WWF AJAK MASYARAKAT PEDULI PRAKTIK PERIKANAN TUNA BERKELANJUTAN MELALUI KAJIAN ILMIAH
Oleh Novita Eka Syaputri
Pada tahun 2011, tidak kurang dari satu juta ton tuna Indonesia di ekspor ke berbagai tujuan negara utama pembeli tuna seperti Jepang, Amerika, dan beberapa negara di Uni Eropa dengan nilai ekspor hampir 11 triliun rupiah per tahun. Hal ini menjadikan Indonesia termasuk 5 besar negara utama produsen tuna di dunia.
Namun isu menurunnya sediaan sumber daya tuna di alam, terutama Indonesia, sudah mulai ramai dibicarakan sejak beberapa tahun lalu. Penangkapan juvenil tuna, jumlah dan jenis armada dan alat tangkap yang belum terkendali secara optimal, belum diaturnya Harvest Control Rule, serta masih maraknya praktek IUU Fishing adalah beberapa masalah utama penyebab turunnya sediaan sumber daya tuna di alam. Hal ini bisa mengancam kelangsungan usaha dan bisnis tuna Indonesia. Perkembangan dan kecenderungan permintaan pasar akan produk tuna yang ramah lingkungan juga menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi Indonesia.
Atas latar belakang tersebut, WWF-Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Sumber Daya Ikan – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (Dir. SDI – DJPB KKP) menyelenggarakan Simposium Tuna Nasional. Acara ini berlangsung pada 10 – 12 Desember 2014 dan merupakan simposium yang pertama kali mengusung tema perbaikan pengelolaan perikanan menuju praktik yang berkelanjutan.
Simposium yang dibuka untuk umum ini berhasil menghimpun hampir 250 peserta. Di antaranya ada 144 pemakalah yang dibagi ke dalam enam kelas untuk mempresentasikan hasil studinya yang bertujuan untuk menghimpun informasi seluas-luasnya mengenai kondisi perikanan tuna Indonesia. Para pemakalah kebanyakan berasal dari kalangan akademisi, peneliti, hingga pelaku industri, dan dinas. Hasil-hasil studi dan temuan menunjukkan kebutuhan untuk segera melakukan perbaikan perikanan tuna yang mengarah kepada praktik keberlanjutan dan selanjutnya dirumuskan sebagai rekomendasi yang berguna bagi para pembuat kebijakan di Indonesia.
Direktur Program Coral Triangle WWF-Indonesia Wawan Ridwan dalam pembukaan simposium mengatakan bahwa WWF-Indonesia siap mengawal setiap upaya perbaikan pengelolaan tuna di Indonesia menuju praktik yang berkelanjutan, karena sebagai salah satu negara produsen utama tuna di dunia, Indonesia harus melakukan perubahan untuk merebut pasar dari negara-negara lain yang telah lebih dulu mencetak produk-produk tuna bersertifikat ekolabel, seperti Marine Stewardship Council (MSC).