A. Background
Perdagangan satwa liar ilegal, merupakan salah satu faktor pendorong utama penurunan keanekaragaman hayati global serta memberikan dampak langsung terhadap kepunahan spesies, dengan estimasi nilai mencapai transaksi sangat besar sampai miliaran dolar per tahun dan (Nijman et al., 2021). Dalam satu dekade terakhir, terjadi transformasi signifikan dari perdagangan berbasis fisik menuju ekosistem digital melalui platform media jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, serta marketplace seperti Tokopedia dan Shopee.
Fenomena ini tidak hanya mengubah struktur jaringan perdagangan, tetapi juga memperluas jangkauan pasar melalui algoritma distribusi konten dan interaksi sosial (Lavorgna, 2014; Siriwat & Nijman, 2018). Selain itu, persepsi publik yang terbentuk melalui konten digital berperan penting dalam membentuk permintaan terhadap satwa liar. Paparan konten viral dapat meningkatkan minat publik terhadap kepemilikan satwa eksotik (Nekaris et al., 2013). Perdagangan satwa liar bukan hanya masalah penawaran (supply), tetapi sangat ditentukan oleh faktor perilaku manusia di sisi permintaan (demand), khususnya sikap (attitude), norma sosial, dan niat bertindak (behavioral intentions). Intervensi konservasi yang selama ini banyak mengandalkan pesan umum (misalnya “melindungi satwa itu penting”) terbukti tidak cukup efektif untuk mengubah perilaku. Sebaliknya, efektivitas intervensi sangat bergantung pada bagaimana pesan dirancang, siapa targetnya, dan jenis perilaku apa yang ingin diubah (Naito et al., 2024)
Pendekatan ini menghadirkan lompatan konseptual dalam praktik konservasi, khususnya dalam menghadapi perdagangan satwa liar di era digital. Selama ini, intervensi konservasi cenderung berfokus pada tindakan di lapangan seperti patroli, penyitaan, dan perlindungan habitat, yang pada dasarnya bersifat reaktif, yaitu merespons ancaman setelah terjadi. Pendekatan berbasis data digital menggeser logika ini menjadi lebih preventif dan berbasis intelijen. Konservasi tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya menjaga lokasi tertentu, tetapi sebagai upaya memahami dan mengintervensi sistem yang lebih luas, termasuk jaringan digital lintas batas. Melalui analisis jaringan sosial, perdagangan satwa liar dipandang sebagai relasi antaraktor, yaitu penjual, pembeli, dan perantara yang saling terhubung di berbagai platform seperti Facebook dan TikTok. Dengan perspektif ini, intervensi dapat diarahkan pada aktor kunci dan titik paling berpengaruh dalam jaringan, sehingga upaya pemutusan rantai perdagangan menjadi lebih strategis dan efektif.
Selain itu, pendekatan ini secara eksplisit mengintegrasikan sisi penawaran dan permintaan dalam satu kerangka analisis yang utuh. Jika sebelumnya konservasi cenderung memisahkan perburuan dan perdagangan di satu sisi serta preferensi konsumen di sisi lain, maka pendekatan ini menghubungkannya melalui data digital. Permintaan tidak lagi hanya diukur melalui survei konvensional, tetapi melalui jejak digital yang terekam di media sosial, termasuk bagaimana persepsi publik terbentuk dan berubah secara real-time. Konten viral, misalnya, dapat mendorong normalisasi kepemilikan satwa liar dan secara tidak langsung meningkatkan permintaan. Fenomena ini dapat disaksikan melalui platform digital tersebut, seperti Instagram. Dengan demikian, konservasi mulai memasuki ranah yang lebih luas, yaitu memahami perilaku manusia dalam ekosistem digital, atau semacam behavioral ecology berbasis interaksi manusia-satwa di ruang virtual.
Lebih jauh, pendekatan ini mendorong transformasi praktik konservasi dari sekadar pemantauan konvensional menuju sistem yang lebih prediktif, adaptif, dan berbasis data. Dengan memanfaatkan pembelajaran mesin (machine learning), analisis jaringan sosial, serta integrasi data digital seperti yang dikembangkan dalam Ecosolve, konservasi dapat mengidentifikasi tren perdagangan, mendeteksi peningkatan aktivitas ilegal secara lebih dini, serta memetakan risiko berdasarkan aktor, jaringan, maupun spesies yang diperdagangkan Pendekatan ini memungkinkan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat, tepat sasaran, dan berbasis bukti, sekaligus mendukung pengembangan strategi intervensi konservasi yang lebih efektif dalam merespons dinamika perdagangan satwa liar di platform digital.
Dalam konteks tersebut, WWF-Indonesia memandang penting penguatan pendekatan konservasi berbasis data digital untuk mendukung pemantauan perdagangan satwa liar online, memahami dinamika interaksi antaraktor dalam ekosistem digital, serta menganalisis persepsi publik terhadap isu satwa liar. Hasil kajian diharapkan dapat mendukung pengembangan rekomendasi strategis dan pendekatan intervensi yang lebih adaptif, terarah, dan berbasis bukti.
WWF-Indonesia bermaksud mengembangkan analisis berbasis data digital untuk memetakan dinamika perdagangan satwa liar online, memahami pola interaksi aktor dalam ekosistem digital, serta menganalisis persepsi publik terhadap isu satwa liar di media sosial dan platform digital lainnya. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi dasar dalam mendukung pengembangan strategi konservasi yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis bukti dalam merespons tantangan perdagangan satwa liar di era digital.
B. Scope of Work
Kegiatan ini menggunakan pendekatan integratif untuk memahami perdagangan satwa liar ilegal (Illegal Wildlife Trade/IWT) di ekosistem digital dengan menghubungkan tiga domain utama, yaitu sisi penawaran (supply side), sisi permintaan (demand side), serta tata kelola dan intervensi (governance and intervention). Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan analisis berbasis data yang dapat mendukung pengembangan strategi konservasi dan intervensi WWF-Indonesia secara lebih efektif dan berbasis bukti.
1. Platform Scraping
Kegiatan ini difokuskan untuk memahami pola interaksi dan dinamika perdagangan satwa liar dalam ekosistem digital, termasuk bagaimana aktivitas perdagangan terbentuk, berkembang, dan membangun keterhubungan antaraktor di platform online. Analisis akan mencakup pola penawaran, interaksi antara penjual dan calon pembeli, pola komunikasi antaraktor, serta bentuk keterlibatan publik terhadap konten terkait satwa liar dan Illegal Wildlife Trade (IWT).
Pengumpulan data digital (data scraping) akan difokuskan pada grup, komunitas, akun, dan konten di platform media sosial—khususnya Facebook—baik yang bersifat publik maupun terbatas, termasuk konten terkait IWT yang memiliki tingkat keterlibatan (engagement) tinggi atau bersifat viral. Konsultan diharapkan melakukan kategorisasi terhadap aktor dan komunitas digital berdasarkan tingkat aktivitas, jumlah anggota/pengguna, relevansi terhadap aktivitas perdagangan satwa liar, serta peran aktor dalam jaringan perdagangan online.
Selain memetakan aktivitas perdagangan, kegiatan ini juga akan menganalisis bagaimana konten terkait satwa liar dan IWT memengaruhi persepsi dan interaksi publik di ruang digital. Analisis akan mencakup pola penyebaran konten, respons audiens, serta pengaruh konten viral terhadap pembentukan persepsi publik terhadap satwa liar. Melalui pendekatan ini, kegiatan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika perdagangan satwa liar online dan interaksi sosial yang terbentuk dalam ekosistem digital.
Adapun secara lebih detail data yang akan dikumpulkan antara lain mencakup:
Scrapping data menggunakan ekstensi Instant Data Scrapper yang tersedia di Chrome Store maupun perangkat lunak lainnya seperti R dsb.
2. Spesies Prioritas.
Scoping objek adalah semua spesies khususnya yang terancam punah dan dilindungi serta species target konservasi Yayasan WWF Indonesia yaitu gajah Sumatra, gajah kalimantan, harimau Sumatra, orangutan, bekantan, kura-kura moncong babi, badak Sumatra, badak Jawa dan Irrawady dolphin
3. Analisis Data.
Konsultan akan melakukan analisis terhadap data yang terkumpul menggunakan pendekatan yang relevan, termasuk namun tidak terbatas pada:
Analisis jaringan sosial (SNA) digunakan untuk memetakan hubungan antaraktor, mengidentifikasi aktor kunci, memahami tingkat konektivitas jaringan perdagangan, serta menganalisis pola hubungan antar akun dan komunitas digital.
Analisis sentimen dilakukan untuk memahami persepsi publik terhadap isu satwa liar dan perdagangan satwa liar ilegal melalui identifikasi sentimen positif, negatif, maupun netral, termasuk analisis perubahan tren sentimen dari waktu ke waktu terhadap konten satwa liar dan IWT di platform digital.
Konsultan juga diharapkan mengembangkan analisis integratif yang menghubungkan dinamika perdagangan online, persepsi publik, dan implikasinya terhadap risiko konservasi guna mendukung pengembangan rekomendasi strategis berbasis data untuk WWF-Indonesia.
C. Output
D. Qualification
Duration of Assignment: May – June 2026
Duty Station: Jakarta
Please submit your application no later than May 22th, 2026
We encourage early applications, as this vacancy may close prior to the deadline once a suitable candidate is identified.
At Yayasan WWF Indonesia we are committed to creating an inclusive working environment, where diversity is valued and there is equality of opportunity. We therefore welcome applications from all sections of the community, and we offer a range of benefits to encourage a work life balance.