MENUMBUHKAN HARAPAN DI PESISIR MARTEWAR: MENANAM MANGROVE SEBAGAI BENTUK PEDULI BERSAMA
Di muara Kali Martewar, Kabupaten Sarmi, setiap hempasan ombak menjadi pengingat akan ancaman abrasi yang perlahan mengikis garis pantai, mengancam permukiman, serta kebun-kebun kelapa yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Mereka tidak menyerah. Masyarakat Kampung Martewar memilih mengambil langkah bersama yang nyata, menanam bersama. Keputusan untuk kembali menanam di pesisir Martewar lahir dari proses belajar yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Kelompok pemuda yang mengambil peran sebagai penggerak, didukung oleh Ketua Badan Musyawarah Kampung (BAMUSKAM), serta perwakilan aparat kampung.
Berdasarkan dua kali laporan pemantauan yang disusun oleh kelompok pemuda untuk memantau pertumbuhan bibit, diketahui bahwa sebagian bibit dari jenis pohon yang ditanam sebelumnya tidak mampu bertahan akibat terjangan ombak di kawasan muara kali. Masyarakat kemudian sepakat untuk kembali mencoba penanaman mangrove bersama, dengan keyakinan kuat bahwa setelah mangrove tumbuh kuat, kawasan tersebut akan lebih siap ditanami berbagai jenis pohon lain. Penanaman ini dikelola secara swadaya oleh kelompok pemuda Kampung Martewar, sembari belajar mengenai pentingnya Adaptasi Berbasis Ekosistem (Ecosystem-Based Adaptation/EbA).

Penanaman mangrove menjadi salah satu bentuk tindak lanjut dari peningkatan kapasitas yang dilaksanakan pada bulan Maret 2026, sekaligus menjadi panduan aksi bagi masyarakat setelah pelatihan berakhir. Aksi ini dipilih dengan mempertimbangkan kondisi muara kali Martewar yang merupakan salah satu kawasan yang paling terdampak abrasi. Jika tidak segera ditangani, erosi pantai berpotensi mengancam permukiman warga serta kebun kelapa yang menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat. Dalam kondisi tersebut, mangrove diharapkan dapat menjadi pelindung alami bagi kawasan pesisir. Akar-akar mangrove yang kuat dan rapat berperan dalam menahan sedimen, mengurangi energi gelombang, serta membantu melindungi garis pantai dari abrasi.
“Kegiatan yang kami lakukan di Martewar adalah penanaman pohon mangrove. Sebagai pohon bakau, kami percaya mangrove bisa berfungsi menahan ombak. Maka dari itu, sebagai ketua pemuda, saya mengajak teman-teman untuk bersama-sama melakukan pencegahan terhadap ancaman yang sudah pernah terjadi sebelumnya, misalnya abrasi yang terjadi di pantai. Komitmen bersama antar personil kampung dan juga instansi, sangat membantu kami untuk proses belajar,” jelas Dedi Dores Weiraso, Ketua Pemuda Kampung Martewar.
Melalui langkah sederhana yang dilakukan bersama, masyarakat Kampung Martewar percaya bahwa perubahan dapat tumbuh dari kesadaran,kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk mengambil tindakan. Setiap mangrove yang ditanam b bukan hanya menjadi upaya untuk melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga untuk menjaga rumah, sumber penghidupan, dan masa depan generasi Kampung Martewar. Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, akar-akar mangrove tersebut menjadi simbol ketangguhan masyarakat yang memilih untuk merawat alam, agar alam terus memberikan perlindungan bagi mereka. (tan)