PENYELAMATAN SEEKOR KIJANG DI SUAKA MARGASATWA RIMBANG BALING
Jumat 25 Juli 2008 menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup Charles Antonio, salah seorang anggota Tim Patroli Harimau-WWF Indonesia karena berhasil menyelamatkan seekor kijang yang terjerat di Suaka Margasatwa Rimbang Baling-Kabupaten Kampar-Riau. Dalam rasa takutnya, ia memberanikan diri untuk memutus tali jerat yang mengikat kaki kijang tersebut. Dalam ragunya ia lebih memilih membiarkan kijang tersebut berlari bebas.
Sebagai salah seorang anggota Tim Patroli Harimau, Anton dan teman-temannya disebar ke beberapa titik yang rawan dengan perburuan satwa dilindungi. Dari hasil patroli sebelumnya, Tim Patroli Harimau mengidentifikasikan beberapa kawasan di Suaka Margasatwa Rimbang Baling banyak terdapat jerat mangsa harimau. Oleh karena itu mulai tanggal 17 Juli, Tim Patroli diterjunkan ke beberapa titik tersebut. Anton mendapat tugas untuk membersihkan jerat di bagian barat daya Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Dan sungguh sangat mengagetkan, hasil penyitaan kali ini di kawasan tersebut Anton dan dua orang rekannya berhasil menyita 60 jerat, jumlah terbesar yang pernah di dapat dalam satu periode patroli sejak dioperasikannya tim ini dari pertengahan tahun 2004. Dari semua jerat yang disita tersebut terlihat jerat-jerat tersebut diperuntukkan untuk menjerat kijang.
Suaka Margasatwa Rimbang Baling merupakan salah satu hutan perbukitan yang masih tersisa di Riau yang potensial untuk habitat harimau Sumatera. Hasil sementara survei WWF-Indonesia terhadap populasi dan distribusi harimau sumatera di Rimbang Baling lewat pemasangan camera trap (kamera jebak) yang telah dilakukan di Rimbang Baling pada 2006 mendapatkan 7 frame foto harimau.
Seekor kijang terjerat di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. © WWF-Indonesia
Pada 24 Juli 2008, bersama dua orang pemandu lokal, Anton menyusuri langkah demi langkah belantara Suaka Margasatwa Rimbang Baling yang berbukit mencari jerat yang tersembunyi di lantai hutan. Tiba di salah satu punggung bukit, ketika akan melakukan pembersihan jerat, Anton dan dua orang pemandu tersebut hampir saja ”kepergok” dua orang pemasang jerat. Rupanya dua orang tersebut tengah memeriksa jerat-jerat yang mereka pasang. Sontak saja, mereka bertiga langsung menggulingkan tubuhnya ke pinggiran bukit untuk menghindari kontak langsung dengan dua orang tersebut. Anton dan dua orang pemandu lokal tersebut akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pembersihan jerat pada hari itu.
Keesokan harinya, sekitar jam 8 pagi, Anton dan dua orang rekannya telah beranjak dari tenda mereka menginap malam itu, kembali menyusuri punggung bukit hari sebelumnya. Pada awalnya tim dengan santai memulai penyitaan jerat namun sampai pada jerat yang ke 15, tim dikejutkan dengan suara-suara dedaunan dan ranting. Sepertinya dedaunan dan ranting tersebut dikais dengan keras oleh seekor hewan. Dengan berhati-hati, mereka mencoba mendekati asal suara tersebut dan akhirnya Anton dan dua orang rekannya melihat seekor kijang betina sedang berusaha melepaskan diri dari jerat yang melekat di kaki kanan depannya. Kijang tersebut terperangkap pada satu jerat yang dipasang di sebuah batang kayu muda. Sepertinya baru dua atau tiga jam kijang tersebut terjerat karena ia masih sangat agreif meronta-ronta untuk melepaskan diri hingga kaki kanannya luka.
Anton, salah seorang anggota TPU-WWF Indonesia sedang berusaha melepaskan jerat pada seekor kijang. © WWF-Indonesia
Anton dan dua orang rekannya bingung sejenak tak tahu apa yang harus di perbuat. Ini adalah perjumpaan pertama mereka dengan satwa liar yang terjerat, ketiganya tidak tahu apa yang paling baik dilakukan untuk menyelamatkan kijang tersebut namun di satu sisi mereka khwatir bila kijang tersebut akan menyerang balik bila telah terbebas dari jeratan tersebut. Sempat terpikir oleh mereka godaan nilai ekonomi dari seekor kijang tersebut. ”Akh..... apalah artinya itu semua,” tepis Anto, lebih baik kijang ini hidup bebas. Akhirnya Anton memberanikan diri untuk mengayunkan goloknya ke tali jerat tersebut. Bacokan pertama belum dapat memutus tali tersebut, namun kijang tersebut bergerak semakin agresif, meronta-ronta. Melihat kondisi tersebut dua orang rekan Anton tidak berani lagi bertahan, mereka memilih kembali ke tenda. Dengan menahan rasa takut Anton, kembali mengayunkan goloknya ke jerat yang terbuat dari tali nilon tersebut, kali ini tali itu semakin genting.
Anton semakin ragu, apa dia harus melanjutkan penyelamatan kijang tersebut. Akhirnya, Anton menebaskan golok tersebut pada tali nilon sambil berkata dalam hati” jika pada ayunan yang ke 3 tidak juga putus mungkin saya akan lari meninggalkan kijang ini.” Pada ayunan yang ketiga tali nilon tersebut putus, kijang pun langsung kabur berlari ke arah pematang tebing. Tanpa pikir panjang Anton segera memanjat pohon untuk berjaga-jaga.
Setelah merasa kondisi aman, Anton berlari kembali ke tenda menjumpai dua orang rekannya dengan perasaan lega karena telah berhasil menyelamatkan seekor kijang. Anton berharap bahwa kijang tersebut dapat hidup bebas kembali dan tidak akan menemukan lagi kijang – kijang lain yang terjerat khususnya harimau.