RIBUAN CAP IBU JARI, DUKUNGAN ANAK BANGSA UNTUK KONSERVASI
Oleh: Masayu Yulien Vinanda
Jakarta (17/08)- WWF-Indonesia memiliki cara unik untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64. Organisasi konservasi ini menggelar acara puncak “Monumen Tanah Airku” di Mal Artha Gading Jakarta Utara, pada hari Senin (17/08/2009), dengan menampilkan sebuah monumen raksasa bergambar peta Indonesia, tersusun dari 64 panel kanvas berisi cap ibu jari masyarakat.
Peresmian monumen berukuran 65 m2 itu dilakukan melalui peletakan panel terakhir oleh Ketua Dewan Pengawas WWF-Indonesia Tati Darsoyo dan musikus sekaligus Suporter Kehormatan WWF-Indonesia, Katon Bagaskara. Tak lama kemudian, lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan pengunjung tempat belanja tersebut, dipimpin oleh Katon dan diringi suara bening anak-anak paduan suara “Bina Vokalia”.
Acara puncak Monumen Tanah Airku tersebut, dihadiri pula oleh Anggota Dewan Pengurus WWF-Indonesia Rizal Malik dan General Manager Mal Artha Gading Djoko Mudjiono. Sejumlah Supporter Kehormatan WWF lainnya: Marcel dan Mischa Chandrawinata serta grup a cappella Jamaica Café menambah semarak acara monumental tersebut.
Panel pertama Monumen Tanah Airku pertama kali diluncurkan bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2009 lalu. Di monumen berukuran 65m2 hasil kerjasama WWF-Indonesia dan Hakuhodo Indonesia tersebut, masyarakat secara sukarela membubuhkan dua cap jempol mereka, hijau di atas daratan dan biru di atas lautan. Cap jempol tersebut merupakan simbol komitmen dan dukungan mereka terhadap upaya konservasi hutan dan laut.
Dari 64 panel, terkumpul sekitar 15000 cap jempol dari 7500 partisipan. Setelah dirangkai menjadi sebuah lukisan peta, monumen tersebut dipamerkan sebagai seni instalasi di Atrium India Mal Artha Gading selama sepekan sejak Selasa (11/08) sampai Senin (17/08).
Nama ratusan pendukung monument tanah airku tersebut juga dipampangkan selama pameran untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki pejuang lingkungan yang siap menjalankan komitmen mulianya.
“Hasil cap jempol ini sangat penting untuk strategi WWF ke depannya karena menjadi modal penting untuk bahan advokasi kepada dunia agar program lingkungan tetap mendapat perhatian,” papar Rizal Malik dalam konferensi pers yang digelar sebelum acara puncak tersebut. “Tanah dan air kita punya persoalan. Cap jempol tersebut mewakili tekad kita untuk menjaga kelestarian tanah dan air kita, ” ujarnya.
Sementara, Katon Bagaskara mengajak publik untuk mulai melakukan sesuatu untuk tanah airnya. “Saya mau mengetuk hati temen-temen semua. Saya berbicara disini bukan berarti saya hero atau apa, tapi karena saya bagian dari masalah. Begitupun Anda. Jadi, mulailah dari hal-hal kecil dulu, lakukan sesuatu untuk lingkungan, untuk tanah air kita,” ungkap Katon.