MENELUSURI JEJAK BADAK BERCULA SATU DI UJUNG BARAT PULAU JAWA
Oleh: Natalia Trita Agnika
Dua buah kano menyusuri Sungai Cigenter dalam keheningan diselingi kicauan burung. Sekitar 20 orang dengan antusias memandangi pepohonan di sekeliling sungai dan sesekali dikejutkan dengan kemunculan ular sanca batik dan musang di balik rindangnya pohon. Mereka adalah para blogger dan jurnalis pemenang lomba menulis ""Bagaimanakah Rumah yang Nyaman untuk Badak?"" yang diselenggarakan oleh WWF-Indonesia dan VIVA.co.id. Para pemenang tersebut adalah Gigin Ginanjar, Rifqi R. Hidayatullah, Dzamaru, Ari Supriadi, Nipal Sutiana, dan Dwi Bayu. Ditemani oleh staff WWF-Indonesia kantor Ujung Kulon dan pegawai Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), mereka menelusuri jejak badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon selama tiga hari dua malam pada 9-11 November 2015 silam.
Memasuki area transek 8, rombongan turun dari kano dan masuk ke lebatnya hutan. Ade Sumarna, anggota Rhino Monitoring Unit TNUK memimpin perjalanan. Sebagai anggota Rhino Monitoring Unit, keluar masuk hutan untuk memonitor keberadaan badak jawa sudah menjadi bagian dari kegiatannya sehari-hari. Rombongan jurnalis dan blogger kemudian diajak melihat tempat berkubang badak, mengamati bekas goresan cula di batang pohon, mengamati kotoran badak dari jarak dekat, serta melihat ""restoran"" para badak yang ditumbuhi oleh tanaman yang menjadi makanan kesukaan badak. Saat ini, ancaman terhadap pakan badak makin meningkat dengan adanya tanaman langkap (Arenga obtusifolia) yang tumbuh subur di hutan. ""Langkap ini menghalangi sinar matahari sehingga tanaman pakan badak tak bisa tumbuh,"" terang Ade sambil menunjuk tanaman sejenis palma. Menyikapi permasalahan tersebut, WWF-Indonesia mengembangkan sebuah proyek untuk mengendalikan pertumbuhan langkap. Ade juga menjelaskan cara memasang kamera jebak (camera trap) yang digunakan untuk mengobservasi badak jawa.
Selain terjun langsung ke lapangan untuk menelusuri jejak badak jawa, rombongan juga mendapat penjelasan dari staf WWF-Indonesia dan Kepala Balai TNUK mengenai pengelolaan kawasan TNUK sebagai habitat badak jawa dan seluk beluk konservasi badak jawa di TNUK. Kepala Balai TNUK, M. Haryono mengungkapkan bahwa dari hasil monitoring tahun 2015, tercatat ada 60 individu badak jawa. M. Haryono juga menjelaskan mengenai pentingnya second habitat (habitat kedua) dalam konservasi badak jawa. “Badak yang berada di satu populasi akan riskan untuk punah karena penyakit ataupun bencana alam. Oleh karena itu perlu dibangun harapan baru di luar semenanjung Ujung Kulon,” terangnya. Habitat kedua ini juga untuk menghindari inbreeding yang akan mengakibatkan menurunnya kualitas genetik dan spesies menjadi rentan terhadap penyakit.
Tak hanya mempelajari tentang “Pengelolaan Habitat dan Populasi Badak Jawa”, rombongan media trip tersebut juga mengunjungi Kampung Ekowisata Kelompok Paniis Lestari, Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Ujung Kulon. Mereka menginap di rumah penduduk yang difungsikan sebagai homestay ketika ada kunjungan wisatawan. Kelompok yang didampingi oleh WWF-Indonesia sejak tahun 2006 ini menyodorkan wisata budaya, wisata alam, dan wisata bahari. Rombongan disuguhi Tari Lesung dan Tari Rengkong yang dibawakan oleh penduduk setempat. Kedua tarian tersebut merupakan simbol rasa syukur pada bumi yang telah memberikan aneka hasil alam. Biasanya tarian ini dilakukan menjelang masa tanam padi.
Kelompok Paniis Lestari juga melakukan budidaya karang lunak di Pulau Badul. Rombongan diajak melihat lokasi penanaman karang dan berkesempatan melakukan penanaman karang secara langsung. “Penanaman karang ini sesuai dengan motto kami, No Coral No Fish,” terang Doni, ketua Kelompok Paniis Lestari. “Seiring berjalannya waktu, kegiatan rehabilitasi karang di Pulau Badul ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi Kelompok Paniis Lestari. Mereka juga melakukan kegiatan patroli dan monitoring terumbu karang serta menyediakan mooring bagi kapal-kapal yang ke Badul sehingga tidak membuang jangkar,” jelas Andri, Coastal and Ecotourism Officer WWF-Indonesia kantor Ujung Kulon.
Rangkaian kegiatan di ujung barat Pulau Jawa ini ditutup dengan mengunjungi Kelompok Ciwisata (Cinibung Wisata) di Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Di tempat ini, rombongan mendapat kesempatan untuk ikut belajar membuat patung badak dari kayu. Anggota kelompok Ciwisata membuat kerajinan patung badak dari limbah kayu sisa dari bahan bangunan. Beberapa patung juga dihias dengan corak batik. Usaha sampingan yang dilakukan oleh kelompok yang mendapat dampingan dari WWF-Indonesia ini merupakan salah satu upaya untuk mencegah gangguan terhadap flora dan fauna di kawasan TNUK.
Project Leader WWF-Indonesia Program Ujung Kulon, Yuyun Kurniawan mengapresiasi partisipasi para penulis dalam menyebarluaskan kegiatan konservasi melalui tulisan. “Tidak mudah menerjemahkan istilah sains ke istilah yang lebih dimengerti masyarakat. Karena itu, apa yang Anda lakukan sangatlah baik. Kami sebagai WWF-Indonesia memiliki fungsi untuk menyambungkan teman-teman ke para ahli supaya informasi dapat diterima seutuhnya oleh masyarakat,” tuturnya ketika menyambut para blogger dan jurnalis di kantor WWF-Indonesia di Ujung Kulon.