MENGANTISIPASI PEMANASAN GLOBAL
Terumbu karang dapat mengurangi pemanasan global. Ia juga merupakan sumber pangan bagi sekitar 120 juta penduduk dan sumber ekonomi dengan perputaran uang senilai US$ 2,3 miliar.
Riza Sofyat
SEBAGAI salah satu negara penggagas terbentuknya Coral Triangle Initiative (CTI), sudah menjadi kewajiban bagi Indonesia untuk terus menggelorakan akan pentingnya terumbu karang bagi kehidupan umat manusia. Terkait dengan hal tersebut, Indonesia kembali menggelar pertemuan ilmiah ""Coral Reef Management Symposium on CT Area and Indonesian Ocean Policy Workshop"" di Jakarta, tanggal 13-14 Oktober lalu.
Simposium yang dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Reddy Numberi itu diikuti oleh sekitar 400 peserta dari mancanegara. Tak kurang dari 99 makalah dibahas dalam acara tersebut, termasuk tiga topik bahasan utama Pengelolaan Terumbu Karang, Pembelajaran dari Pendekatan Kontemporer, Keanekaragaman Hayati, Ekologi, dan Persebaran Karang dan Biota yang Berasosiasi, serta Ancaman terhadap Terumbu Karang, Pemulihan, Ketahanan, dan Restorasi. ""Simposium ini diharapkan menghasilkan solusi yang lebih baik, dalam pengelolaan terumbu karang, terutama di area kawasan segitiga terumbu karang sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut di dunia,"" tutur Freddy saat membuka simposium itu.
Di Indonesia, menurut Freddy, perlindungan dan pengelolaan keberlanjutan terumbu karang tidak sebatas tanggung jawab Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). ""Namun, juga diperlukan keterlibatan seluruh stakeholders kelautan dan perikanan, instansi terkait, peneliti, masyarakat, dan pemerintah daerah serta dukungan dunia internasional,"" katanya.
Agenda utama perlindungan dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan itu tak lain adalah untuk meminimalisasikan dampak pemanasan global, selain tetap menjaga sumber ekonomi regional dengan perputaran uang yang mencapai USS 2,3 miliar per tahun. Freddy menegaskan, Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga terumbu karang mengingat setiap tahunnya tingkat kerusakan pada biota laut ini semakin tinggi.
Dari total luas terumbu karang dunia, Indonesia memiliki 82 generasi dan 590 spesies karang keras yang tersebar di wilayah seluas 74.748 km2 Tapi sayang, tingkat kerusakannya cukup tinggi akibat peningkatan eksploitasi karang untuk fondasi rumah, pengerasan jalan, pembuatan kapur, dan penggunaan alat tangkap yang merusak, serta pembuangan limbah domestik dan industri ke laut. Kerusakan ekosistem terumbu karang ini akan berdampak pada penurunan cadangan ikan, baik dari keragaman, ukuran, dan jumlah. ""Penurunan cadangan ikan ini juga berakibat menurunnya pendapatan pada masyarakat pesisir. Selain itu, investasi yang masuk akan berkurang,"" kata Freddy
Bila kerusakan terumbu karang di Indonesia tinggi, maka mata rantai keberadaan wilayah coml triangle juga berpengaruh Untuk mengantisipasi kerusakan terumbu karang tersebut, menurut Freddy DKP telah mengeluarkan larangan terhadap penjualan terumbu karang yang asli dan alam. ""Jadi, penjualan terumbu karang hanya boleh pada karang transplantasi atau buatan yang telah dibudidayakan,"" ujarnya kepada TRUST.
Adanya usaha budi daya terumbu karang dengan teknik transplantasi, harus diakui, memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, budi daya terumbu karang bisa mendatangkan pendapatan ekonomi yang cukup lumayan baik bagi negara maupun masyarakat pesisir Berdasarkan hasil praktik kerja lapangan yang pernah dilakukan mahasiswa Universitas Brawijaya, Hakim Miftahul Huda, di CV Dinar Bali tahun 2006, dari penjualan sebanyak 23.251 unit terumbu karang, nilai penjualannya mencapai Rp 492.676.306. Sementara keuntungannya setelah dikurangi modal mencapai Rp 105.428.891.
Usaha perdagangan terumbu karang, diakuiYaya Mulyana, Direktur Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II (Coremap IT), bisa berdampak negatif apabila terjadi penyimpangan dengan mengambil langsung dari alam. Untuk mengatasi hal itu, menurut Yaya, pihaknya melakukan pengawasan secara ketat agar terumbu karang yang diperdagangkan tidak diambil dari alam. ""Mekanismenya dilakukan melalui
MiNGURANGI DAMPAK PEMANASAN GLOBA
perizinan, pembatasan dan penomoran pada setiap unit terumbu karang transplantasi,"" kata Yaya.
Terkait masalah perizinan, selama ini yang mengeluarkan izin masih Departemen Kehutanan. Untuk mendapatkan izin tersebut, pengusaha harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kendati izin dari Deparlemen Kehutanan sudah di tangan, namun kegiatan transplantasi terumbu karang belum bisa dilakukan bila belum ada izin dari pemerintah daerah setempat. ""Seperti Jakarta, Bali, dan beberapa daerah lainnya, pemerintah daerahnya kini tak mengizinkan lagi kawasan lautnya dipakai usaha transplantasi terumbu karang,"" tutur Yaya.
PENGAWASANNYA CUKUP KETAT
Kalaupun diizinkan, menurutYaya, maka dalam izinnya akan dikenakan kuota atau batasan berapa banyak terumbu karang dan hasil transplantasi itu yang boleh diperdagangkan. Sedangkan untuk mencegah kenakalan para pengusaha, Coremap juga memberlakukan registrasi pada setiap terumbu karang yang ditransplantasi. Kalau dalam perdagangan itu terdapat terumbu karang transplantasi yang tidak ada nomornya, maka terumbu karang tersebut akan disita dan perusahaannya dikenai sanksi. ""Jadi, pengawasan yang kami lakukan itu memang sudah dirancang cukup ketat,"" tutur Yaya.
Terhadap terumbu karang yang hidup secara alami, berbagai upaya telah dilakukan Coremap demi menjaga kelestarian dan perkembangannya.
Seperti membangun kesadaran akan pentingnya terumbu karang sejak dini, yaitu dengan menggandeng Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Menurut Yaya, caranya dengan memasukkan terumbu karang dalam kurikulumnya pelajaran di sekolah. ""Saat ini memang baru pada sekolah-sekolah dari SD sampai SMA di daerah-daerah yang ada kegiatan Coremap-nya,"" kata Yaya.
Daerah yang dimaksudYaya meliputi kabupaten-kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Riau, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat untuk wilayah Indonesia Barat, serta Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan untuk wilayah Indonesia Timur Selain itu, menurutYaya, setiap tahunnya juga melakukan bimbingan teknis terhadap 40 duta karang. ""Duta-duta karang inilah yang diharapkan akan secara efektif mengampanyekan betapa pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang,"" katanya.
Agenda besar dari semua kegiatan Coremap II tersebut, tak lain adalah dalam rangka mewaspadai bahaya pemanasan global yang kmi menjadi perhatian dunia. MenurutYaya, terumbu karang dapat mengurangi dampak pemanasan global. Karena terumbu karang dengan kondisi baik mempunyai fungsi yang cukup luas, yaitu memecah ombak dan mengurangi erosi; tempat cadangan deposisi kapur yang mengandung karboa
Terumbu karang, sekaligus juga berfungsi mengurangi karbon yang lepas ke atmosfer sehingga dapat mengurangi dampak kerusakan ozon. Tetapi, lanjut Yaya, pada terumbu karang dengan kondisi jelek terjadi pengurangan kapur yang mengakibatkan turunnya permukaan terumbu karang. ""Sehingga gelombang laut tidak dapat lagi dipecah oleh terumbu karang. Lambat laun, gempuran gelombang laut menggerus daratan rendah menjadi laut,"" tutur Yaya.
Karena itu, salah satu usaha menghadapi ancaman pemanasan global adalah menjaga dan memelihara terumbu karang. Imam Bachtiar, pemerhati terumbu karang dari Universitas Mataram, pernah mengingatkan betapa pentingnya keberadaan terumbu karang Jika Anda tidak memelihara terumbu karang di wilayah pesisir, maka cucu Anda tidak dapat mewarisi tanah dan rumah karena 100 tahun lagi akan menjadi laut,"" tutur Imam D