WWF-INDONESIA DORONG POLA MAKAN SEHAT DAN BERKELANJUTAN LEWAT DIALOG BERSAMA CSO
“You are what you eat.” Sebuah ungkapan yang kerap kita dengar untuk menggambarkan bagaimana makanan yang kita konsumsi menentukan kondisi tubuh dan kesehatan kita. Selama ini, kalimat tersebut sering dikaitkan dengan dampak makanan terhadap tubuh manusia. Namun, tahukah kamu bahwa apa yang kita makan juga memiliki dampak besar terhadap alam dan lingkungan?
Berdasarkan Living Planet Report WWF berjudul “A System in Peril”, sistem dan produksi pangan global saat ini menjadi salah satu pendorong utama krisis iklim. Sistem pangan berkontribusi terhadap penurunan keanekaragaman hayati, degradasi lingkungan, serta menurunnya kualitas sumber daya air. Laporan WWF lainnya, “Bending the Curve: The Restorative Power of Planet-Based Diets”, menegaskan bahwa pola konsumsi masyarakat merupakan salah satu faktor terbesar pembentuk dampak lingkungan, mulai dari emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan dan air, hingga meningkatnya risiko kepunahan spesies.
Menanggapi tantangan tersebut, WWF-Indonesia mendorong pengarusutamaan konsep pola makan sehat dan berkelanjutan atau yang dikenal sebagai sustainable diets. Pola makan berkelanjutan, sebagaimana didefinisikan oleh FAO (2019), adalah pola konsumsi pangan yang mampu mencapai hasil kesehatan dan gizi yang optimal, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi dampak lingkungan, serta dapat diterima secara ekonomi dan budaya.
Sebagai bagian dari upaya lanjutan, WWF-Indonesia menyelenggarakan diskusi pada 10 Desember 2025 di Tulum Cafe, Jakarta bersama para Organisasi Masyarakat Sipil (CSO) yang memiliki peran strategis dalam mendukung penerapan pola makan sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Diskusi ini turut dihadiri oleh Organisasi Masyarakat Sipil (CSO), yaitu Aliansi Organis Indonesia, ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil), CIFOR–ICRAF, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Foodagogik, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Indonesian Gastronomy Community, KSPL–WRI Indonesia, Nusa Gastronomy, OMPL, serta Yayasan Humanis.

Kegiatan diskusi diawali dengan paparan dari Rizka Nurul Annisa, Business Engagement Officer WWF-Indonesia, yang memperkenalkan konsep Planet-Based Diets yang diinisiasi oleh WWF. Konsep ini menekankan pola makan yang memperhatikan keseimbangan antara kesehatan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Ia juga membahas bagaimana peran Ritel modern yang dipandang sebagai salah satu aktor kunci karena perannya dalam memengaruhi ketersediaan produk dan pola permintaan konsumen.
Paparan selanjutnya disampaikan oleh Ibnu Budiman, Environment Manager GAIN Indonesia, yang membahas keterkaitan antara isu lingkungan dan gizi di Indonesia. Ia juga membagikan pengalaman implementasi dalam mendorong konsumsi tempe koro sebagai alternatif sumber protein yang lebih ramah lingkungan.
Perspektif tambahan disampaikan oleh Hosiana Simamora, Knowledge Officer dari Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), yang mengulas tantangan transformasi sistem pangan di Indonesia. Dalam paparannya, ia menyoroti berbagai permasalahan yang masih dihadapi, seperti tingginya biaya logistik, rantai pasok yang panjang dan sulit ditelusuri, serta rendahnya akses masyarakat terhadap pangan yang sehat dan bergizi.
Setelah rangkaian paparan, diskusi dilanjutkan dengan pembahasan tiga poin utama, yaitu pengarusutamaan pola makan sehat dan berkelanjutan, pentingnya peran regulasi dan kebijakan dalam mendorong penerapan konsep tersebut, serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak krisis lingkungan melalui perubahan pola makan.
Diskusi ini menyelaraskan bahwa perubahan pola makan perlu disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk budaya konsumsi, ketersediaan komoditas, dan keragaman pangan Indonesia. Pangan lokal, khususnya sumber protein nabati, memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mengurangi emisi dari rantai distribusi pangan. Mengingat pola makan masyarakat sangat dipengaruhi oleh ketersediaan, aksesibilitas, dan promosi pangan, peran kolaborasi multipihak antara organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan sektor swasta seperti ritel modern menjadi penting dalam mendorong penerapan pola makan sehat dan berkelanjutan yang relevan dengan konteks nasional.
Pola makan sehat dan berkelanjutan merupakan isu yang kompleks dan menuntut perubahan hubungan antaraktor dalam sistem pangan. Meskipun kesadaran konsumen mulai meningkat, tantangan utama masih terletak pada implementasi kebijakan yang cenderung bersifat top-down serta minimnya keterhubungan intuitif antara isu pangan dan lingkungan. Oleh karena itu, strategi pengarusutamaan perlu disesuaikan dengan karakter audiens, misalnya dengan mengangkat isu lingkungan bagi generasi muda perkotaan atau memposisikan pangan lokal sebagai pilihan yang menarik dan relevan. Konsep “Isi Piringku” yang juga sudah didorong Kementerian Kesehatan juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam panduan diet nasional.
Diskusi ini menjadi langkah awal yang penting bagi WWF-Indonesia untuk terus memperkuat kolaborasi multipihak dalam mendorong penerapan pola makan sehat dan berkelanjutan, baik melalui peningkatan akses pengetahuan maupun implementasi nyata yang selaras dengan konteks lokal dan kebutuhan masyarakat Indonesia.