JIKA LAUT DERAWAN BISA BICARA: SUARA ANAK-ANAK PULAU YANG MENJAGA RUMAHNYA DARI ANCAMAN PENCEMARAN SAMPAH
Berawal dari percakapan sederhana di atas secangkir kopi yang menjadi sebuah inisiasi untuk mengangkat suara anak-anak lokal Pulau Derawan, WWF-Indonesia bersama dengan komunitas Gerobooks yang berasal dari Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, melakukan sosialisasi dan workshop melukis dengan tema “Jika Laut Derawan Bisa Bicara”. Kegiatan ini menggandeng anak-anak sekolah dari SMPN 2 Pulau Derawan. Antusiasme datang sejak awal hingga akhir rangkaian kegiatan dimulai dari aksi bersih-bersih Pantai Kiani, dilanjutkan sosialisasi mengenai bahaya sampah plastik, dan ditutup dengan workshop melukis yang berlangsung di kawasan TPS 3R dan pesisir pantai.
Foto: Nurhadi Pratama
Tingginya aktivitas pariwisata turut meningkatkan timbulan sampah, terutama di destinasi wisata seperti Pulau Derawan. Dampaknya tidak hanya menjadi perhatian orang dewasa, tetapi juga dirasakan oleh anak-anak setempat yang menyaksikan langsung rumah dan ruang bermain mereka semakin tercemar oleh sampah. Ruang bermain yang seharusnya menjadi tempat anak-anak tumbuh dan bereksplorasi dengan aman kini turut terdampak oleh persoalan sampah, baik yang berasal dari aktivitas domestik maupun meningkatnya aktivitas pariwisata.
Selain melakukan perlindungan spesies dan peningkatan manajemen kawasan konservasi, Pemerintah Kampung Pulau Derawan bersama dengan WWF-Indonesia membangun dan mengelola TPS 3R untuk mengurangi pencemaran sampah plastik di laut Derawan maupun daratannya. Untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, tidak hanya bagi turis dan aktivitas pariwisata, tetapi menjadi ruang aman bagi anak-anak lokal untuk bermain dan mengembangkan diri. Lebih dari sekadar tempat pengumpulan dan pemilahan sampah, TPS 3R Pulau Derawan diinisiasi sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat. WWF-Indonesia bersama Pemerintah Kampung Pulau Derawan mendorong TPS 3R tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang mempertemukan masyarakat, anak-anak, dan berbagai pihak untuk memahami pentingnya menjaga lingkungan.
Aksi bersih-bersih pantai dilakukan di sepanjang pesisir Pantai Kiani. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing dibekali sebuah trash bag untuk mengumpulkan sampah. Kegiatan ini dikemas secara interaktif melalui tantangan bagi setiap kelompok untuk mengumpulkan sampah terbanyak. Sebanyak 8,76 kilogram sampah berhasil terkumpul dalam tiga trash bag, yang selanjutnya diangkut ke TPS 3R Pulau Derawan untuk dipilah dan dikelola lebih lanjut. Salah seorang siswi sengaja menyimpan beberapa potong sampah di saku celana olahraganya. Ia berencana memanfaatkan sampah tersebut sebagai bagian dari karya lukisnya. Melalui lukisan bertema ajakan untuk tidak membuang sampah ke laut, ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan laut sejak usia dini.
Foto: Nurhadi Pratama
“Harapanku Pulau Derawan bisa bebas sampah plastik, kak!” ujarnya saat sesi tanya jawab dalam sosialisasi tentang bahaya sampah plastik. Harapan itu bukan sekadar ucapan. Setiap hari ia membawa tumbler minum ke sekolah sebagai bagian dari kebiasaan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kepeduliannya lahir dari kekhawatiran melihat kondisi laut di sekitar Pulau Derawan yang semakin terancam oleh pencemaran sampah plastik. Dalam sosialisasi tersebut, para peserta juga diajak memahami bahwa sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai di alam. Mereka diperkenalkan pada langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak dari rumah, seperti memilah sampah sesuai jenisnya sebelum dibuang atau didaur ulang.
Pada saat sesi melukis di pantai, dua orang siswa menepi di bawah pohon teduh, terlihat sibuk melukis nelayan yang sedang menjaring ikan, dengan satu kuas terselip di atas telinganya. Mata yang sedang fokus itu ditemani oleh tumbler biru sederhana berisi air yang sesekali ia sisip saat matahari muncul dari awan-awan. Di sela-sela itu, temannya menyeletuk, “pinjam botolnya bentar, dong! Aku lupa bawa tumbler dan mau aku isi air lagi untuk minum,” yang menjadi bukti bahwa penggunaan plastik bagi anak-anak Pulau Derawan menjadi suatu hal yang dihindari.

Foto: Fatima Ramadhanty Rahmat
Sebanyak 24 lukisan karya anak-anak tidak hanya menggambarkan Pulau Derawan sebagai destinasi wisata bahari yang kaya akan keanekaragaman hayati, perikanan berkelanjutan, dan habitat berbagai spesies laut. Lebih dari itu, karya-karya tersebut merefleksikan Pulau Derawan sebagai tempat yang mereka sebut rumah. Bagi mereka, menjaga lingkungan Pulau Derawan berarti menjaga rumah tempat mereka tumbuh dan menjalani kehidupan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, perubahan dimulai dari tangan kecil yang memegang kuas, membawa tumbler ke sekolah, dan keberanian untuk berkata: laut ini adalah rumah kami.