. Karena itu, aku mengajak publik untuk tidak berhenti di sini dan terus berdonasi agar beban hidup warga terdampak bisa lebih ringan,” ungkap Cinta.
Pesan Cinta sederhana namun kuat: jangan berhenti peduli saat sorotan media meredup.
Rangkaian aksi dilanjutkan pada 16–19 Februari 2026 ketika Luna Maya mengunjungi Desa Karang Ampar dan Bergang – wilayah yang sempat terisolasi akibat longsor dan putusnya jembatan, serta Desa Simpang Mulia, salah satu desa yang tersapu banjir di Kabupaten Bireuen.
Di sana, Luna melihat langsung bagaimana warga bertahan dengan akses terbatas. Ia mendengarkan kisah tentang malam ketika banjir datang tiba-tiba, tentang kebun yang hilang, dan tentang kekhawatiran yang muncul setiap kali hujan turun. Luna juga mengikuti patroli di koridor gajah Peusangan bersama Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar–Bergang. Upaya ini menegaskan bahwa pemulihan bukan hanya tentang manusia, tetapi juga tentang menjaga ruang hidup bersama antara warga dan satwa liar.
Dalam pesannya kepada publik, Luna menyampaikan, “Penting bagi kami untuk menjaga semangat hidup warga di wilayah terdampak. Kehadiran kami bukan hanya untuk memberi dukungan moral, tapi juga untuk memastikan upaya pemulihan terus berjalan dan tidak berhenti di tengah jalan. Kami mengajak masyarakat luas untuk turut berdonasi agar warga bisa bangkit dan pelan-pelan membangun kembali kehidupan mereka.”
Dalam kunjungan terpisah mereka, Cinta dan Luna juga melakukan kegiatan serupa di Conservation Response Unit (CRU) Peusangan. Di sana, keduanya berinteraksi langsung dengan gajah-gajah jinak yang dilatih untuk mendukung mitigasi konflik manusia–satwa sekaligus menjaga koridor jelajah gajah. Mereka turut menanam pohon di sekitar kawasan CRU sebagai bagian dari rehabilitasi vegetatif di wilayah rawan.
Langkah ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat dipisahkan dari pemulihan ekosistem. Kegiatan di CRU menjadi simbol bahwa Peusangan adalah ruang hidup bersama – tempat manusia dan satwa berbagi lanskap yang sama – yang harus dijaga dan dipulihkan secara berkelanjutan. Lebih jauh, kehadiran keduanya menjadi bentuk komitmen untuk memastikan suara warga terus terdengar dan kebutuhan pemulihan tidak dilupakan.
Rusyda Deli, Direktur People, Operations & Growth WWF-Indonesia, mengatakan, “Dalam setiap bencana alam, selain respons cepat untuk menyelamatkan nyawa, proses pemulihan adalah tahap yang sama pentingnya. Tahap ini membutuhkan waktu, sumber daya, dan biaya yang besar. Karena itu, dukungan publik sangat dibutuhkan agar warga terdampak dapat kembali hidup dengan layak. WWF-Indonesia berkomitmen untuk tetap hadir dan mendampingi proses rehabilitasi di wilayah terdampak di Aceh.”
Melalui kolaborasi ini, WWF-Indonesia mengajak publik untuk terus menjaga harapan bagi Aceh dan mendukung proses pemulihan yang berkelanjutan bagi manusia dan alam. WWF-Indonesia akan terus berada di sisi warga, berjalan bersama langkah demi langkah, agar pemulihan yang dilakukan benar-benar terasa dan bertahan dalam jangka panjang.
Informasi mengenai donasi dapat diakses melalui kanal media sosial Cinta Laura, Luna Maya, dan WWF-Indonesia.
**
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Karina Lestiarsi, Media Relations Officer
klestiarsi@wwf.id | 0852-1816-1683