JIKA AS RATIFIKASI, PEMANASAN GLOBAL BISA DITEKAN
BERITAJAKARTA.COM — Hasil pertemuan pemimpin kota besar di dunia sebagai upaya penurunan emisi gas di Los Angeles, diharapkan dapat lebih baik dari pertemuan negara-negara dunia yang menghasilkan Protokol Kyoto. Saat ini, sejumlah pemimpin kota besar dunia sedang melakukan pertemuan guna membahas perubahan iklim global pada Governors` Global Climate Change Summit 2 di Los Angeles, AS, Rabu (30/9). Harapannya, pertemuan ini akan lebih baik dari Protokol Kyoto yang sudah ada dan pemerintah Amerika Serikat mau turut serta mengatasi pemanasan global.
""Harapan kita, Protokol Kopenhagen ini bakal lebih cerah daripada Kyoto. Tapi syaratnya, jika negara Adidaya itu mau ikut berpartisipasi mengurangi pencemaran guna menahan laju perubahan iklim,"" ujar Fauzi Bowo selaku Gubernur DKI Jakarta dalam pembukaan pertemuan tersebut.
Sebelumnya, pada pertemuan serupa yang menghasilkan Protokol Kyoto, AS, belum menandatangi. Padahal sebagian besar pemerintah negara di dunia telah menandatangi dan meratifikasi Protokol Kyoto. Tak berbeda antara Protokol Kopenhagen saat ini dan Protokol Kyoto sebelumnya. Protokol Kyoto dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, kemudian ditandatangani pada 16 Maret 1998 dan ditutup satu tahun kemudian. Selanjutnya persetujuan tersebut mulai berlaku pada 16 Februari 2005 dan diratifikasi Rusia pada 18 November 2004. Protokol Kyoto yang membicarakan mengenai perubahan iklim ini diratifikasi 174 negara, belum termasuk AS.
Kemudian pada akhir September ini, sejumlah pemimpin kota mengadakan pertemuan tahap awal menuju Protokol Kopenhagen. Pertemuan itu merupakan pendahuluan tingkat pemerintah daerah dari seluruh negara sebelum menyusun kesepakatan lingkungan tingkat dunia di Kopenhagen, Denmark, atau yang lebih dikenal sebagai Protokol Kopenhagen.
Rencananya Protokol tersebut disahkan pada Desember 2009 sebagai pengganti Protokol Kyoto yang tidak pernah ditandatangani AS. ""Bila AS turut berpatisipasi dalam Protokol ini, negara-negara lain akan lebih mudah diajak berperan serta,"" tutur Fauzi Bowo.
Dalam pertemuan yang menjadi pendahuluan untuk ke tingkat pertemuan lebih tinggi pada Desember mendatang, Gubernur Washington Chris Gregoire dan Gubernur California Arnold Schwarzenegger mengatakan, semua gubernur sudah bertindak di wilayah mereka guna mengatasi perubahan iklim. Saat ini, perlu tindakan konkret dari pemerintah nasional AS untuk mengatasi pemanasan global.
Fauzi Bowo sendiri, pada pertemuan itu menyuarakan pentingnya pelibatan pemerintahan kota dan provinsi dalam penanganan perubahan iklim dalam Protokol Kopenhagen. ""Pemerintah daerah memegang peranan kunci untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di setiap wilayah,"" ujar Fauzi Bowo.
Ia pun meminta kemudahan prosedur dalam perdagangan karbon (carbon trade). ""Usaha Jakarta mendapatkan insentif dari carbon trade banyak yang gagal hanya karena masalah prosedur, bukan substansi. Padahal, bus Transjakarta dan tempat pengolahan sampah terpadu Bantar Gebang sudah mampu mengurangi polusi karbon dioksida dan gas metan yang menjadi pemicu pemanasan global,"" kata dia.
Perdagangan karbon adalah insentif yang diberikan kelompok negara-negara maju kepada negara berkembang yang berusaha menurunkan emisi gas karbon. Forum Governors` Global Climate Summit 2 diikuti 1.200 peserta dari 70 negara, pemerintah provinsi dan kota.
Sebagai forum terbesar bagi pemimpin regional yang mencari solusi masalah iklim, forum ini akan membantu untuk mengembangkan kerja sama kemitraan dan mempromosikan aksi kolaborasi yang dibutuhkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, membangun perekonomian hijau dan memerangi perubahan iklim global. Upaya-upaya dalam forum ini memberikan kesempatan pemimpin regional langkah awal bagi negosiasi untuk perjanjian global terhadap perubahan iklim.(agus /tania)