MENGHENTIKAN SAMPAH MAKANAN DI PERKOTAAN: RANCANGAN TINDAKAN BERBASIS PERILAKU DAN FINANSIAL
Apa yang terjadi pada makanan setelah tidak lagi kita konsumsi?
Jawabannya kini membuka peluang baru untuk aksi iklim yang dilakukan bersama-sama. Melalui Our Circular Food Future in Southeast Asia, WWF-Indonesia dengan dukungan WWF’s Global Food Loss and Waste Initiative, memandang bagaimana sampah makanan dapat dikelola sebagai bagian dari solusi untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Sampah makanan bukan sekadar persoalan sisa makanan di tempat pembuangan. Ketika membusuk tanpa pengelolaan yang tepat, sampah makanan menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan global sekitar 28x lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Di Indonesia, sampah makanan merupakan komponen terbesar dalam skala sampah nasional. Sampah makanan mencapai 41,4 % dari total timbulan sampah, lebih dari dua kali lipat dibandingkan sampah plastik. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan yang terbuang bukan sekadar masalah sampah, tetapi persoalan cara memproduksi, mengonsumsi, dan memperlakukan makanan yang hendak kita makan.
Besarnya timbulan sampah makanan di tingkat nasional tersebut menunjukkan bahwa pengelolaannya memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari aksi iklim, termasuk di tingkat daerah.

Di Papua, peluang aksi iklim tersebut terbukti melalui hasil kajian “Menghentikan Sampah Makanan di Perkotaan: Rancangan Tindakan Berbasis Perilaku dan Finansial” yang dilakukan WWF Indonesia. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah makanan yang terintegrasi, mulai dari perubahan perilaku rumah tangga, pengomposan berbasis masyarakat, hingga peningkatan pengumpulan dan pengolahan sampah organik berpotensi mengurangi proyeksi emisi metana hingga 62% di Kabupaten Jayapura dan 52% di Merauke pada 2045.
Kajian tersebut tidak hanya melihat sampah makanan sebagai persoalan sampah, tetapi juga mengidentifikasi peluang perubahan dari sisi perilaku dan juga advokasi sistem. Melalui pemetaan kondisi dan potensi intervensi di tingkat rumah tangga hingga pengelolaan perkotaan, kajian ini memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah makanan sekaligus mendukung pengurangan emisi.
Menuju 2045, perubahan perilaku yang diharapkan tersebut tidak dapat tercapai sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pihak untuk mengubah cara kita memandang sampah makanan hingga pangan yang terbuang. Dari sisa makanan yang dihasilkan hingga kebijakan di tingkat daerah, setiap langkah dapat menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih sehat, sistem pangan yang lebih sehat, kebiasaan dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan, dan Papua yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Bagaimana jika dari makanan yang terbuang, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih sehat, tangguh, dan rendah emisi? Baca selengkapnya di sini!
Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi!