ANA DAN DWI TERPANTAU SATELIT
Oleh Aulia Rahman
Jakarta, 4 Desember 2008 - Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang diberi nama Ana terpantau satelit di sebelah selatan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Ana tampaknya mengarah ke selatan menuju benua Australia setelah terpantau selama 7 hari sejak pemasangan penjejak satelit pada kerapas (cangkang). Pemasangan penjejak satelit telah berlangsung pada tanggal 26 November 2008 di pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.
Semenjak pemasangan penjejak satelit, penyu betina tersebut telah menempuh jarak jelajah sejauh 369 kilometer di sekitar garis pantai Jawa Timur kemudian Bali dan menyeberang ke arah selatan di sekitar pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Pemasangan penjejak satelit sendiri bertujuan untuk mempelajari kehidupan penyu dan peran mereka sebagai bagian dari ekosistem lautan. Dari pemantauan satelit dapat diketahui bagaimana pola migrasi, tempat bertelur, tempat makan, serta gangguan bagi penyu.
Kegiatan pemantauan oleh satelit, pembinaan komunitas, sosialisasi penggunaan pancing lingkar oleh nelayan, merupakan sebagian dari usaha konservasi penyu yang telah dilakukan WWF sejak dulu. Beberapa identifikasi ancaman bagi usaha konservasi ini adalah kegiatan pencurian telur penyu, konsumsi daging penyu (poaching), polusi laut, serta tangkapan sampingan (by-catch) oleh nelayan tuna rawai panjang (long line).
Selain Ana, penyu lain yang dipasangkan penjejak satelit adalah jenis penyu Sisik Semu atau penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di pantai Ngagelan, Taman Nasional Alas Purwo, Jawa Timur. Dwi, nama yang diberikan kepada penyu Lekang tersebut, selama kurang dari seminggu setelah pemasangan penjejak satelit hanya berputar di sekitar pantai Ngagelan. Hal ini kemungkinan karena Dwi masih dalam masa bertelur, sehingga masih akan berputar-putar sampai waktu untuk mendarat kembali ke pantai yang sama untuk bertelur.
Rangkaian pemasangan penjejak satelit pada penyu-penyu tersebut termasuk dalam rangkaian pelatihan konservasi penyu oleh WWF dan Universitas Udayana. Sebanyak 25 peserta dari seluruh daerah konservasi penyu yang ada di Indonesia seperti Aceh, Jawa Barat, Bali, Jawa Timur, Wakatobi, dan Kalimantan Barat mengikuti pelatihan tersebut. Diharapkan dari pelatihan ini adanya keberlanjutan dan pertukaran informasi dari masing-masing pengelola konservasi karena masing-masing daerah pengelolaan akan menghadapi jenis penyu yang spesifik dan tantangan yang berbeda.
Pelaksanaan pemasangan satelit pada penyu Hijau dan penyu Lekang merupakan rangkaian kegiatan pemantauan oleh WWF serta Universitas Udayana Bali. Kerjasama tersebut juga menyasar Universitas Udayana sebagai acuan akademis dan keilmuwan untuk persoalan penyu di Indonesia.
Pengenalan jenis-jenis penyu, identifikasi jenis kelamin, identifikasi DNA, manajemen konservasi, pemasangan satelit, dan patroli daerah peteluran penyu adalah beberapa materi yang diberikan selama 10 hari rangkaian pelatihan.
Memeti - jejak penyu yang tidak jadi bertelur © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Penghitungan jumlah telur penyu di lapangan © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Perbandingan telur dengan tangan manusia © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Ana sedang menuju Samudra Indonesia © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Tukik (Anak Penyu) yang baru menetas di lokasi penetasan © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Tukik berlarian menuju garis cakrawala (proses imprinting) © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Si Dwi, Penyu Lekang, sedang ditimbang © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Pemasangan penjejak satelit pada Dwi © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Penyamaran lokasi peteluran dari predator © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Petugas Taman Nasional mengamankan telur dari pencurian © Aulia RAHMAN / WWF-Indonesia
Jalur penjelajahan Si Ana selama seminggu semenjak pemasangan penjejak satelit. Image from www.seaturtle.org/tracking