AKSI SERIBU PELARI UNTUK HUTAN DAN GAJAH SUMATRA
Naldo menghentikan larinya sekitar sepuluh langkah sebelum garis akhir Eco Echo Trail Run di Sentul, Bogor, pada Minggu, 21 Juni 2026 lalu. Ia mengekspresikan kegembiraan menjadi finisher pertama dengan menari sebelum melaju lagi menerjang pita finish yang dibentangkan panitia. “Biasanya aku di road ‘ugal-ugalan’, ternyata di trail bisa ‘ugal-ugalan’ juga,” kata Naldo usai menyelesaikan virgin trail –istilah yang digunakan para pelari yang baru pertama kali menjajal jalur lintas alam- yang sejauh 5 kilometer itu dalam waktu 35 menit.
Meski berhasil finish terdepan, Naldo mengaku lintasan Eco Echo Trail Run tidak mudah. Salah satu tantangan terberat ia rasakan saat memasuki kilometer keempat dengan tanjakan yang cukup curam. "Aku sampai berhenti dulu," katanya. Namun, dukungan sesama pelari sepanjang jalur membuatnya tetap bersemangat untuk menyelesaikan rute.
Tak hanya menawarkan tantangan, lintasan di kawasan Sentul juga menghadirkan pengalaman menikmati keindahan alam secara langsung. Dari pengalaman itu, Naldo mengajak para pelari untuk ikut menjaga lingkungan agar keindahan alam tetap lestari.

Pesan serupa disampaikan Miller, peserta kategori 10K. Baginya, mengikuti Eco Echo Trail Run bukan sekadar olahraga, tetapi juga cara berkontribusi bagi lingkungan. "Untuk sesama runner, mari kita terus memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan dan mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini," ujarnya.
Eco Echo Trail Run 2026 merupakan charity trail run hasil kolaborasi WWF-Indonesia, SalingJaga, dan Kitabisa yang diikuti oleh sekitar 1.000 pelari. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk berlari sambil berkontribusi pada upaya pemulihan lingkungan dan kemanusiaan. “Ini bukan cuma tentang finish line, berapa jam, berapa menit. Kita menyalakan semangat pemulihan pascabencana Aceh yang belum selesai. Ini juga bukan hanya misi kemanusiaan. Kalian adalah earth guardian, maka saling jaga dengan manusia dan satwa liar untuk hidup dalam harmoni bersama,” pesan Direktur People, Operation, and Growth WWF-Indonesia, Rusyda Deli di garis start sebelum melepas para pelari.
Di tengah kemeriahan event lari Eco Echo Trail Run 2026, WWF-Indonesia juga menghadirkan acara bincang-bincang untuk menguatkan pesan lingkungan pada para pelari. Dalam sesi ini, Manajer External Engagement & Media WWF-Indonesia Diah R. Sulistiowati menyebutkan tentang DAS (Daerah Aliran Sungai) Peusangan di Aceh Tengah yang menjadi salah satu kantong habitat gajah sumatra. Namun, pada akhir tahun lalu, kawasan ini menjadi salah satu area yang terkena bencana banjir dan longsor.
Kejadian tersebut menjadi pengingat untuk semua orang agar terus mendukung upaya pelestarian alam, khususnya rumah gajah. “Gajah adalah bioindikator bahwa suatu lokasi itu kondisinya masih baik. Kalau gajah hilang, hutan hilang,” ujar Sulis, panggilan akrab Diah R. Sulistiowati.
Oleh karenanya, kata Sulis, semua harus menjaga kelestarian hutan dan satwa liar agar meminimalisir perubahan iklim. “Dan, peserta Eco Echo Trail Run telah berkontribusi menyelamatkan satwa liar,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa menjaga hutan dan satwa liar merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Members of Nature (MoNa) Warrior, Della Dartyan, turut membahas tantangan interaksi negatif antara manusia dan gajah akibat menyempitnya ruang jelajah satwa. Menurutnya, salah satu pendekatan yang dilakukan WWF-Indonesia adalah mendukung praktik agroforestri dengan mendorong masyarakat menanam komoditas yang tidak menjadi pakan gajah, seperti kopi dan kakao. “Semoga bisa hidup saling menghormati, kita berbagi ruang keanekaragaman hayati,” demikian harapan Della.
Harapan untuk menciptakan ruang hidup yang harmonis antara manusia dan satwa liar inilah yang terus diupayakan WWF-Indonesia melalui berbagai pendekatan, mulai dari pendampingan masyarakat hingga pelibatan publik yang lebih luas. Menurut Manajer Community Growth & Partnership WWF-Indonesia, Michael Nugraha Budiarto, salah satu cara untuk mendekatkan isu lingkungan kepada masyarakat perkotaan adalah melalui kegiatan yang relevan dengan keseharian mereka, seperti event lari. Selain itu, lewat komunitas Members of Nature (MoNa), WWF-Indonesia terus berupaya menghadirkan ruang bagi siapa saja untuk menghubungkan hobi, komunitas, dan aksi nyata bagi lingkungan.

Dari Eco Echo Trail Run 2026, terlihat bahwa kepedulian terhadap alam dapat diwujudkan melalui berbagai cara, termasuk aktivitas yang dekat dengan keseharian. Di balik setiap peluh dan garis akhir yang berhasil dilewati, tersimpan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi hutan, satwa liar, dan masyarakat yang bergantung padanya. Sebab, upaya menjaga alam tidak selalu dimulai dari tindakan yang besar, melainkan dari kesediaan untuk peduli, bergerak, dan mengambil bagian dalam menjaga kehidupan tetap lestari.
