ANGGOTA TIM SURVEI WWF BERTEMU DENGAN HARIMAU DI TESSO NILO
Dua tahun yang lalu untuk pertama kalinya anggota Tim Riset Harimau- WWF bertemu langsung dengan seekor harimau Sumatera di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Sejak itu, anggota tim tidak pernah lagi mengalami pengalaman yang menegangkan tersebut hingga akhir April lalu. Pada 26 April, 2008 lalu Tim Riset Harimau ditugaskan ke beberapa tempat di kawasan hutan Tesso Nilo untuk melakukan survei okupansi harimau. Satu tim yang terdiri dari Kusdianto, Egy dan Gebok, seorang penunjuk jalan lokal ditugaskan kearah konsesi Nanjak Makmur di kawasan usulan Taman Nasional.
Tim survei harimau sumatera sedang melakukan pengecekan terhadap peralatan kamera penjebak di hutan sebagai rutinitas mereka. Photo: Kusdianto/ WWF-Indonesia, Tesso Nilo Program
Setelah lokasi akses terakhir, Kusdianto, Egy dan Gebok melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri pinggiran kawasan hutan yang telah dibuka. Setelah berjalan hampir satu kilometer, tim sampai pada perkebunan karet muda yang dikelilingi oleh belukar. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai pada perbatasan perkebunan akasia dan konsesi Nanjak Makmur di kawasan usulan perluasan taman nasional. Berhubung sudah sore, mereka memutuskan untuk bermalam di daerah tersebut. Egy dan Gebok kemudian pergi mencari air di daerah sekitar untuk perbekalan mereka malam itu, sementara Kusdianto tinggal sendiri di daerah tersebut.
Pohon akasia yang digunakan Kusdianto untuk meyelamatkan diri guna menghidari serangan langsung seekor harimau liar. Photo: Kusdianto/ WWF-Indonesia, Tesso Nilo Program
Setelah beristirahat beberapa saat, Kusdianto mulai mendirikan tenda sendiri sambil menunggu dua orang temannya. Selesai dengan pekerjaannya, Kusdianto kemudian duduk di bawah sebuah pohon akasia di sekitar tenda tersebut. Tidak lama berselang, tiba-tiba ia melihat seekor harimau melintas, hanya sekitar 20 meter dari nya. Kusdianto terdiam ketika menyadari bahwa yang dilihatnya adalah seekor harimau. Dia tidak berani bergerak sedikitpun. Untunglah, harimau tersebut tidak melihat dirinya karena ia berjalan ke arah yang berlawanan dari tempat Kusdianto duduk. Walaupun Kusdianto hanya melihat bagian belakang harimau tersebut, tapi ia yakin dengan penglihatannya bahwa harimau tersebut cukup besar dan berjenis kelamin jantan. Dia melihat harimau tersebut menuju area hijau (green belt) yang ada di sekitar perkebunan akasia tersebut. Ketika harimau tersebut telah meninggalkannya, Kusdianto begitu ketakutan dan buru-buru memanjat pohon akasia. Kemudian ia menyadari bahwa harimau tersebut menuju arah dimana dua temannya tengah mencari sumber air. Kusdianto kemudian berteriak dari atas pohon akasia supaya temannya berhati-hati; itulah yang dia anggap dapat dilakukannya untuk membantu temannya.
Kusdianto (tampak depan) bersama rekan kerja dalam satu tim berada di hutan dengan peralatan lapangan mereka. Photo: Kusdianto/ WWF-Indonesia, Tesso Nilo Program
Kusdianto duduk di ranting pohon akasia tersebut sekitar lima belas menit hingga akhirnya temannya kembali. “ saya tidak dapat membayangkan saya dapat bertahan beberapa menit di pohon akasia yang kecil itu,” kenang Kusdianto. “Saya pasti ketakutan sekali dan memanjat pohon akasia itu lah yang terpikir” ia menambahkan. Melihat Kusdianto di atas pohon tersebut, kedua orang temannya tertawa dan bertanya mengapa dia melakukan itu. Kusdianto kemudian turun dan menceritakan apa yang dialaminya kepada temannya. Bersama-sama mereka mencari jejak harimau tersebut di daerah sekitar agar dapat mendokumentasikan kejadian ini namun tanah di sekitar daerah tersebut terlalu kering sehingga tidak satu pun jejak harimau terlihat.Mereka kemudian mencari ranting-ranting untuk membuat api guna melindungi tenda mereka malam itu. Untunglah tidak ada kejadian apa-apa malam itu. Pagi harinya mereka kembali melanjutkan kegiatan survei mereka. Sepanjang survei mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan harimau tetapi mereka menemukan banyak tanda-tanda satwa dilindungi seperti beruang, tapir dan beberapa satwa mangsa harimau .
Pada hari ke tiga belas tepatnya tanggal 3 Mei, tim kembali mendekati daerah dimana Kusdianto sebelumnya bertemu dengan harimau; jaraknya sekitar dua kilometer. Disini mereka bertemu dengan enam orang penebang liar. Berdasarkan informasi dari mereka, salah seorang dari mereka bertemu dengan seekor harimau sehari sebelumnya di sekitar perkebunan akasia. Para penebang liar tersebut begitu ketakuan saat itu. Menurut mereka lagi harimau tersebut sepertinya tidak terganggu dengan aktifitas manusia di sekitar.
Survei kali ini begitu spesial bagi Kusidanto dan ini menjadi pengalaman tak terlupakan karena bertemu langsung dengan si Raja Rimba.