WORKSHOP BIODIVERSITY KALIMANTAN, 10-12 FEBRUARI 2009
Kalimantan, kaya tetapi terancam
Palangkaraya (10/2)- Peneliti senior Departemen Kehutanan menyatakan bahwa keanekaragaman hayati Pulau Kalimantan belum sepenuhnya tereksplorasi dan diteliti manfaatnya. Sementara, sejumlah hal sudah menjadi ancaman serius kekayaan tersebut.
Berbicara pada hari pertama Workshop Biodiversity Kalimantan (Workshop on Biodiversity of Borneo), Kade Sidiyasa dan Amiril Saridan, peneliti pada Herbarium Wanariset BPTP Samboja Balitbang Kehutanan, mengungkapkan bahwa sejumlah riset membuktikan Kalimantan (dan Borneo) adalah pulau dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi.
“Data yang diungkapkan Steenis tahun 1950-an dan Soepadmo di tahun 1990-an menyebutkan bahwa di area Kalimantan seluas sekitar 740.000 km2, terdapat sekitar 10.000 hingga 12.000 jenis tumbuhan berkayu,” ujar Kade. “Sementara, ada sekitar 2.500-3000 jenis anggrek di sana,” tambahnya.
Dikatakan Kade, data yang dirangkum oleh Heyne di tahun 1950 menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 5000 jenis tumbuhan berguna, antara lain untuk kayu pertukangan, obat-obatan, makanan, minyak nabati/resin, makan ternak dan kegunaan lain. “Sejumlah riset terbaru di Kalimantan menunjukkan bahwa banyak data jenis tumbuhan berguna yang belum termasuk pada data yang ditulis oleh Heyne,” ujarnya.
Kade menyebutkan beberapa tempat di Kalimantan memiliki keanekaragaman flora pohon berbeda-beda, “Di petak seluas 1,6 hektar di Wanariset Samboja, Kalimantan Timur, terdapat 239 jenis,” ujarnya. Disebutkannya pula, riset lain oleh Proctor dan kawan-kawan pada tahun 1983 menunjukkan bahwa di petak seluas 1,0 hektar di Gunung Mulu (Sarawak) ditemukan 83 jenis pohon.
Ditambahkannya, dari 507 jenis yang termasuk suku Dipterocarpaceae di seluruh dunia, 267 jenis ada di Kalimantan. “Riset Ashton tahun 1982 menyebutkan, dari jumlah keseluruhan tersebut, ada 155 jenis yang hanya ada di Kalimantan. Kita tahu, Dipterocarpaceae memiliki nilai ekonomi tinggi,” tegasnya.
“Masih banyak pula suku tumbuhan lain yang bernilai tinggi, misalnya kita kenal jenis Ramin (Gonystylus sp) yang termasuk suku Thymelaeaceae. Selain sebagai kayu perdagangan, Ramin juga bahan penghasil hasil hutan bukan kayu misalnya racun ikan, jamu setelah melahirkan, dan bahan kemenyan,” ujar Kade.
Ia menegaskan, keanekaragaman hayati yang tinggi tersebut harus dikelola secara bijak mengingat nilai ekonominya yang tinggi serta banyak potensi yang belum digali. “Keanekaragaman hayati tersebut kini terancam oleh sejumlah aktivitas, antara lain kegiatan HPH, illegal logging, konversi lahan hutan untuk usaha lain, pertambangan, pengambilan hasil hutan bukan kayu, serta kebakaran. Tantangan yang kita hadapi sangat banyak,” tegasnya.
(oleh Israr Ardiansyah)