DEPHUT DAN WWF GUNAKAN VIDEO JEBAKAN UNTUK PELAJARI KEHIDUPAN BADAK JAWA
Rekaman ‘video trap’ pertama badak Jawa berhasil didapatkan
JAKARTA, 29 Mei 2008—Hanya satu bulan setelah dioperasikan, video kamera jebakan (video trapping) yang dipasang oleh tim peniliti badak Taman Nasional Ujung Kulon dan WWF-Indonesia berhasil mendapatkan sejumlah rekaman gambar induk badak Jawa beserta anaknya. Rekaman gambar video ini adalah hasil rekaman gambar bergerak pertama dari badak Jawa yang berhasil didapatkan dengan menggunakan teknologi video kamera jebakan.
Dalam gambar yang berhasil direkam tersebut, tampak induk badak mengamati kamera video secara seksama sebelum kemudian menyeruduknya hingga terpental. Tim peneliti kemudian menemukan kamera tersebut dalam kondisi tergeletak di tanah tak jauh dari tempatnya semula dipasang, dan untungnya dalam kondisi dan fungsi yang baik.
""Dengan jumlah populasi yang relatif kecil, yaitu tak lebih dari 60 ekor saja, kerusakan yang mungkin timbul akibat insiden seperti itu sangat kecil artinya jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan,” kata Adhi R. Hariyadi, Manajer Lapangan WWF-Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon. “Badak jawa adalah satwa yang pemalu sehingga sangat sulit untuk mendapatkan gambarnya. Penggunaan teknologi video jebakan seperti ini sangat membantu untuk mempelajari perilaku dan dinamika populasi satwa liar ini dengan lebih detil jika dibandingkan kamera biasa,” kata Adhi. Sebelum ‘video trap’ ini mulai dioperasikan pada Maret lalu, WWF beserta mitra di TN Ujung Kulon telah menggunakan ‘camera trap’ (yang menghasilkan gambar tidak bergerak) untuk mempelajari kehidupan mamalia bercula satu tersebut.
Video lainnya yang terekam sejak Maret lalu mencakup gambar induk badak jawa serta anaknya yang sedang berkubang dilumpur, dan beberapa gambar individu badak jantan.
“Kami menyambut baik hasil temuan menggunakan video jebakan ini. Lewat rekaman video ini kami berharap bisa mendapatkan informasi yang lebih lengkap tentang kehidupan dan perilaku badak Jawa sehingga kemudian dapat membantu mengurangi ancaman terhadap habitat dan populasinya,” kata Agus Priambudi, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Ancaman tersebut diantaranya mencakup kompetisi habitat dengan Banteng liar serta tumbuhnya Arenga obsitufolia yang membatasi pertumbuhan tumbuhan pakan Badak Jawa.
Badak Jawa hanya ditemukan di dua tempat di dunia, dan populasi terbesar yaitu sekitar 60 ekor--atau lebih dari 90 persen populasi dunia-- berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Pemerintah Indonesia cq Departemen Kehutanan, bersama mitra, termasuk diantaranya WWF, IRF, dan YABI, belum lama ini meluncurkan Rencana Aksi Nasional Konservasi Badak –yang bertajuk Proyek Abad Badak--dan membentuk Rhino Task Force untuk mendorong upaya pelestarian badak di Indonesia. Salah satu upaya pelestarian badak Jawa yang menjadi target rencana aksi tersebut adalah memulai proses penetapan habitat kedua (second habitat) di luar TN Ujung Kulon, guna meningkatkan keberlangsungan hidup spesies ini dan mencegah kepunahan akibat bencana alam maupun epidemi penyakit. Penetapan habitat kedua tersebut dilakukan secara bertahap dengan merelokasi beberapa pasang badak Jawa yang subur ke lokasi baru yang sesuai.
“Identifikasi dengan menggunakan video jebakan seperti ini perlu terus dilakuan karena data yang dihasilkan dengan teknologi ini sangat membantu mengetahui peranan masing-masing individu badak Jawa di dalam populasinya,” kata Susie Ellis dari International Rhino Foundation. Menurutnya, keberhasilan mengidentifikasi individu yang sesuai untuk habitat kedua tersebut sangat krusial terhadap suksesnya penetapan habitat kedua bagi badak Jawa.
Kamera video baru menggunakan teknologi digital ini melengkapi metode terdahulu yang digunakan untuk mengidentifikasi satwa liar. Kamera ini relatif lebih mudah dipasang dan biasanya ditempatkan sekitar 10 meter
dari lokasi badak berkubang-- dan membutuhkan kehati-hatian dan pengamanan ekstra, serta memiliki sudut pengambilan gambar yang terbatas. Bagi peneliti satwa liar, terbatas dan jauhnya jarak dan sudut pengambilan gambar menyebabkan sulitnya identifikasi jenis individu badak tertentu.
Sebaliknya, selain mudah dipasang, kamera video baru ini sangat aman untuk dioperasikan dan cukup kuat. “Kamera yang diseruduk oleh induk badak itu kami bersihkan dan keesokan harinya dipasang kembali. Sama sekali tak ada kerusakan berarti”, kata Adhi Kamera tersebut dipasang dan terus dimonitor oleh tim survey yang terdiri dari Jagawana Taman Nasional Ujung Kulon, staff biologi WWF-Indonesia, serta masyarakat lokal.
###
Download PDF: Rilis Media Versi Bahasa Indonesia
Untuk Informasi Lebih Lanjut:
- Agus Priambudi, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, m +6281341301701, email a_priambudi@yahoo.co.id
- Adhi Rahmat Hariyadi, Site Manager of WWF-Indonesia in Ujung Kulon National Park, m +62 818134178, email: AHariyadi@wwf.or.id
Catatan Untuk Editor:
- Klip rekaman video badak Jawa serta, photo-photo terkait dapat didownload di WWF Press Room di https://intranet.panda.org/documents/folder.cfm?uFolderID=61441 . Loginnya adalah : intranet@wwfint.org dan passwordnya adalah: dropbox Untuk kualitas gambar yang paling baik, Anda dapat memilih file MPG yang paling besar (kemungkinan memerlukan waktu relative lebih lama untuk mendownload), sedangkan untuk melihat gambarnya saja, Anda dapat memilih versi Flash yang filenya lebih kecil.
- Diantara lima spesies badak yang ada di dunia, Badak Jawa merupakan spesies yang paling langka dan dikategorikan sebagai “critically endangered” atau “sangat terancam” dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Red List of Threatened Species).
- Video camera trap yang berhasil mendokumentasikan rekaman badak Jawa ini merupakan kreasi dari Pic Controller Inc yang membuat kamera dengan spesifikasi khusus sehingga tahan bekerja di hutan yang gelap dan lembab.