PERUBAHAN IKLIM ANCAM MASYARAKAT DAN HABITAT PESISIR
Oleh: Masayu Yulien Vinanda
Isu perubahan iklim dan pemanasan global menjadi ancaman serius bagi kawasan segitiga terumbu karang atau yang lebih dikenal dengan Coral Triangle (CT), Ibnu Sofyan, peneliti Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Lapangan Republik Indonesia (BAKOSURTANAL) menunjukkan hal tersebut.
Menurut Ibnu, peningkatan permukaan air laut telah mencapai 150 cm. Fenomena ini salah satunya disebabkan oleh faktor termosteric atau naiknya temperatur air laut. Berbicara dalam diskusi mengenai ancaman dan peluang terhadap laut dan pesisir terkait perubahan iklim di Indonesia Kamis (23/04/2009), Ibnu menyatakan bahwa setiap kenaikan 1◦ C, tinggi permukaan air laut naik 20 hingga 40 cm.
Diskusi tersebut diselenggarakan oleh WWF Indonesia dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kantor PWI Pusat, Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat dalam rangka menyambut agenda dunia World Ocean Conference (WOC) yang akan digelar di Manado pada 11-15 Mei 2009 mendatang. Pembahasan isu kelautan tersebut disiarkan secara nasional dan internasional oleh RRI Pro4 dalam talkshow bertajuk “Suara Demokrasi.”.
Selain Ibnu, hadir pula empat pembicara lain yakni Agus Supangat dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Agus Purnomo dari Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Mirza Pedju dari WWF-Indonesia, dan Jamaluddin Jompa dari Coral Reef Rehabilitation and Management Program II (COREMAP II) - Departemen Kelautan dan Perikanan. Selain mengundang peserta diskusi yang hadir (kalangan pers, pemerintahan, dan staf WWF), pendengar setia RRI Pro4 di seluruh Indonesia juga dapat langsung berinteraksi via telpon. Tampak pula pada diskusi tersebut Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Tarman Azzam.
Pada diskusi tersebut, Mirza Pedju (WWF-Indonesia) menjabarkan beberapa fenomena di laut yang terjadi akibat perubahan iklim, antara lain El Nino Southern Oscillation (ENSO) pada tahun 1997/1998, peningkatan suhu laut dan rusaknya terumbu karang di kawasan Asia Tenggara yang mencapai 18 %. Spesies laut seperti penyu juga menjadi korban perubahan iklim. Sea level rise ditengarai Mirza sebagai penyebab utamanya hilangnya pantai peneluran penyu. Rusaknya laut, otomatis akan berdampak terhadap penghidupan masyarakat pesisir yang masih sangat bergantung pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir untuk penghidupan mereka.
Diksusi yang berlangsung selama 60 menit itu diharapkan mampu mensosialisasikan isu kelautan pada publik, serta ancaman perubahan iklim terhadap masyarakat dan habitat pesisir. Pemaparan fakta oleh kelima narasumber nantinya juga akan dibawa sebagai bahan pertimbangan pada WOC di Manado yang diharapkan akan menghasilkan ”Manado Declaration.”
Direktur Pesisir dan Lautan DKP, Ida Kusuma, yang turut hadir dalam diskusi tersebut mengemukakan harapannya terhadap WOC dan agenda dunia lainnya, ”Kami berharap agar masalah kelautan dapat disuarakan pada agenda-agenda pembahasan perubahan iklim tingkat dunia, dan Indonesia sebagai negara kelautan, harus turut memprakarsai event penting ini,” jelas Ida.
Bangsa Indonesia patut bangga karena menjadi tuan rumah pertemuan bergengsi mengenai kelautan dunia, WOC, pada Mei 2009 ini. Pertemuan tersebut rencananya akan dihadiri sekitar 2500-3000 peserta dari 150 negara. Deklarasi Manado sebagai output WOC diharapkan akan mampu membangun paradigma baru dan menjadi langkah awal bagi percepatan pembangunan kelautan di tingkat nasional, regional, maupun internasional.