PERTEMUAN APEC/DKP/WWF DISKUSIKAN PENGELOLAAN PERIKANAN TUNA DUNIA YANG BERTANGGUNG JAWAB
Jakarta - Para ahli dari seluruh dunia akan menghadiri lokakarya untuk mendiskusikan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan dari tempat perkembangbiakan tuna di dunia yang dikenal sebagai Coral Triangle.
Secara geografis, Coral Triangle berada di daerah Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste
Coral Triangle merupakan tempat bertelur, berkembang biak, dan jalur migrasi tuna dunia. Sebesar 89% dari suplai tuna dunia berasal dari lokasi tersebut, termasuk di dalamnya Tuna Sirip Biru, Tuna Mata Besar, Tuna Sirip Kuning, Tongkol, dan Tuna Albakor. Semua jenis tuna tersebut berasal dari Lautan Hindia, Lautan Pasifik, dan Lautan Pasifik Selatan.
“Sejalan dengan arah kebijakan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia mengembangkan perikanan tuna yang bertanggung jawab. Jumlah tuna yang dapat ditangkap, dibatasi sesuai dengan Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (TAC-Total Allowable Catch). Pengawasan dan pengendalian penangkapan tuna dan perikanan secara umum juga makin ditingkatkan.” kata Direktur Pemasaran Luar Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, Saut Hutagalung.
Penangkapan berlebihan (overfishing), pembagian kuota untuk sumber yang terbatas, tangkapan sampingan (by-catch), dan kurangnya pendanaan untuk menegakkan tata cara dan manajemen berkelanjutan untuk penangkapan ikan tuna telah menurunkan populasi tuna di daerah Coral Triangle kepada titik yang memprihatinkan. Penurunan tersebut memberikan tekanan ke dalam ketersediaan tuna dari lautan Mediterania dan Atlantik.
“Manajemen perikanan tuna di lokasi tersebut mempunyai implikasi yang besar terhadap populasi tuna di seluruh dunia, khususnya untuk tempat pemijahan dan fase awal dari pertumbuhan tuna,” kata Dr. Jose Ingles dari program Coral Triangle WWF.
“Kita tidak bisa membiarkan tuna-tuna yang berada di kawasan Coral Triangle mengalami penurunan populasi yang drastis seperti Ikan Cod dan Tuna Sirip Biru di perairan Mediterania.” lanjutnya.
“Menyadari peranan penting Coral Triangle dalam sumber daya perikanan tuna dunia, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) bulan Mei 2009 di Manado. Diharapkan dengan konservasi dan pengelolaan kawasan Coral Triangle yang lebih baik, sumber daya tuna juga dapat lebih terpelihara.” Saut Hutagalung menambahkan.
Seminggu kemarin, Spanyol dan Jepang memutuskan bergabung dengan negara-negara lainnya untuk menutup sementara perdagangan Tuna Sirip Biru Laut Mediterania karena populasinya yang menurun drastis akibat penangkapan berlebihan, penutupan tersebut dilakukan sampai adanya pengamanan lokasi pemijahan ikan tersebut.
Agenda utama yang akan dibahas oleh APEC yang diselenggarakan oleh DKP dengan dukungan WWF sebagai lembaga konservasi adalah pencegahan ketidaktersediaan stok tuna di kawasan Coral Triangle melalui manajemen perikanan yang berkelanjutan, dan penghitungan nilai sebenarnya dari perikanan tuna di luar dari biaya operasional seperti bahan bakar, gaji buruh, dan biaya jasa lingkungan.
“Meskipun beberapa lokasi populasi tuna di belahan dunia lain sudah mengalami penurunan drastis, tampaknya armada nelayan dan jual-beli semakin meningkat di kawasan Coral Triangle, langkah-langkah penting perlu diambil segera untuk mencegah hilangnya tuna dari menu kita sehari-hari.” sambung Dr Jose Ingles.
Pengelolaan perikanan tuna yang bertanggungjawab merupakan fokus dari lokakarya ini, mulai dari pengelolaan sumber daya sampai dengan bisnis perikanan tuna yang berkelanjutan.
Lokakarya ini juga akan membahas lebih dalam mengenai pendekatan-pendekatan yang berkelanjutan dalam menangani penurunan populasi, seperti menggeser kebijakan ke arah peangkapan ikan yang lebih berkelanjutan. Lokakarya tersebut juga membicarakan sektor bisnis perikanan tuna, seperti memastikan profit yang berkeadilan bagi komunitas lokal dan bagi lingkungan.
Lokakarya ini juga mengikutsertakan Profesor Martin Tsamenyi, Direktur Pusat Sumberdaya Laut Nasional Australia, Sylvester Pokajam, Direktur Operasional Badan Perikanan Nasional Papua Nugini, Blane Olson, Wakil Presiden Anova, serta perwakilan-perwakilan dari Asosiasi Perikanan Komisi Tuna Indonesia.
Konferensi Pers akan diadakan di Ruangan SUMBA B, Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa 21 Oktober 2008 pukul 10.00 WIB.
Untuk informasi lebih lanjut:
- Fini Lovita, Koordinator Acara, HP: +62 (0) 813 3799 4363 email: fsudarsono@gmail.com
- Jaya Wijaya, Kasubdit Pemasaran Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia, HP: +62 (0) 81 2904 1774
- Aulia Rahman, Staf Komunikasi Program Kelautan, WWF-Indonesia,
HP: +62 (0) 818 863 722 email: arahman@wwf.or.id
Catatan untuk editor:
- Coral Triangle adalah tempat dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, sama pentingnya dengan Hutan Amazon dan Hutan Kongo bagi kehidupan muka bumi. Menjadi rumah bagi lebih dari 500 jenis koral, melingkupi 5.4 juta kilometer persegi area kelautan negara-negara Indo-Pasifik – Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
- Coral Triangle adalah tempat yang menyokong langsung kehidupan bagi 130 juta manusia yang tinggal di dalamnya, dan juga menjadi tempat penting bagi pemijahan dan pembiakan bagi ikan tuna serta bagi koral dan karang yang indah untuk sektor ekoturisme.
- Untuk informasi lebih lanjut tentang Coral Triangle: http://www.panda.org/coraltriangle