MENDESAKNYA KONSERVASI TERPADU DALAM PENGELOLAAN KKLD ABUN: LOKAKARYA PENGELOLAAN BERSAMA KKLD ABUN OLEH PEMDA SORONG, BKSDA, DAN WWF-INDONESIA
Sorong, 3 Maret 2009 – Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun, Kab. Sorong, Papua Barat, membutuhkan koordinasi pembangunan yang terpadu dari pemerintah daerah, badan konservasi sumber daya alam daerah, akademisi, sektor bisnis, serta lembaga swadaya masyarakat. Kebutuhan pembangunan yang memadukan berbagai aspek tersebut mendorong para pemangku kepentingan menyelenggarakan lokakarya mengenai ”Manajemen Pengelolaan Bersama KKLD Abun” oleh Pemerintah Kabupaten Sorong, Departemen Kehutanan, dan WWF-Indonesia bertempat di ruang pertemuan Bapeda Kabupaten Sorong selama dua hari, 3-4 Maret 2009. KKLD Abun berperan penting dalam perlindungan kanekaragaman hayati di kawasan Bentang Laut Kepala Burung Papua, salah satunya adalah perlindungan spesies penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang datang dan bertelur sepanjang tahun di pantai Jamursba Medi dan pantai Warmon. Pantai-pantai tersebut menjadi pantai peneluran terbesar di Pasifik Barat, dengan jumlah populasi betina yang bertelur sebanyak 14 ribu ekor sepanjang 2005-2008.
Peran penting KKLD Abun ini terdesak oleh laju pembangunan di Papua Barat. Salah satunya adalah rencana pemerintah daerah membangun jalan Trans Papua Barat yang direncanakan akan melewati kawasan KKLD Abun. Jalan Trans Papua Barat adalah solusi untuk menghubungkan kota Manokwari dan Sorong yang diharapkan mampu mendorong laju indeks pembangunan di propinsi Papua Barat secara umum dan memecah permasalahan pemerataan pembangunan yang disebabkan minimnya infrastruktur jalan darat di sektor transportasi, namun berbagai dorongan tetap mengacu pada pembangunan yang memerhatikan aspek-aspek lingkungan, sosial, dan budaya yang berkelanjutan.
Proyeksi dampak dari pembangunan jalan tersebut bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan aktivitas konservasi spesies-spesies yang terdapat di KKLD Abun seperti Kuskus, Kanguru Pohon, Landak Irian, termasuk burung surga Cendrawasih, yang merupakan salah satu spesies kebanggaan nasional dan juga kebanggaan dunia, serta beberapa jenis vegetasi seperti Waru Laut (Hibiscus tiliaceous), Ketapang (Terminalia catapa), dan Katang-katang (Ipomea pescapre). Perluasan KKLD Abun ke daratan menjadi penting untuk jenis penyu Belimbing karena proteksi penyu tersebut tidak hanya dilakukan di laut, namun juga di darat dan di semua habitat tempat penyu berada. Pesisir pantai yang terjaga dengan baik diharapkan memicu terjaganya populasi penyu Belimbing yang naik ke darat untuk bertelur.
Aktivitas penyu yang singkat di daratan sangatlah penting untuk keberlangsungan populasi mereka meskipun penyu menghabiskan 99 % dari siklus hidupnya di laut dan hanya penyu betina yang kembali ke darat untuk bertelur. ”Saya merasa bangga bahwa Abun menjadi lokasi peteluran terbesar bagi spesies penyu Belimbing. Selain di Abun, penyu Belimbing juga bertelur di pantai sekitar California, Amerika Serikat, dan Mexico, untuk itu saya sangat mendukung pentingnya menjaga spesies yang menjadi kebanggaan Indonesia, bahkan dunia. Mari kita semua berharap mitra-mitra pembangunan di lapangan dapat menyinergikan pembangunan yang berlandaskan kelestarian lingkungan,” tanggap Tri Budiarto, Wakil Bupati Kabupaten Sorong, di sela-sela rangkaian lokakarya.
Barnabas Wurlianty, Pimpinan Program Konservasi Penyu Belimbing, WWF Indonesia melanjutkan ”Koordinasi terus menerus digalakkan, banyak pemangku kepentingan yang harus diidentifikasi. Seperti dalam lokakarya ini kita juga melibatkan akademisi sebagai acuan ilmiah yang diwakili kawan-kawan dari Universita Negeri Papua (UNIPA), dari sektor bisnis ada PT. Multi Wahana Wijaya sebagai pemilik konsesi HPH di kawasan Abun, Dinas Kelautan dan Perikanan juga pastinya terlibat, Dinas Pekerjaan Umum, LSM-LSM lainnya, yang semuanya merupakan aktor-aktor kunci keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan untuk KKLD Abun,”
Penyu Belimbing adalah salah satu dari enam jenis penyu yang ada di perairan di Indonesia dan merupakan spesies penyu yang paling terancam dan populasinya terus merosot. Selain pembangunan di sektor transportasi darat, ancaman terhadap penyu Belimbing juga datang dari berbagai sisi seperti ancaman tangkapan sampingan oleh penangkapan ikan dengan pukat/jaring, penangkapan ikan dengan rawai panjang (longline), polusi dan sampah, konsumsi telur dan dagingnya, konversi hutan penyangga ekosistem pesisir, serta pembangunan daerah pesisir untuk sektor turisme.
99 % siklus hidup penyu di laut pastinya tidak dapat terlepas dari ancaman sektor perikanan, polusi dan sampah, predator alami, serta pembangunan lepas pantai. Meskipun sebenarnya mitigasi dan solusi untuk permasalahan sektor-sektor tersebut sudah ada seperti TED (Turtle Excluder Device), pancing lingkar (circle hook), dan berbagai regulasi untuk sektor lingkungan lainnya, namun implementasinya di lapangan masih sedikit dan kurang didorong, serta kurang diawasi. Lokakarya kali ini dihadiri beberapa peserta dari Dinas Pekerjaan Umum, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Papua Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan, perwakilan UNIPA, BAPPEDA, Dinas Kehutanan, serta perwakilan-perwakilan LSM setempat yang sebagian besar tergabung dalam Tim Kolaborasi Pengelolaan KKLD Abun.
Lokakarya dua hari ini bertujuan untuk memperoleh input-input penting dan menyamakan persepsi berbagai instansi terkait sekaligus mendorong kepedulian bersama dalam perencanaan pembangunan dengan memperhatikan upaya-upaya positif dalam rangka konservasi spesies penyu dan tempat penelurannya di kawasan Abun Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat, serta mendeklarasikan KKLD Abun yang akan dibawa untuk acara WOC (World Ocean Conference) bulan Mei 2009 di Manado.
==== habis ====
Catatan untuk editor:
1.Tentang WWF-Indonesia
WWF, sebuah organisasi konservasi, dengan misi menghentikan perusakan lingkungan alami di planet bumi dan untuk membangun masa depan dimana manusia hidup secara harmonis dengan alamnya, melalui perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari, dan mempromosikan pengurangan polusi dan penggunaan sumber daya secara berlebihan. WWF bekerja di lebih dari 90 negara dan didukung oleh hampir 5 juta pendukung di dunia. WWF mulai bekerja di Indonesia tahun 1962. Untuk informasi lebih jauh tentang WWF, kunjungi www.wwf.or.id atau www.panda.org
2. Tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah AbunPenetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Abun di daerah kepala burung Papua (Provinsi Papua Barat) didorong atas kesadaran pemerintah daerah Kabupaten Sorong akan pentingnya kawasan ini bagi keberlanjutan penyu terbesar di dunia ini. KKLD Abun secara admintratif terletak dalam wilayah Distrik Sausapor dan Distrik Abun, Kabupaten Sorong Papua. Kawasan seluas 169.515.783 Ha ini terdiri atas 69.372 Ha (41 %) wilayah daratan dan 99.786 Ha (59%) perairan laut. Secara astronomis KKLD Abun terletak pada posisi 132º14”-132º 98” BB dan 0º 32”- 0º 58” dan berbatasan dengan Samudera Pasifik di Utara.
3. Tentang Tim Kolaborasi Pengelolaan KKLD AbunTim Kolaborasi Pengelolaan KKLD Abun ditetapkan melalui SK Bupati No.4 Thn 2007 Tgl 29 Januari 2007. Tim ini terdiri atas 10 Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam lingkup pemerintah Kabupaten Sorong, WWF-Indonesia, Perguruan tinggi (Universitas Negeri Papua, Akademi Perikanan Sorong), LSM, Lembaga Masyarakat Adat di dalam kawasan dan pihak swasta. Tim Kolaborasi Pengelolaan KKLD Abun bertanggungjawab terhadap perencanaan dan implementasi kegiatan di KKLD Abun untuk mencapaipengelolaan KKLD Abun yang lestari.
Informasi lebih lanjut:
Barnabas Wurlianty, WWF-Indonesia Marine Program. Project Leader Birdhead’s Leatherback Conservation, +62 (0) 81 2483 8478, BWurlianty@wwf.or.id
Aulia Rahman, WWF-Indonesia Marine Program. Public Campaigner +62 (0)818 863 722, ARahman@wwf.or.id
Lie Tangkepayung, WWF-Indonesia Region Sahul Program. Communication Officer. +62
(0)813 4405 0098, njtangkepayung@wwf.or.id