HEART OF BORNEO WISATA KELAS DUNIA
Kini saatnya menjadikan Heart of Borneo sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan , selain selalu Bali . Para pelancong dari berbagai penjuru dunia nampaknya sudah perlu menuliskan “Berlibur ke Heart of Borneo” sebagai salah satu agenda penting dalam kalender berlibur mereka bila mengingat Indonesia.
Akhir-akhir ini ada sebuah kecenderungan dimana orang-orang merasa bangga apabila identik sebagai orang yang memiliki gaya hidup hijau (Green Lifestyle). Industri dari berbagai jenis usaha pun melirik pada hal-hal yang berbau ‘hijau dan alami’, termasuk industri pariwisata. Istilah Back to The Nature atau wisata alam menjadi preferensi dari para pelancong saat ini. Bila demikian, maka Heart of Borneo adalah salah satu destinasi wisata yang tepat untuk wisata spesifik ini.
Goa Tahapun-Kalbar © WWF-Indonesia/JIMMY
Kabupaten Malinau, satu-satunya kabupaten konservasi di Kalimantan Timur, sukses menyelenggarakan Workshop Internasional bertajuk ‘Pengembangan dan Pemasaran Ekowisata di Jantung Borneo : Apa Peluang-peluang untuk Masyarakat, Pemerintah, Swasta dan Konservasi” sejak tanggal 5 – 6 Agustus 2008.
Keindahan dan atraksi alam yang mempesona dan berpotensi besar untuk dikembangkan di wilayah Heart of Borneo dibicarakan pada acara dua hari ini. Pemerintah pusat dan daerah, termasuk dari institusi kepariwisataan dan budaya, para kepala balai taman nasional di kawasan Heart of Borneo, praktisi bisnis wisata alam, perwakilan masyarakat dari tiga provinsi di Kalimantan dan kolega dari Malaysia berdiskusi bagaimana supaya kekayaan Borneo ini dapat dijual dan dinikmati oleh pecinta wisata alam. Mulai dari adat, budaya dan filosofi hidup masyarakat adat Dayak yang menarik dan tercermin dalam kehidupannya sehari-hari dan keseluruhan hutan hujan tropis alam Borneo serta koleksi keanekaragaman hayati yang unik.
Sembilan butir kesepakatan Malinau yang dilahirkan di akhir kegiatan workshop mengamanatkan pembentukan Jaringan Pelaku Ekowisata Heart of Borneo, membentuk dan atau menguatkan Pokja Ekowisata di tingkat kabupaten, mendorong kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan Ekowisata Heart of Borneo, konsistensi dalam penguatan institusi di tingkat lokal sehingga ekowisata berbasis masyarakat dapat terefleksi dengan baik, serta melakukan upaya pemasaran global yang kuat dengan memanfaatkan merk ‘Heart of Borneo’.
Menurut Albert Theo dari Malaysia, seorang praktisi yang sudah 17 tahun lebih menekuni bisnis wisata di Borneo, Heart of Borneo bisa menjadi sebuah jaminan mutu untuk promosi ekowisata di kawasan seluas sepertiga pulau Borneo di belahan perbatasan Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam ini. Beberapa waktu terakhir ini wajah Borneo lebih sering dikenal sebagai tempat tersianya orangutan karena konversi habitat mereka menjadi kebun-kebun kelapa sawit dan imbas dari kebakaran hutan. Ekowisata Heart of Borneo yang mempromosikan berbagai tempat indah yang spektakuler, berbagai satwa dan flora endemik yang unik hidup bebas di alam liar dan mengunjungi tempat wisata di kawasan konservasi Borneo yang dikelola dengan baik dapat membantu membalikkan perspektif semacam ini di mata wisatawan yang berasal dari belahan bumi lainnya mengenai Borneo.
Adventurous Borneo © WWF-Indonesia/JIMMY
“Borneo yang sejak lama dikenal juga sebagai paru-paru dunia bila dikaitkan dengan persoalan pemanasan global yang sedang trend saat ini bisa menjadi sebuah strategi yang baik untuk menciptakan alternatif pendanaan untuk pengembangan ekowisata di kawasan Heart of Borneo,” lanjut Albert, karena sebagian besar hutan di dataran tinggi Borneo ini masih memiliki kondisi tutupan lahan yang memadai untuk menyerap karbon. Hal ini dalam jangka panjang akan dapat membantu mendukung upaya-upaya konservasi di Borneo.
Terungkap juga bahwa pengembangan ekowisata di kawasan yang terpencil dengan kendala transportasi dan ekonomi berbiaya tinggi seperti Borneo dapat diatasi dengan menyiasati pengembangannya melalui pinjaman modal berbunga rendah, tax holiday, atau memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh NGO atau lembaga bantuan pemerintah untuk peningkatan kapasitas penduduk lokal.
Ekowisata biasanya terkait dengan kawasan konservasi. Saat ini kawasan konservasi masih memiliki berbagai kendala yang menghalangi kawasan tersebut dalam mengembangkan ekowisata. Hal lain adalah masalah perizinan untuk memasuki kawasan konservasi yang dirasakan masih menyulitkan karena berbagai prosedur yang diperlukan. Pada 26 Juni 2008 telah ditandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pariwisata alam di kawasan konservasi antara Menteri Kehutanan dengan Menteri Pariwisata. Hal ini merupakan sesuatu yang positif dalam pembangunan ekowisata di Heart of Borneo.
© WWF-Indonesia/JIMMY
Heart of Borneo sebagai program lintas batas negara juga menjadi peluang pengembangan ekowisata terpadu antara Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia, dimana masing-masing negara bisa menjadi pintu untuk feeding tourist untuk negara tetangganya. Semoga ekowisata Heart of Borneo memang menjadi titik temu antara konservasi dan ekonomi yang menjaga surga hijau Borneo dan berkontribusi secara langsung untuk perekonomian negara, dan kemudian menciptakan atau meningkatkan kesempatan dan aktivitas ekonomi bagi masyarakat lokal di pedalaman Borneo, yang berarti sumbangsih untuk pengentasan kemiskinan. (na)
Baca juga:
Ekowisata dan Konservasi di Heart of Borneo: Kesepakatan Malinau
Siaran Pers Workshop Ekowisata Heart of Borneo