WWF-INDONESIA DAN RECKITT DORONG KESADARAN KARYAWAN TERHADAP KRISIS IKLIM DAN KEBERLANJUTAN SUMBER DAYA AIR
Bertempat di Reckitt Benckiser Cileungsi, sebuah langkah diambil untuk memperkuat komitmen korporasi terhadap kelestarian lingkungan. Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan menurunnya kualitas sumber daya air, perusahaan kini tidak hanya dituntut menjaga produktivitas, tetapi juga mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Mengusung tajuk "Kolaborasi Edukasi Konservasi Air untuk Karyawan Reckitt", kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian HS Month 2026 yang mengangkat isu kesehatan (Health), keselamatan (Safety), dan lingkungan (Environment) sebagai fondasi penting keberlanjutan perusahaan.
Suasana kegiatan Kolaborasi Edukasi Konservasi Air untuk Karyawan Reckitt yang diselenggarakan bersama WWF-Indonesia dan Reckitt berlangsung hangat sekaligus penuh refleksi mengenai pentingnya menjaga lingkungan di tengah ancaman krisis iklim. Pak Agung dari tim HSE menyampaikan bahwa kepedulian terhadap energi dan air bukan hanya tanggung jawab perusahaan, tetapi perlu menjadi kebiasaan sehari-hari yang dimulai dari rumah masing-masing. Isu lingkungan hari ini merupakan investasi jangka panjang bagi keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan bisnis di masa depan.
Sesi pertama dibawakan oleh Rizka Nurul Annisa dari Tim Sustainable Commodities WWF-Indonesia yang mengajak peserta melihat keterhubungan antara manusia dan alam, serta memahami bahwa praktik keberlanjutan tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendukung kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi antara WWF dan Reckitt dalam mendampingi petani sawit swadaya melalui program Strategi Jangka Benah (SJB) membantu petani meningkatkan produktivitas dengan cara yang tetap menjaga alam. Salah satu contoh yang dibagikan kepada petani adalah pendampingan petani sawit swadaya dalam proses pendataan untuk traceability serta pendataan STDB.
WWF-Indonesia juga memperkenalkan HAMURNI, sebuah inovasi digital yang digunakan untuk membantu memastikan komoditas sawit dapat ditelusuri secara lebih transparan dari perkebunan hingga pabrik. Kehadiran sistem ini menjadi langkah penting dalam memperkuat tata kelola komoditas yang bertanggung jawab, sekaligus membuka peluang bagi petani untuk menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Hingga saat ini, sejumlah petani telah terdaftar secara resmi di platform HAMURNI untuk proyek Reckitt, di mana informasi mengenai lokasi mereka sudah terpetakan dengan jelas. Para petani tersebut nantinya akan didorong untuk mengikuti program STDB. Cerita mengenai perubahan lanskap di Kalimantan Tengah menjadi sorotan menarik dalam sesi ini. Sekitar 50 hektar lahan monokultur sawit yang sebelumnya hanya ditanami satu jenis tanaman kini telah direstorasi menjadi kawasan agroforestri yang lebih beragam. Kopi, durian, dan berbagai tanaman lokal mulai tumbuh berdampingan, menghadirkan harapan baru bagi lingkungan sekaligus sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar. Pendampingan WWF turut menjangkau pelaku UMKM, seperti Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan yang menjadi UMKM batik pertama di dunia dengan sertifikasi RSPO, hingga Spa Factory Bali yang berhasil menembus pasar ekspor Eropa melalui produk personal care berbahan sawit berkelanjutan.

Pada sesi berikutnya, Iqlima Ghalih Azzahra dari Tim Climate & Energy mengajak peserta menyelami realitas krisis iklim global, di mana air kini menjadi pusat persoalan. Melalui penyampaian yang ringan namun menggugah, ia menjelaskan bahwa kenaikan suhu bumi sebesar 1,5°C–1,6°C telah memicu berbagai bencana seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, hingga cuaca ekstrem. Ketidakseimbangan iklim ini secara langsung mengancam ketersediaan air bersih, karena sumber air alami kian menyusut dan rusak. Realitas ini juga terjadi di Indonesia, di mana tantangan pemenuhan air bersih kian memprihatinkan akibat sebagian besar cadangan air tanah yang tersisa terus mengalami pencemaran. Kompleksitas krisis ini menjadi tanda bahwa persoalan air kini telah menjadi tantangan sistemis yang mendesak.
Bagi sektor industri, realtias tersebut, menyadarkan bahwa pengelolaan air tidak cukup jika hanya dilakukan di dalam pagar operasional perusahaan. Sebagai solusi, konsep Water Stewardship diperkenalkan sebagai pendekatan yang tidak hanya fokus pada efisiensi internal, melainkan juga menjaga keberlanjutan sumber air secara kolektif bersama pemangku kepentingan lain. Reckitt didorong untuk terlibat aktif bersama masyarakat maupun pemerintah dalam restorasi sumber air dan edukasi publik. Langkah ini menegaskan bahwa konservasi air bukan lagi sekadar aksi sosial, melainkan investasi strategis bagi keberlangsungan bisnis. Risiko air, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan kini menjadi tantangan yang perlu diantisipasi perusahaan melalui langkah kolaboratif dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, sesi dilanjutkan bersama Syifa Rifqa Ainur Rahmah dari Tim Sustainable Finance memperlihatkan bagaimana isu lingkungan kini menjadi bagian dalam strategi bisnis modern. Ia memperkenalkan WWF Risk Filter Suite (RFS), sebuah platform berbasis web yang membantu perusahaan memetakan risiko lingkungan melalui visualisasi data spasial atau heat map. Perusahaan dapat melihat wilayah operasional yang memiliki risiko tinggi terhadap fisik, regulasi/fungsi pengaturan ecosystem services, maupun reputasi perusahaan. Menariknya, pendekatan ini telah digunakan oleh perusahaan global seperti H&M Group dan di Indonesia juga sudah mulai digunakan oleh institusi seperti PLN dan PT SMI.
Menjelang akhir kegiatan, peserta diajak melihat kembali bagaimana pilihan yang mereka buat setiap hari dapat berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan melalui kampanye “Beli Yang Baik”. Kampanye ini mengingatkan bahwa langkah sederhana seperti membeli sesuai kebutuhan, memilih produk lokal, menggunakan produk berlabel ramah lingkungan, hingga memikirkan ke mana sampah akan berakhir ternyata memiliki dampak besar bagi bumi. Dalam diskusi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi diajak melihat bahwa perubahan besar terhadap lingkungan dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Melalui kolaborasi ini, WWF-Indonesia dan Reckitt tidak hanya menghadirkan ruang belajar mengenai konservasi air dan keberlanjutan, tetapi menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, semangat yang dibangun dalam kegiatan ini dapat terus tumbuh menjadi aksi nyata, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.