BAGAIMANA NIAT BAIK KITA, JUSTRU DAPAT MEMPERPARAH KONDISI SATWA-SATWA RENTAN?
Sebelum berangkat, tujuan saya sebenarnya sangat sederhana, melihat penyu. Juga sekalian ingin mengambil satu atau dua foto untuk bisa memamerkannya di Instagram story pribadi. Apalagi memang saya belum pernah sekalipun melihat penyu secara langsung, selama ini hanya melalui Youtube, Televisi, dan majalah-majalah sains yang kerap saya koleksi saja. Itu kenapa, dalam perjalanan pertama ke Bali ini saya langsung menuju ke pulau kecil bernama Serangan di sebelah selatan kota Denpasar, yang dikenal sebagai salah satu "Pulau Penyu" di Indonesia.
Setelah kira-kira setengah jam mengendarai sepeda motor yang sebelumnya sudah di sewa, akhirnya saya tiba di Turtle Conservation and Education Center (TCEC). Bertemu dengan teman-teman pelaku konservasi di sana, kami pun langsung melihat beberapa jenis penyu yang ada disana, salah satunya penyu sisik. Cangkangnya memiliki pola yang sangat khusus, mudah untuk dikenali dan memiliki bagian-bagian tajam di tepiannya seperti mata gergaji. Kata pemandu yang ada di sana, penyu ini salah satu spesies yang statusnya tercatat kritis oleh IUCN, artinya selangkah lagi menuju kepunahan. Saya langsung berpikir pada saat itu, apalagi saat melihatnya dari jarak kurang dari satu meter, apakah beberapa puluh tahun ke depan anak-anak yang lahir hari ini masih bisa melihat penyu ini?

Di sisi kanan kolam, puluhan telur-telur penyu sedang dierami di bak pasir buatan, beserta penanda nama spesiesnya, ada juga telur yang ditaruh di dalam mesin yang tampilannya mirip “Microwave”, ternyata sebuah inkubator untuk mengatur suhu, kelembaban yang sesuai untuk telur-telur penyu. Di kolam yang jauh lebih dangkal, ada tukik-tukik, sebutan untuk bayi penyu yang baru menetas. Di tempat ini, telur-telur penyu dijaga hingga menetas, sementara para tukik dirawat pada fase awal kehidupannya sebelum akhirnya dilepasliarkan ke laut. Fasilitas memang dibuat untuk membantu meningkatkan peluang hidup pada fase-fase awal kehidupan mereka disini. Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana seekor penyu memulai hidup. Yang saya tahu bahwa penyu bertelur di pantai lalu kembali ke laut. Hari itu, yang saya lihat adalah bagaimana sebagian proses tersebut kini membutuhkan bantuan manusia. Mulai dari perlindungan telur, pemantauan sarang, hingga perawatan tukik sebelum dilepasliarkan. Semakin lama berada di sana, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Berapa banyak perubahan yang telah terjadi sampai titik di mana sebagian kehidupan awal penyu perlu untuk dibantu seperti ini?

Teman-teman di TCEC bercerita, bahwa hubungan antara Pulau Serangan dengan penyu, sudah ada jauh sebelum Bali menjadi destinasi wisata seperti saat ini, penyu datang bertelur ke pantai pulau ini sejak lama. Namun setelah proyek reklamasi besar-besaran tahun 1995 hingga 1998, populasi penyu di kawasan ini terus menurun sampai sekarang. Jika ingin melihat penyu langsung, pilihan terbaiknya adalah ke pusat-pusat konservasi. Dibanding berharap peruntungan untuk melihat mereka langsung di pantai seperti seharusnya.
Dari sekian banyak percakapan dengan para pelaku konservasi di Pulau Serangan, yang paling membekas bagi saya yaitu saat saya menganggap ancaman terbesar bagi hewan-hewan rentan seperti penyu ini adalah perburuan, perdagangan ilegal, atau kerusakan habitat. Memang ini semua masih menjadi persoalan, tapi ternyata ada hal lain yang cukup sering terjadi namun tidak kita sadari di lapangan. “Banyak kok orang yang peduli ke penyu Bli, tapi nggak semua orang tahu bagaimana harus bersikap ketika bertemu penyu” kata salah seorang pemandu di sana.
Contohnya seperti saat penyu naik ke pantai pada malam hari, reaksi pertama kita biasanya adalah mendekat, mengambil foto, menyalakan lampu flash, merekam video, atau sebagian bahkan langsung memulai siaran langsung melalui media sosial saat itu juga.
Jika saya membayangkan menjadi seekor penyu yang baru kembali ke pantai setelah kurang lebih 30 tahun penuh di lautan dan kemudian singgah hanya untuk bertelur, tiba-tiba dikelilingi banyak orang dengan sorotan flash-flash handphone. Bagi kita mungkin ini bukan hal yang terlalu mengusik, karena kita datang dengan niat yang baik, dan tanpa pemikiran untuk menyakitinya. Namun bagi penyu-penyu, rasanya pasti jelas berbeda. Sebuah penelitian di negara Tanjung Verde yang mengamati 1.146 upaya peneluran penyu menemukan bahwa keberadaan cahaya buatan di pantai dapat menurunkan aktivitas peneluran hingga 20–35 persen. Cahaya juga membuat penyu menghabiskan waktu lebih lama di darat dan mengalami disorientasi saat kembali ke laut.
Penyu yang sudah berhasil naik ke pantai pun belum tentu jadi bertelur. Ketika merasa terganggu oleh keramaian atau aktivitas manusia di sekitarnya, mereka dapat membatalkan proses peneluran dan kembali ke laut tanpa meninggalkan sarang. Perilaku ini dikenal sebagai false crawl.
Artinya, tindakan yang sering kita lakukan dengan niat baik, seperti menyalakan senter atau flash untuk merekam video, memulai siaran langsung dan membuat konten yang sebenarnya bertujuan mengajak para audiens agar ikut peduli terhadap penyu, atau bahkan mengerumuninya dengan niat melindungi dari para pencuri penyu atau predator darat seperti anjing liar misalnya, bisa justru berakhir mengganggu proses alami yang jauh lebih penting.
Sebenarnya ada banyak sekali hal yang dilakukan oleh para penggiat konservasi di lapangan, karena sejujurnya, mereka lah garda yang paling depan untuk mewakilkan kita dalam upaya memulihkan status dari spesies yang dilindungi ini. Tentunya ini semua harus dilakukan secara bersama-sama dan antar lintas sektor, termasuk peran penting dari organisasi non-pemerintah (NGO). Salah satu contohnya dapat dilihat di TCEC Pulau Serangan ini, disini WWF-Indonesia mengadakan ruang treatment sementara bagi penyu-penyu yang baru saja di rescue dan biasanya membutuhkan penanganan segera.
Dalam kurun 2015 hingga awal 2025, hampir 300 penyu telah ditangani di sini. Sebagian merupakan penyu yang terdampar, sebagian lainnya hasil tangkapan sampingan (bycatch) dalam aktivitas perikanan, maupun hasil penyitaan dari kasus perdagangan dan penyelundupan satwa liar. Sesampainya disini, akan dilakukan pemeriksaan kesehatan, diagnosis penyakit, hingga tindakanmedis seperti operasi yang ditangani oleh dokter hewan berpengalaman dalam penanganan reptil laut dan satwa liar. Seluruh proses tersebut dilakukan sebelum penyu memasuki tahap rehabilitasi lebih lanjut. Jika diibaratkan, fasilitas ini seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD tapi) khusus bagi penyu.
Dan rasanya yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat, adalah dengan memahami apa do's and don'ts nya, sewaktu-waktu hanya kita sendiri yang berada dilokasi bersama spesies rentan seperti penyu ini. Lagipula mungkin kebanyakan dari kita hanya akan bertemu penyu sekali atau dua kali sepanjang hidup. jadi saat momen itu, keputusan yang kita ambil dalam beberapa menit pertama bisa menjadi perbedaan antara membantu atau justru mengganggu suatu proses yang sedang berlangsung secara alami.
