WWF-INDONESIA DAN PT PLN (PERSERO) TERUS PERKUAT INTEGRASI ASPEK ALAM DALAM TATA KELOLA BISNIS MELALUI PELATIHAN TNFD
Dalam upaya memperkuat integrasi aspek alam dalam pengelolaan bisnis, WWF-Indonesia dan PT PLN (Persero) menyelenggarakan Lokakarya Bisnis dan Alam melalui Pendekatan LEAP TNFD pada 26–28 November 2025. Rangkaian kegiatan ini memadukan sesi kelas intensif di Kantor Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT), Bandung, Jawa Barat dengan kunjungan lapangan ke proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan Pumped Storage.

Rangkaian lokakarya ini menjadi langkah lanjutan PLN setelah sebelumnya menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang mengadopsi dan memublikasikan laporan Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) pada Desember 2024, disusul laporan kedua pada pertengahan 2025. Inisiatif ini menandai bahwa PLN berupaya menerjemahkan komitmen tingkat korporat menjadi tindakan nyata yang dapat diterapkan di level operasional. Seiring pergeseran fokus dari pernyataan komitmen ke implementasi nyata, lokakarya ini menjadi kegiatan penting untuk menyelaraskan praktik unit dengan ambisi PLN menuju tata kelola yang lebih nature-positive.
Selama sesi kelas, peserta mendalami kerangka Locate, Evaluate, Assess, Prepare (LEAP), rangkaian pendekatan dalam penerapan TNFD yang dapat diadopsi oleh perusahaan dan sudah mulai diimplementasikan secara bertahap di tingkat global. Melalui dampingan WWF-Indonesia, para peserta membahas bagaimana aktivitas bisnis bergantung pada ekosistem alam, berdampak pada lingkungan, dan bagaimana interaksi tersebut berubah baik menjadi risiko maupun peluang. Para peserta juga belajar mengintegrasikan data unit ke dalam strategi alam perusahaan melalui analisis dokumen internal dan penggunaan beragam tools global yang dibawa oleh WWF, termasuk WWF Risk Filter Suite. Rangkaian ini kemudian menghasilkan pemahaman LEAP di tingkat unit sebagai langkah awal yang penting dalam mengidentifikasi serta mengelola Dependency, Impacts, Risks, and Opportunities (DIROs) secara lebih sistematis dan berbasis sains sehingga diharapkan dapat diterapkan secara menyeluruh dalam ekosistem PLN.
Proses pembelajaran semakin dalam ketika peserta diajak untuk terjun langsung ke lapangan untuk mengunjungi lokasi proyek PLTA Upper Cisokan Pumped Storage. Peserta diajak meninjau sejumlah titik prioritas Biodiversity Important Area (BIA) wilayah yang dianggap memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati. Di BIA 1, terowongan trenggiling, peserta memahami struktur mitigasi yang dirancang untuk menjaga konektivitas habitat trenggiling dan satwa darat lainnya. Di BIA 4, area reforestasi, peserta melihat lebih dalam upaya rehabilitasi lahan terdegradasi yang bertujuan memulihkan fungsi jasa ekosistem baik dalam jangka pendek maupun panjang. Sementara itu, di BIA 5, jembatan monyet, sebuah jembatan kanopi sederhana memperlihatkan bagaimana desain yang peka terhadap keanekaragaman hayati dapat meminimalkan fragmentasi habitat di sekitar infrastruktur energi terbarukan. Kunjungan ini memberi ilustrasi nyata tentang bagaimana ketergantungan dan dampak terhadap alam perlu diimplementasikan secara langsung di lapangan.
Lokakarya ini membuka cara pandang yang lebih utuh mengenai keterhubungan antara infrastruktur, ekosistem, dan keanekaragaman hayati lokal. Kolaborasi dengan PLN memberikan contoh konkret bagaimana integrasi aspek alam dapat dilakukan secara sistematis di sektor energi.
WWF-Indonesia melihat lokakarya ini sebagai langkah penting untuk memperluas penerapan kerangka TNFD dan pendekatan LEAP ke lebih banyak perusahaan lainnya. Upaya ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak pihak untuk memahami bahwa tujuan TNFD bukan sekadar pelaporan, melainkan juga untuk memastikan bahwa keputusan bisnis mempertimbangkan ketergantungan dan dampak terhadap alam secara menyeluruh sehingga risiko dapat dikelola lebih baik dan peluang menuju nature-positive dapat dioptimalkan.